23, October, 2021

Polisi Smackdown Mahasiswa, Rocky Gerung Sebut Jokowi Buta Huruf Hingga Planga-Plongo

JAKARTA- Pengamat politik, Rocky Gerung merespon peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh oknum kepolisian terhadap salah satu mahasiswa hingga mengalami kejang-kejang saat aksi unjuk rasa di Kantor Bupati Tangerang, pada Rabu (13/10/2021) kemarin.

Rocky Gerung menilai, apa yang dilakukan oknum polisi terhadap mahasiswa itu, menunjukkan ketidak mampuan Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk mengarahkan bangsa ini menuju peradaban demokrasi yang autentik.

Pakar filsafat ini lantas menyinggung label jenius yang diberikan oleh profesor Singapura kepada Jokowi.

“Kejeniusan Presiden bukan pada dirinya, kejeniusan presiden adalah agregat dari kemampuan dia untuk menghasilkan demokrasi, kemakmuran dan keadilan,” ujar Rocky Gerung dikutip kanal YouTube, Rocky Gerung Official dengan judul MAHASISWA DIB4NT1NG P0LISI, LANGSUNG BATALKAN KEJENIUSAN J0KOWI, Kamis (14/10/2021).

Rocky mengatakan, mahasiswa yang dibanting oleh oknum polisi, menunjukkan bahwa Jokowi dalam menerapkan Pancasila sila ke-2.

“Jokowi gagal untuk menyatakan bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab harus mendahului kekerasan kepolisian,” ujar Rocky Gerung.

Dosen ilmu Filsafat ini menilai, meskipun aparat kepolisian dibekali dengan sejumlah alat kekerasan. Tetapi mereka tidak dibolehkan menggunakan kekerasan untuk mengadang masyarakat atau mahasiswa. Sebab demokrasi tidak menghendaki kekerasan.

“Walaupun kepolisian dibekali oleh alat kekerasan, tetapi demokrasi tidak menghendaki menggunakan alat kekerasan. Nah itu yang disebut dengan kejeniusan Jokowi? Jokowi buta huruf terhadap itu,” celetuk Rocky Gerung.

Dia menambahkan bahwa Jokowi seharusnya tampil depan publik merespon peristiwa itu. Sebab peristiwa itu sudah tersebar bahkan di luar negeri.

“Kalau dia jenius mestinya 20 menit setelah berita beredar, dia tampil di publik dan kasih semacam teguran, bahwa ‘saya pemimpin Indonesia tidak menghendaki ada kekerasan di jalan. Karena itu bertentangan dengan kejeniusan saya,” ujar Rocky Gerung.

“Kalau sampai lewat 20 menit dia masih diam doang, artinya planga-plongonya yang keluar tuh. Seorang jenius tidak planga-plongo terhadap fakta di lapangan yang sekarang jadi pembicaraan dunia,” ujar Rocky Gerung.

“Saya dapat berita itu justru dari teman-teman di Amerika yang mempertanyakan kenapa ada kekerasan semacam itu. Padahal ini era yang kita harapkan bahwa di hujung kepemimpjnan Pak Jokowi ada semacam peradaban politik demokrasi,” pungkas Rocky Gerung. (dal/fin)

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer