17, October, 2021

10 Provinsi Ini Sumbang Kasus Kematian Tertinggi

JAKARTA – Sejumlah situasi memicu angka kematian relatif tinggi di 10 provinsi dalam sepekan terakhir. Angkanya mencapai 75 persen dari total kasus kematian COVID-19 secara nasional.

Ke 10 provinsi dengan laju angka kematian nasional tertinggi adalah Jawa Timur (1.214 jiwa), Jawa Barat (922 jiwa), Jawa Tengah (530 jiwa), Bali (329 jiwa), Sumatera Utara (222 jiwa), Kalimantan Timur (213 jiwa), Daerah Istimewa Yogyakarta (206 jiwa), Riau (193 jiwa), Lampung (179 jiwa) dan Kalimantan Selatan (150 jiwa).

“Sembilan dari 10 provinsi tersebut sama-sama menjadi penyumbang tertinggi pada angka kasus aktif, angka kesembuhan dan angka kematian dalam waktu yang bersamaan per Minggu (29/8). Ini artinya, kualitas pelayanan kesehatan di provinsi-provinsi ini sudah ditingkatkan. Namun kematian belum dapat ditekan,” kata Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito melalui kanal YouTube BNPB di Jakarta, Selasa (31/8).

Hal ini dapat terjadi karena penanganan warga yang terkena COVID-19 tidak dilakukan dengan sigap dan cepat. Atau karena masih adanya warga yang melakukan isolasi mandiri.

Selain itu, fokus penanganan COVID-19 di daerah tersebut masih berada di hilir. Yakni pelayanan terhadap pasien dan belum maksimal pada tingkat hulu. “Pencegahan dan pengawasan disiplin protokol kesehatan wajib ditingkatkan,” imbuhnya.

Pengawasan pasien COVID-19 serta pengawasan protokol kesehatan berperan penting dalam perkembangan kasus aktif, sembuh dan meninggal.

“Ini lagi-lagi tidak terlepas dari peran posko atau satgas di tingkat desa atau kelurahan. Posko dan satgas sudah banyak terbentuk di provinsi-provinsi. Namun pelaporan kinerjanya masih terpusat pada kegiatan edukasi dan sosialisasi 3M, kegiatan pembubaran kerumunan, mendata warga yang positif, dan pengawasan protokol kesehatan,” tutur Wiku.

Dia meminta seluruh kepala daerah dari 10 provinsi tersebut memantau pelaksanaan fungsi posko di wilayah kerjanya masing-masing. “Pastikan warga yang terkena COVID-19 memanfaatkan tempat isolasi terpusat dan tidak melakukan isolasi mandiri. Agar kondisinya dapat dipantau serta dapat meminimalkan risiko,” pungkasnya. (rh/fin)

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer