News

Jangan Panik, The Fed "Taper" But No "Tantrum"

Jangan Panik, The Fed "Taper" But No "Tantrum"

    JAKARTA - Setelah menjadi topik bahasan utama para pelaku pasar selama beberapa bulan, hasil risalah pertemuan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan adanya usulan dari sebagian pejabat Fed untuk memulai tapering atau pengurangan pembelian aset obligasi di akhir tahun 2021. Pidato Gubernur The Fed, Jerome Powell, pada simposium Jackson Hole di akhir bulan Agustus, turut mengkonfirmasi hal tersebut. Selain itu, suku bunga Fed masih akan tetap dipertahankan di level saat ini, walaupun terdapat lonjakan inflasi karena dinilai bersifat sementara. The Fed juga meyakini bahwa pemulihan sektor tenaga kerja telah berlangsung cukup baik, namun belum kembali ke level pra-pandemi. "Ini berakibat, pelaku pasar menilai bahwa pengetatan kebijakan atau tapering tidak akan terjadi secara agresif yang dapat mengakibatkan tantrum atau kepanikan pada pasar," demikian disampaikan oleh Wealth Management Head, Bank OCBC NISP, Juky Mariska, dalam keterangan hasil risetnya, dikutip Selasa (28/9/2021). Sementara itu dari dalam negeri, dengan tingkat vaksinasi pertama yang telah mencapai lebih dari 30 persen populasi, jumlah kasus positif COVID-19 pun berangsur turun pasca lonjakan di bulan Juli lalu. Indikator aktivitas ekonomi atau PMI Manufacturing Index, walaupun masih mengalami kontraksi di angka 43.7, namun angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan Juli yang hanya sebesar 40.1. BACA JUGA: Penguatan Dolar dan Imbal Hasil AS Halangi Kenaikan, Emas Relatif Stabil Selain itu, inflasi bulan Agustus dilaporkan hanya sebesar 0.03 persen m-o-m namun meningkat secara tahunan di 1.59 persen jika dibandingkan bulan Juli yang sebesar 1.52 persen. "Dengan adanya pelonggaran PPKM, akselerasi vaksinasi serta dukungan stimulus pemerintah diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi lebih lanjut untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 2021 di kisaran 3.7 persen hingga 4.5 persen," jelasnya. Ekuitas Secara historis, bulan Agustus seringkali identik dengan bulan yang mana terjadi koreksi di pasar saham. Namun, kali ini di bulan Agustus IHSG tercatat menguat 1.32 persen. Pelonggaran PPKM di tengah menurunnya jumlah kasus harian COVID-19 serta ekspektasi tapering yang lebih bersahabat, turut menjadi sentimen positif bagi pasar saham. Investor asing mencatatkan pembelian bersih di kisaran Rp4 triliun di bulan Agustus. Optimisme pemulihan ekonomi lebih lanjut diharapkan dapat mendorong IHSG untuk kembali bergerak ke kisaran 6,400 hingga 6,700 di akhir tahun. Obligasi Menutup bulan Agustus, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mengalami penurunan ke level 6.07 persen. Keputusan Bank Indonesia untuk memperpanjang kebijakan burden sharing dengan pemerintah menjadi salah satu sentimen yang mendorong penguatan pasar obligasi tanah air. Melalui skema ini, Bank Indonesia akan membeli SBN Pemerintah sebanyak Rp215 Triliun di 2021, dan Rp224 Triliun di 2022. Selain itu, di akhir bulan Agustus, pemerintah pun mengumumkan memangkas pajak obligasi atas kupon dan diskonto yang semula berada di 15 persen menjadi 10 persen. Hal ini dinilai akan menstabilkan pasar obligasi dan menjaga permintaan pada obligasi domestik sehingga imbal hasil obligasi diperkirakan dapat berada di kisaran 5.75 - 6.25 persen hingga akhir tahun. Nilai Tukar Tidak hanya pasar saham dan obligasi yang menguat, Rupiah pun turut menguat 1.07 persen di bulan Agustus dan ditutup di kisaran 14,200. Tapering yang diperkirakan lebih mild mendorong penguatan mata uang Rupiah. Cadangan devisa bulan Agustus meningkat drastis ke USD144.8 miliar, dibandingkan bulan Juli yang sebesar USD137.3 miliar. "Hal ini akan memberikan dukungan pada stabilitas nilai tukar Rupiah. Dengan demikian, Rupiah diperkirakan akan berada di kisaran 14,150 – 14,350 per dolar AS hingga akhir tahun," pungkas Juky. (git/fin)

Berita Terkait