-advertisement-
-advertisement-
HomeEkonomiKetersediaan Infrastruktur Jadi Kendala Peningkatan Serapan Gas Domestik

Ketersediaan Infrastruktur Jadi Kendala Peningkatan Serapan Gas Domestik

JAKARTA – Pemerintah tengah berupaya menggenjot konsumsi gas dari dalam negeri, sebelum rencana penghentian ekspor gas direalisasikan pada tahun 2035. Padahal, konsumsi gas di dalam negeri sendiri masih rendah karena ketersediaan infrastruktur gas yang kondisinya masih minim dan belum merata. Belum lagi jika target pemerintah untuk meningkatkan produksi gas menjadi 12 miliar kali kubic pada 2030 tercapai, perluasan pasar tentu harus dilakukan, baik itu pasar ekspor maupun domestik. 


‘Saya kira masih rendahnya serapan salah satunya karena kendala infrastruktur. Antara sumber gas dan penggunanya lokasinya berbeda, sehingga diperlukan infrastruktur distribusi agar dapat diserap. Kemudian untuk ekspor bisa saja diambil opsi tersebut sepanjang domestik sudah terpenuhi,”ujar Direktur ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (3/9/2021). 

BACA JUGA: Mulai 2022, Penjualan Gas Elpiji 3 Kg Bakal Diperketat


Sebelumnya, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha mengatakan jika target produksi 12 miliar kaki kubic gas perhari tersebut mau dicapai, sementara konsumsi gas dalam negeri tidak meningkat maka mencari pembeli gas dari luar negeri tidak bisa dihindari.


“Sulit sekali untuk mengatakan 2035 larangan ekspor jika kita tidak bisa menciptakan pasar di dalam negeri,” kata Satya disela panel diskusi IPA Convex 2021, Kamis (2/9/2021) kemarin. 


Satya mengatakan saat ini pihaknya bersama beberapa Kementerian tengah membahas rencana revisi Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang ditetapkan pada 2017 lalu, karena sudah tidak relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.


“Saat kita membentuk RUEN maka itu berbasis pada asumsi pertumbuhan ekonomi 7-8 persen tanpa mempertimbangkan adanya pandemi dan pertumbuhan ekonomi dan ini berdampak pada ekonomi,” ungkap Satya.


Menurut dia, didalam RUEN tersebut memang diharapkan tidak ada lagi ekspor gas pada 2035. Namun demikian jika pasar gas domestik tidak mampu tumbuh, maka hal tersebut bakal sulit tercapai.


“Ini menjadi isu utama yang sedang didiskusikan DEN dengan tujuh menteri termasuk Bappenas dan Kementerian Keuangan, apa kebijakan yang tepat untuk dilakukan. Kalau suplainya ada di situ dan demand-nya enggak terlalu bagus, ada potensi ekspor gas,” pungkasnya. (git/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-advertisement-
-advertisement-