Hidayat Nur Wahid: Perbanyak Bahasa Arab Bukan Teroris, Tapi untuk Kemanusiaan
JAKARTA- Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid mengatakan, bahasa Arab tidak perlu dicap negatif. Sebab kini, bahasa Arab telah menyebar di berbagai bidang.
"Begitulah, bahasa Arab sudah diterima dan menyebar di banyak bidang seperti bisnis dan politik," ujar Hidayat Nur Wahid, dikutip Kamis (9/9/2021).
Dia berujar bahwa di belahan dunia, sejumlah negara-negara juga telah mempelajari bahasa Arab. Bahkan di parlemen Dunia, disediakan penerjemah bahasa Arab.
Untuk itu, dia menilai anggapan yang mengaitkan bahasa Arab dengan teroris adalah adalah anggapan keliru.
"Di tingkat global lembaga-lembaga Internasional juga sediakan penerjemah bahasa Arab. Di PBB, IPU (Persatuan Parlemen Dunia). Memperbanyak bahasa Arab bukan untuk penyebaran terorisme, tapi untuk kemanusiaan," jelasnya.
Hidayat Nur Wahid mengatakan, jika ada pengamat Intelijen mengaitkan bahasa Arab dengan terorisme, maka itu menjadi teror bagi MPR DPR dan DPD. Sebab di sana terdapat banyak bahasa Arab.
"OPM banyak menteror kedaulatan NKRI, padahal mereka tidak memperbanyak bahasa Arab!" ujar Hidayat.
Pengamat intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati menilai saat ini banyak sekolah di Indonesia yang mulai berkiblat ke Taliban yang dia anggap sebagai organisasi radikal.
Dia membeberkan ciri-ciri sekolah dan para gurunya yang mulai berkiblat ke Talib atau ke radikalisme, diantaranya tidak mau hafal nama-nama Partai Politik.
"Mereka tak mau pasang foto presiden dan wapres. Lalu mereka tak mau menghafal menteri-menteri, tak mau menghafal parpol-parpol,” ujar Susaningtyas dilansir di progam Crosscheck yang disiarkan di YouTube yang dikutip FIN Rabu (8/9/2021)
Selain itu, menurut dia, ciri lain dari anak muda yang mulai terpapar radikalisme adalah belajar bahasa Arab.
"Bagaimana saya tak khawatir, anak muda kita sudah tak mau lagi hormat pada bendera RI, tak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lalu diperbanyak bahasa Arab,” ujarnya.
“Bukan berarti Arab itu memiliki konotasi teroris, namun kalau arahnya ke terorisme bahaya. Karena sebenarnya mereka juga ingin berkuasa, ingin punya kekuasaan, tapi mereka ingin berkuasa dengan cara mereka sendiri,” sambung dia. (dal/fin).