18, September, 2021

Proyek “Tol Langit” Di Wilayah Indonesia Timur Tertatih-Tatih

JAKARTA – Proyek pembangunan infrastruktur telekomunikasi Palapa Ring, atau yang disebut dengan istilah “Tol Langit“, mengalami banyak hambatan sehingga proyek tersebut berjalan “Tertatih-tatih“. 


Hal itu disampaikan Presiden Direktur PT Mitra Telematika Indonesia (Moratelindo), Galumbang Menak, dalam diskusi virtual BAKTI Kementerian Telekomunikasi dan Informatika (Kominfo) bertajuk “Apa Kabar Tol Langit?”, Selasa (14/9/2021).


Galumbang mengatakan, tantangan terberat dalam proyek Tol Langit khususnya ditemui di wilayah Indonesia Timur. Faktor keamanan serta kondisi geografis menjadi dua hal yang paling menantang dalam perjalanan proyek tersebut.


Sebagai perusahaan yang terlibat dalam pembangunan Palapa Ring ini, Moratelindo terus mengupayakan agar keselamatan pekerja menjadi hal utama dalam pelaksanaan proyek Palapa Ring Timur. Diakui hingga saat ini puluhan korban nyawa berjatuhan baik dari karyawan atau pekerjanya maupun aparat keamanan.

“Pekerjaan Palapa Ring Timur ini paling kompleks dan menantang. Sebab tantangan bukan hanya dari sisi teknologi tapi juga keamanan. Kalau hanya membawa satu pleton saja nggak cukup karena penyerangan bisa terjadi kapan saja dan nyawa taruhannya,” ungkap Galumbang. 


Menurutnya dalam pembangunan Palapa Ring di Barat jauh lebih kondusif. Segala perizinan dan keamanan lebih mudah didapatkan. Sementara di Indonesia bagian Timur sangat sulit didapatkan. 


Selain faktor keamanan kondisi geografis yang sulit juga menghambat akselerasi pembangunan proyek. Kondisi pegunungan yang terjal dan tinggi menyulitkan para pekerja mengangkut peralatan yang dibutuhkan selama proses pengerjaan. Bahkan tak jarang dibutuhkan helikopter untuk bisa mengangkut peralatan dan pekerja untuk bisa mencapai ke titik lokasi proyek.


“Kondisi cuaca yang berubah – ubah setiap hari mengakibatkan proses pengangkutan peralatan dan pekerja tidak berjalan lancar. Ini berimbas pada periode pengerjaan proyek yang kerap mengalami hambatan. Ini yang menyebabkan proyek infrastruktur Palapa Ring Timur baru mencapai sekitar 21 persen dari target periodik yang seharusnya sudah mencapai di atas 30 persen,” ungkapnya. 


“Khusus di wilayah Timur dengan gunung yang ketinggiannya di atas 4.000 kaki itu menyulitkan sekali. Sebab oksigen di sana sangat rendah artinya pekerja tidak bisa kerja 4-5 jam sehari paling mentok hanya 1 jam,” sambungnya.


Dengan kondisi yang demikian berat itu, biaya yang harus dikeluarkan untuk pembangunan Palapa Ring Timur relatif lebih besar. Oleh sebab itu diakuinya bahwa pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia Timur diperlukan dukungan dari berbagai pihak. 

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer