Paku Alam VIII Dinilai Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional
JAKARTA - Banyak literatur yang bercerita tentang sosok Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Tapi tak banyak yang mengungkap tentang ‘partner’ perjuangannya, yaitu Sri Paduka Pakualam VIII.
Padahal dari sejumlah literatur klasik, Pakualam VIII punya peran penting membangun bangsa ini. Bersama Soekarno membangun pondasi awal Republik Indonesia.
"Namun, saya nggak tau kenapa ya kemudian hingga saat ini pemerintah belum juga menjadikannya pahlawan nasional. Saya rasa sudah waktunya Pakualam VIII itu menerima gelar pahlawan nasional, dia adalah bagian integral dalam perjalanan perjuangan bangsa Indonesia. Bukan hanya antara tahun 45 sampai 49 tapi kemudian seterusnya. Jangan sampai kita yang tinggal melanjutkan kemerdekaan ini dianggap lupa diri dan tidak menghargai jasa dan pengorbanan beliau sehingga NKRI masih sanggup berdiri kokoh di bumi pertiwi," kata wartawan senior Teguh Setiawan dalam keterangannya kepada redaksi, Minggu (29/8/2021).
Pria yang akrab disapa Kong Teguh itu mengatakan, banyak hal penting yang diperankan Pakualam VIII. Dan itu bisa dilihat di awal kemerdekaan Indonesia.
"Kita bisa melihat di momen 2 hari setelah proklamasi, setelah Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI. Pakualam VIII kemudian bersama dengan pasangan duetnya dalam berjuang yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengirim telegram ke pemerintah Republik Indonesia yang baru berusia dua hari itu. Momen itulah yang secara jelas dapat menggambarkan bagaimana sikap ke-Indonesiaan duet Sultan Hamengkubuwono dan Pakualam," kata Teguh.
Padahal status Kasultanan dan status Pakualam saat itu adalah, yang dalam masa penjajahan Belanda, disebut sebagai negara berpemerintahan sendiri. Artinya Jogjakarta adalah negara dalam negara.
Namun Sri Paduka Pakualam VIII dengan kerendahan hatinya dibawah arahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan menjadi bagian dari Republik Indonesia. Itu tertera amanat tanggal 5 September 1945.
"Maklumat Pakualam ditulis dengan sangat menarik kalau menurut saya, karena tanggalnya itu menggunakan penanggalan Jawa 28 puasa, di sini ada tulisan Ehe 1876. Itu kalau tidak salah pada hitungan menggunakan penanggalan Jawa. Pada maklumat itu Sri Pakualam, ditegaskan bahwa bagaimana Pakualam sebagai pemegang kekuasaan Negeri Pakualaman menyatakan diri menjadi bagian dari Republik Indonesia," kata Teguh.
Setelah tahun 1950, perjuangannya tidak terhenti hanya saat Belanda menyerahkan kedaulatan dan Republik Indonesia menjadi negara berdaulat. Peran yang diambil Sri Pakualam VIII kemudian adalah di bidang politik, dialah yang kemudian mengorganisir, kemudian menjadi ketua pemilihan umum daerah. Dia terjun langsung menjelaskan kepada masyarakat apa yang dimaksud dengan pemilihan umum dan bagaimana kemudian masyarakat mendukung pemilihan umum itu.
Menurut Teguh, peran Pakualam sangatlah monumental dalam bidang politik. Dia sendiri kemudian sempat menjadi anggota MPRS, dan kemudian pada pemilu berikutnya dia masih melakukan peran yang sangat penting sebagai salah satu penjaga stabilitas politik bangsa.
"Kalau saya melihat Pakualam ini adalah sebuah sosok yang memiliki multiperan. Karena dia sekalipun berada berdampingan dengan Sri Sultan Hamengkubuwono tapi dia tidak pernah menonjolkan kiprahnya. Pakualam tidak merasa tidak tertindih oleh kiprah Sri Sultan Hamengkubuwono. Pakualam tetap pada kemampuan sebagai pemimpin, kemampuannya menghasilkan ide-ide brilian, dan dia senantiasa teguh menjalankan ide-idenya itu," ujarnya.
Kiprahnya dibidang sosial budaya juga tak kalah seru, dia mendirikan yayasan Roro Jonggrang yang bergerak di bidang seni budaya utamanya menyelenggarakan sendratari kolosal setiap bulan purnama di panggung terbuka Candi Prambanan.
Saat Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Presiden Soeharto, Pakualam VIII secara sepenuhnya berperan menjadi kepala daerah istimewa Yogyakarta. Itu dimainkan dengan sangat baik.
Pakualam bahkan merupakan penggagas berdirinya Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (Perpani). Dia tidak larut dalam kehidupan-kehidupan elit dengan olahraga yang mahal, Pakualam tidak menjalankan olah raga yang hanya mencerminkan status sosialnya. Dia tetap tekun dan konsisten menyukai hobi masa kecilnya yaitu panahan.
Banyak peristiwa yang senantiasa diingat oleh masyarakat Jogja menggambarkan betapa perhatiannya pada orang yang sedang berkesusahan. []