Rupiah Berpotensi Melemah, Ini Penyebabnya
JAKARTA - Data penjualan ritel AS bulan Agustus 2021 yang dirilis tadi malam menunjukkan kenaikan, potensial menekan kurs rupiah terhadap dolar AS hari ini.
Mengutip data Bloomberg, Jumat (17/9/2021) pukul 09.19 WIB, rupiah diperdagangkan pada level Rp14.266 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan 14 poin atau 0,10 persen dibandingkan dengan posisi penutupan pasar spot pada Kamis sore kemarin (16/9/2021) di level Rp14.252 per dolar AS.
Pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra mengatakan dolar AS menguat semalam pasca membaiknya data penjualan ritel AS bulan Agustus yang menunjukan kenaikan, yang dirilis semalam. Data ini mengalami penurunan pada bulan sebelumnya.
BACA JUGA: IHSG Berpeluang Rebound, Berikut Rekomendasi Saham Para Analis
"Hasil yang positif ini akan mendukung ekspektasi pelaksanaan pengetatan moneter AS tahun ini," kata Ariston dalam keterangan tertulis, Jumat (17/9/2021).
Pekan depan The Fed akan mengadakan rapat kebijakan moneter. Pelaku pasar kemungkinan akan mengantisipasi hasil rapat kalau-kalau mengindikasikan kebijakan tapering dilakukan tahun ini.
"Ekspektasi pengetatan moneter akan mendorong penguatan dolar AS karena pengurangan likuiditas dolar AS di pasar," ujar Ariston.
Ariston memprediksi hari ini nilai tukar rupiah berpotensi tertekan terhadap dolar AS dengan sentimen di atas. "Rupiah mungkin bergerak ke arah Rp14.300 per dolar AS dengan potensi support di kisaran Rp14.250 per dolar AS," pungkasnya. (git/fin)