News

Daerahnya Masuk Kategori Miskin Ekstrem, Ini Respon Dinsos Pemalang

PEMALANG - Salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang mengalami kemiskinan secara ekstrim adalah Kabupaten Pemalang. Selain Pemalang ada Kebumen, Banyumas, Banjarnegara, dan Brebes. Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos KBPP) Pemalang Slamet Masduki menyatakan, masalah kemiskinan banyak faktor yang menjadi penyebab dan indikatornya. Pihaknya juga menyampaikan bahwa data kemiskinan bukan Dinsos KBPP saja yang berwenang mengurusi, namun ada dinas atau instansi lain. "Kalau masalah ini (Kemiskinan-red) yang punya kewenangan Bappeda," jelasnya dikutip Radartegal.com, Jumat (1/10). Menurutnya, Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) ada dua versi, sehingga terkait kemiskinan yang ada di Kabupaten Pemalang ia mengatakan mau versi yang mana. Masduki juga belum memberikan keterangan secara lengkap faktor dan indikator apa yang menyebabkan kemiskinan di Kabupaten Pemalang menjadi peringkat 5 besar se Jawa Tengah. Sementara itu berbagai komentar di media sosial facebook menyoroti terkait munculnya statemen orang nomor 2 di Indonesia, yang kemudian 'diiyakan' oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Diantara komentar itu disampaian oleh akun fb Tengkek Bedhonk. Ia berpendapat bahwa terkait Pemalang masuk dalam daftar 5 kabupaten termiskin di Jawa Tengah antara percaya dan juga gak percaya. Nyatanya banyak juga mobil-mobil mewah kayak Alphard, Pajero dn sebagainya dengan plat G berseliweran. "Atau juga mungkin sebagian yang kaya makin kaya, dan yang miskin semakin merajalela kemiskinannya.. Dan entahlah," ucapnya. Lain halnya yang disampaikan, akun dengan nama Ujang Ali Sumantri. Menurut analisanya, ada beberapa indikator, diantaranya banyaknya pemakaian tabung subsidi 3 kg yang notabene hanya untuk masyarakat miskin. banyaknya warga yang antusisa masuk DTKS kementerian Sosial, infrastruktur jalan kota banyak yang rusak dn tidak segera dibenahi. "Indikator lainnya adalah akibat COVID yang berkepanjangan, jadi ruang gerak kerjaan susah didapat," ujarnya.(gw)

Berita Terkait