News . 11/10/2021, 16:50 WIB
JAKARTA - Sektor pertanian yang mulai ditinggalkan seiring kemajuan sektor industri, ternyata justru memberikan andil pertumbuhan yang luar biasa. Sektor ini berhasil tumbuh signifikan, ditengah sektor-sektor lain yang harus "Tiarap" akibat pandemi covid-19. Bahkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian juga berkontribusi sebesar 14,27 persen terhadap PDB nasional. Capaian tersebut merupakan kontribusi terbesar kedua setelah sektor pengolahan, yaitu sebesar 19,29 persen.
Meski demikian yang menjadi kekhawatiran, merujuk data BPS, lebih dari 72 persen usia petani Indonesia saat ini rerata berusia diatas 45 tahun dan hanya 28 persen saja usia petani yang dibawah 45 tahun (usia produktif). Diperlukan terobosan untuk mendorong agar anak-anak muda mau terjun ke sektor pertanian.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi, saat ditemui Fajar Indonesia Network (FIN) secara khusus di ruang kerjanya, Senin (11/10/2021) mengatakan, ada dua hal yang menjadi perhatian Kementan agar anak-anak milenial mau terjun ke sektor pertanian, yaitu soal income atau pendapatan dan kedua adalah trust (kepercayaan).
"Presiden (Joko Widodo) berkali-kali menanyakan kepada saya, apa yang bisa membuat generasi muda ini tertarik. Nah tentu generasi muda ini tertarik (untuk bertani), pertama soal income, kedua soal trust," demikian disampaikan Wamentan Harvick.
BACA JUGA: Temui Pedemo Tolak Food Estate, Wamentan Tegaskan Tetap Dipihak Petani
Terkait Income, Wamentan Harvick menjelaskan bahwa anak-anak muda tidak akan tertarik terjun ke pertanian, jika sektor ini tidak menguntungkan. "Karena tanpa adanya income yang memadai, tentu anak muda sekarang gak akan mungkin (mau menjadi petani). Sementara profesi petani itu saat ini masih dianggap sebagai profesi yang paling rendah," tuturnya.
[caption id="attachment_564439" align="alignnone" width="668"]
Wawancara khusus FIN dengan Wakil Menteri Pertanian, Harvick Hasnul Qolbi (Isaak Ramdhani/FIN)[/caption]
Maka itu, kata Wamentan Harvick, seiring dengan berkembangnya teknologi pertanian dan pengolahan hasil pangan, maka anak-anak milenial tersebut didorong untuk menciptakan nilai tambah produk hasil pertanian melalui hilirisasi produk.
"Katakanlah di Kabupaten Sambas (Kalimantan Barat) sudah terbentuk (usaha perkebunan) dengan (lahan) sawit sekian ribu hektar, itu swasta semua, plasma-nya juga sedikit. Ini seumur-umur (hasil jadi) hanya sampai produk CPO (Crude Palm Oil) saja. Jadi 3 generasi itu hebat sebagai buruh perkebunan CPO. Di Kabupaten sebelahnya, Landak (Kabupaten Landak) di Kalbar, itu fabrikasi sampai dengan produk meja (Hilirisasi), seperti minyak goreng dan lainnya. Kenapa tidak dibuat sampai ke pengolahannya, tentu ini akan ada nilai tambah ke income tadi," jelas Wamentan Harvick.
BACA JUGA: Dorong Regenerasi Petani, Wamentan Siapkan Jurus Jitu
Kemudian terkait trust atau kepercayaan, Pemerintah melalui regulasi-regulasi yang ada, kata Wamantan Harvick, harus mampu menjamin ketersediaan bibit, pupuk, alat sistem pertanian (Alsintan) dan lainnya sesuai kebutuhan pertanian.
"Harus ada keterbukaan disana, dan alhamdulillah Kementerian Pertanian sekarang dengan kita mempunyai AWR (Agriculture War Room/pusat data dan kontrol pembangunan pertanian) itu bisa di update terus dari hari-ke hari sudah bisa diketahui sudah sampai dimana pertanian kita," pungkasnya.
Perlu diketahui, tren pertumbuhan sektor pertanian memang tergolong anomali di masa pandemi ini. Berdasarkan data year-on-year (y-on-y), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II Tahun 2020 terkoreksi sangat dalam sebesar 5,32 persen. Hampir semua sektor pun menurun, namun sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap bisa tumbuh 2,20 persen saat itu.
Konsistensi pertumbuhan positif memang terlihat tidak hanya dari capaian triwulan II. Tercatat pada triwulan III dan triwulan IV tahun lalu, sektor pertanian mencatat pertumbuhan masing-masing sebesar 2,16 persen dan 22,59 persen. Sementara pada triwulan III 2021, pertumbuhan sektor pertanian mencapai 3,33 persen.
Konsistensi pertumbuhan sektor pertanian tak dapat dilepaskan dari kinerja sektor ekspornya. BPS menyebutkan, ekspor pertanian pada triwulan II 2021 mencapai USD906,7 Juta, meningkat 13,24 persen dibandingkan triwulan II 2020 yang transaksinya senilai USD800,7 Juta. (git/rh/fin)
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id