22, October, 2021

Elite Taliban Dikabarkan Terbelah

×

JAKARTA – Setelah sepekan membentuk kabinet pemerintahan baru Afghanistan, para elite Taliban dikabarkan terbelah. Beberapa sumber yang dekat dengan proses perebutan kekuasaan di Afghanistan belakangan ini menyebutkan, ada gesekan antara kubu konservatif dan kubu yang lebih moderat di kepemimpinan Taliban.

“Perselisihan para elite Taliban terjadi di belakang layar. Desas-desus tentang konflik itu dengan cepat mulai beredar,” kata sumber tersebut dilansir Associated Press, Jumat (17/9/2021). 

Beberapa isu dan peristiwa akhir-akhir ini bisa menjadi indikasinya, mulai dari konfrontasi kekerasan baru-baru ini antara kedua kubu di Istana Presiden Afghanistan, hingga klaim yang menyebut pemimpin faksi moderat, Abdul Ghani Baradar, telah terbunuh. 

Desas-desus itu mencapai intensitas sedemikian rupa sehingga rekaman audio dan pernyataan tulisan tangan—konon keduanya dibuat oleh Baradar sendiri—menyangkal bahwa dia telah dibunuh. Kemudian pada Rabu (15/9/2021) kemarin, Baradar muncul dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi nasional negara itu.

“Saya bepergian dari Kabul sehingga tidak memiliki akses ke media untuk membantah berita (kematian saya) ini,” kata Baradar saat ditanya tentang rumor pembunuhannya.

Baradar menjabat sebagai pemimpin juru runding Taliban selama negosiasi antara kelompok itu dan Amerika Serikat. Perundingan itu pula yang akhirnya membuka jalan bagi penarikan pasukan AS dari Afghanistan—yang rampung pada akhir Agustus lalu, atau dua minggu setelah Taliban menyerbu Ibu Kota Kabul.

Tak lama setelah pengambilalihan Kabul, Baradar menjadi pejabat senior Taliban pertama yang menawarkan kemungkinan pembentukan pemerintah yang inklusif, yang akan menampung kepentingan semua kelompok di negara itu. 

Akan tetapi, tawaran Baradar itu dikandaskan oleh keputusan Taliban yang menunjuk semua menteri dari kalangan laki-laki dan dari etnik tertentu saja, pekan lalu.

Sebelum itu, Baradar juga sempat dikabarkan sebagai kandidat kuat presiden yang baru di Afghanistan. Namun, lagi-lagi rumor itu dipatahkan. Dia hanya kebagian jatah wakil perdana menteri. Sementara, Mullah Mohammad Hasan Akhund—sosok yang kurang begitu populer selama ini—diangkat menjadi perdana menteri. 

Terpilihnya Akhund dianggap sebagai tanda lebih lanjut bahwa faksi konservatif yang berhaluan keras di tubuh Taliban telah memenangkan pertarungan internal. Sebagai indikasi lainnya, bendera putih Taliban kini dikibarkan di atas Istana Presiden di Kabul, menggantikan bendera nasional Afghanistan.

Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, membantah adanya keretakan dalam kepemimpinan di kelompok itu. Pada Selasa (14/9/2021) lalu, Menteri Luar Negeri Taliban, Amir Khan Mutaqi, juga membantah laporan semacam itu dan menyebutnya sebagai propaganda pihak luar saja. 

Namun, absennya Baradar dari fungsi-fungsi utama pejabat tinggi pemerintah akhir-akhir ini justru semakin menguatkan isu keterbelahan Taliban itu. Sebaut saja misalnya ketika dia tidak berada di Istana Presiden Afghanistan pada awal pekan ini untuk menerima Wakil Perdana MenteriQatar, Sheikh Mohammad bin Abdur Rahman al-Thani. 

Padahal, kedatangan al-Thani ke Kabul adalah kunjungan luar negeri tingkat tertinggi bagi Afghanistan sejak diambil alih Taliban.  Absennya Baradar saat penyambutan al-Thani—yang juga merangkap menteri luar negeri Qatar jelas sangat mengejutkan. Pasalnya, sudah bertahun-tahun Qatar menjamu Baradar sebagai kepala kantor politik Taliban di Ibu Kota Doha.

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer