18, September, 2021

Terbentuknya Holding Ultra Mikro Berpotensi Lambungkan Saham BBRI Lebih Tinggi

JAKARTA – Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) berpotensi mencapai rekor tertinggi, didorong oleh terbentuknya holding BUMN Ultra Mikro (UMi) yang baru dirilis Senin (13/9/2021) kemarin. 


Sebagaimana diketahui, Bank BRI ditetapkan sebagai pimpinan holding, dan PT Pegadaian (Persero) serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PMN sebagai anggota holding.


Pengamat Pasar Modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, penawaran harga saham baru BBRI Rp3.400 per lembar, tergolong sangat menarik. Terlebih, harga saham BBRI saat ini tergolong stabil di kisaran Rp3.800 hingga Rp4.000 per lembarnya.


“Tentu ini dengan harga seperti itu (Rp3.400), seharusnya sangat menarik. Apalagi kalau dilihat posisi tertinggi BBRI yang pernah dicapai adalah Rp4.950, maka potensi  gain -nya cukup tinggi untuk mencetak rekor lagi,” kata Reza dalam keterangannya, Rabu (15/9/2021).

Pergerakan harga saham BBRI (TradingView)


Menurutnya BRI punya potensi pengembangan kinerja yang sangat besar dengan pembentukan Holding UMi tersebut. Integrasi strategis ini dapat menjadi peluang besar bagi BBRI untuk mendiversifikasi bisnisnya, sehingga penetrasi ke pasar lebih dalam. Pembentukan Holding UMi juga menciptakan ekosistem penyaluran kredit yang kuat sehingga bisa memacu pertumbuhan kinerja yang lebih baik di masa datang.


“Bagaimana pun kinerja historis dan prospeknya ini sangat besar dan lebih pasti. Holding pun akan menambah optimisme investor untuk terus mengapresiasi saham BBRI lebih lanjut. Potensi peningkatan harganya juga sangat tinggi,” kata Reza.

BACA JUGA: Hati-Hati, IPO Perusahaan Setrum Bisa Bikin Harga Listrik Meroket


Optimisme terkait kinerja saham BBRI yang akan kembali mencatatkan rekor harga tertinggi,diungkapkan pula pengamat pasar modal sekaligus Founder Indonesia Superstocks Community, Edhi Pranasidhi. Dia mencatat ada 10 investor besar yang melakukan penjualan saham BBRI puluhan juta lot pada 2020.


Menurutnya, hal itu dilakukan untuk menunggu momentum yang lebih baik guna menyerap kembali BBRI di masa datang. Dia berpendapat penerbitan saham baru guna pembentukan holding adalah momentum yang sangat tepat untuk kembali berinvestasi di BBRI. Proyeksi aksi beli dalam jumlah besar ini pun akan mendorong peningkatan harga BBRI yang cukup signifikan.


“Sepanjang 2020 ada 10  top brokerage houses  melakukan aksi jual. Investor pun harus mewaspadai program  buying  setidaknya dari 5 investor besar tersebut baik pada sebelum maupun setelah penerbitan saham baru Bank BRI,” ungkapnya.

BACA JUGA: Catat! Holding Ultra Mikro Bukan Merger


Edhi berpendapat harga pelaksanaan  rights issue  BRI sebesar Rp3.400 per saham tergolong sangat murah. Bahkan, keuntungan dapat tetap dicetak investor hanya dengan menggunakan hak dan menjualnya pada hari pertama perdagangan setelah aksi korporasi.


“Maka dari itu, memang akan sangat untung jika menggunakan hak. Ini adalah momentum spesial. Emiten yang menerapkan harga jual di bawah harga pasar itu selalu menarik dan menguntungkan,” jelasnya.


Lebih lanjut, Edhi mengatakan investor pun akan mendapat untung lebih besar lagi jika berkomitmen untuk periode yang lebih panjang.

“Menebus HMETD berpotensi memberikan  return  hingga 32 persen pada harga maksimal Rp5.025 atau 2,5 kali harga buku dalam 12 bulan investasi,” pungkasnya. (git/fin)

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer