Terorisme Juga Musuh Agama
JAKARTA - Aksi terorisme dan radikalisme bukan hanya musuh negara. Akan tetapi aksi tersebut juga merupakan musuh agama. Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. Ahmad Nurwakhid mengatakan radikalisme dan terorisme musuh agama karena tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip dan nilai agama yang luhur. "Penganut radikalisme dan terorisme telah memecah belah umat beragama dan memunculkan islamofobia," katanya dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (10/10). Sedangkan sebagai musuh negara, karena tindakan dan perbuatan maupun ideologi teroris bertentangan dengan kesepakatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Mereka bertentangan dengan konsensus nasional, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD NRI Tahun 45," ujarnya. Diyakininya mayoritas masyarakat Indonesia terutama umat Islam yang moderat selalu mendukung Densus 88 Antiteror dan BNPT, TNI, Polri dan perangkatnya dalam membantu menanggulangi radikalisme dan terorisme. "Kalaupun ada tokoh, oknum pejabat publik maupun politisi menuduh hal tersebut maka tidak berdasar dan tidak realistis," ujarnya. Mantan Kabagops Densus 88 ini menyebut akar masalah radikalisme dan terorisme adalah ideologi keagamaan yang menyimpang. Selain itu, salah satu faktor pemicu munculnya niat atau motif radikalisme adalah politisasi agama atau menggunakan doktrin agama yang dipolitisasi untuk kepentingan politik. "Yang jelas saya tidak sepakat kalau ada yang mengatakan adanya upaya islamofobia di Indonesia," katanya. Menurut Nurwakhid, penetapan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua sebagai teroris bukti bahwa perang melawan terorisme bukan karena islamofobia. "Itu menunjukkan kepedulian negara untuk menghilangkan stigma negatif bahwa seolah-olah terorisme hanya diidentikkan dengan agama Islam saja. Perlu diingat, mayoritas agama kelompok teroris separatis KKB tersebut adalah nonmuslim, bukan Islam," katanya.(gw)