News

Rupiah Mandek Di Rp14.252 Per Dolar AS, Ini Penyebabnya

  JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot pada perdagangan hari ini, Rabu (6/10/2021), ditutup di posisi Rp14.252 per dolar AS atau sama dengan posisi Selasa (5/10/2021) kemarin. Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang menempatkan rupiah di posisi Rp14.245 per dolar AS atau menguat dari Rp14.260 per dolar AS pada Selasa kemarin. Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan dolar AS menguat karena investor beralih ke safe-haven. "Ini karena The Federal Reserve AS akan memulai pengurangan pembelian obligasi pada tahun 2021 dan menaikkan suku bunga pada tahun 2022. Laporan pekerjaan AS, termasuk penggajian non-pertanian, akan dirilis pada hari Jumat dan dipandang sebagai indikator kapan waktu yang tepat untuk The Fed memulai tapering," kata Ibrahim dalam keterangan hasil risetnya, Rabu sore. BACA JUGA: September 2021, Jasa Marga Catat Peningkatan Volume Lalu Lintas 17,4 Persen Investor dengan cemas menantikan data non-farm payroll pada Jumat mendatang (8/10/2021) untuk sinyal lanjutan mengenai langkah The Fed selanjutnya. Data ISM pada aktivitas sektor jasa AS lebih baik dari yang diperkirakan pada hari Selasa, sehingga kemungkinan menjaga The Fed tetap di jalur untuk mengumumkan pengurangan laju pembelian obligasi. Dari dalam negeri, pemerintah optimis akan ada kenaikan penerimaan pajak dari kelompok orang kaya setelah tarif Pajak Penghasilan (PPh) baru bagi Orang Pribadi (OP) dengan penghasilan di atas Rp5 miliar sebesar 35 persen dapat meningkatkan penerimaan negara. Ini menjadi sentimen positif yang memperkuat kurs rupiah. "Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan jumlah wajib pajak dengan penghasilan diatas Rp5 miliar sesungguhnya hanya kurang dari 0,1 persen dari total wajib pajak. Namun potensi pajak yang bisa disumbangkan bisa mencapai belasan triliun rupiah," ujar Ibrahim. Rencana pemerintah mengenakan PPh sebesar 35 persen bagi OP dengan penghasilan di atas Rp 5 Miliar setahun, menurut Ibrahim diapresiasi pelaku pasar. Menurutnya, langkah ini merupakan sinyal untuk membuat sistem pajak yang lebih adil dan selaras dengan prinsip ability to pay. "Langkah ini juga sesuai dengan rekomendasi lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia (WB) untuk mendorong kontribusi orang kaya dalam pemajakan pasca pandemi," kata Ibrahim. Sedangkan untuk perdagangan besok, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah kemungkinan  dibuka  berfluktuatif, namun  ditutup menguat  di rentang   Rp14.240 - Rp14.270 per dolar AS. (git/fin)  

Berita Terkait