News

Peran Migas Masih penting Untuk Indonesia

    JAKARTA - Peran minyak dan gas bumi (Migas) masih sangat penting bagi Indonesia, meski pemerintah sendiri sudah mulai fokus pada upaya transisi energi dari energi fosil menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) yang lebih ramah lingkungan. Sebagaimana diketahui, transisi energi sendiri merupakan bentuk komitmen Indonesia terhadap Paris Agreement. Targetnya, tahun 2060 Indonesia bisa mencapai zero carbon emission atau tidak lagi menghasilkan karbon dioksida yang berasal dari energi fossil yang terbakar. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, dalam tayangan program Insight Desi Anwar yang tayang di CNN Indonesia TV, dikutip Minggu (10/10/2021). BACA JUGA: Holding – Sub Holding Pertamina Untuk Ketahanan Energi Menurut Nicke, perjalanan Indonesia menuju EBT masih tetap membutuhkan energi fossil, baik itu batubara, minyak bumi maupun gas alam cair (LNG). Hanya saja jumlah energi fossil di dalam bauran energi primer porsinya terus menurun dari tahun ke tahun. "Sekarang (kebutuhan minyak) setiap hari sekitar 1,5 juta barel per day (BOPD) dan nanti di 2040 itu naik menjadi 2,8 (juta barel per hari). Jadi artinya sebetulnya untuk migas ini harus tetap dilakukan (Eksplorasi)," ujar Nicke. Eksplorasi dan eksploitasi migas, kata Nicke, merupakan suatu keniscayaan, tetap harus dilakukan meski dengan pendekatan yang berbeda. "Untuk migas ini tetap harus dilakukan (Eksplorasi dan Eksploitasi), tapi yang berbeda adalah caranya. Cara kita melakukan eksplorasi dan memprosesnya ini harus dilakukan dengan lebih green, tidak meningkatkan carbon emission," jelasnya. Nicke mengatakan, Indonesia tak hanya memiliki target bauran energi EBT 23 persen di 2025 saja, melainkan juga target yang lebih besar yaitu tahun 2060 sudah tidak ada lagi penggunaan energi fosil agar tercapai zero carbon emission. "Jika pemerintah targetnya 2060, maka BUMN lebih cepat lagi, yaitu 2050 (Tercapai zero carbon emission)," pungkas Nicke. (git/fin)

Berita Terkait