News

Rupiah Lagi-Lagi Terkoreksi, The Fed dan Perpanjangan PPKM Masih Jadi Pemberat

Rupiah Lagi-Lagi Terkoreksi, The Fed dan Perpanjangan PPKM Masih Jadi Pemberat

JAKARTA - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.417 per dolar AS, pada perdagangan pasar spot Kamis (26/8) sore. Nilai ini melemah 20 poin atau 0,14 persen dari penutupan perdagangan Rabu (25/8) yang berada di posisi  Rp14.397 per dolar AS. 


Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.423 per dolar AS atau melemah dari Rp14.408 per dolar AS pada akhir perdagangan kemarin. 

Direktur PT TFRX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi menyatakan, penguatan dolar AS terjadi karena investor telah berubah lebih positif pada prospek perekonomian sejak Food and Drug Administration AS sepenuhnya menyetujui vaksin COVID-19 yang dibuat oleh Pfizer dan BioNTech pada hari Senin. Hal ini dipercaya menjadi sebuah langkah yang dapat mempercepat inokulasi AS. 


Persetujuan penuh dari vaksin Moderna dapat menyusul dalam beberapa minggu, dan pada hari Selasa, Dr. Anthony Fauci, pakar penyakit menular AS, mengatakan COVID-19 dapat dikendalikan pada awal tahun depan.


Sementara itu, sinyal bahwa pejabat The Fed melihat penurunan tahun ini karena kemungkinan besar telah membantu mendorong indeks dolar ke level tertinggi 9-1/2 bulan di 93,734, Jumat lalu. Itu sebelum Presiden Fed Dallas Robert Kaplan, di antara pendukung bank sentral AS yang paling kuat untuk mulai mengurangi dukungan untuk ekonomi, mengatakan dia mungkin perlu menyesuaikan pandangan itu jika virus corona memperlambat pertumbuhan ekonomi secara material.

"Beberapa analis masih melihat lebih banyak kenaikan dolar begitu dimulainya pengurangan stimulus mendekati kenyataan, bahkan jika itu tertunda oleh ketidakpastian yang ditimbulkan oleh pandemi," ujar Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (26/8). 


Sementara dari sisi internal, Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 akan mendekati batas atas target, yakni 4,5 persen, apabila pemulihan ekonomi bisa berjalan mulai bulan September hingga akhir tahun 2021, tanpa mengalami disrupsi COVID-19 lagi atau kasus COVID-19 selalu bisa terjaga.

Walaupun pemerintah telah memproyeksi ekonomi pada tahun 2021 memang mengalami koreksi ke rentang 3,7 persen sampai 4,5 persen, karena disrupsi COVID-19 varian Delta, terutama pada triwulan III-2021. Namun, target tersebut tercapai jika masyarakat bisa tetap waspada dengan protokol kesehatan, serta dengan adanya kesiapan fasilitas kesehatan, implementasi "3T" (tracing, testing, and treatment), dan percepatan vaksinasi harus diperkuat. 


"Semakin cepat COVID-19 dikendalikan, maka pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) terutama level 4 tidak akan terlalu lama diterapkan agar ekonomi bisa pulih kembali," tuturnya. 

Sampai saat ini pemerintah masih belum bisa memprediksi kapan COVID-19 akan selesai. Dan sejauh ini pun dari literatur dan penelitian para ahli bahwa pandemi masih belum bisa diprediksi ke depannya. Malah ada kemungkinan besar masyarakat akan hidup berdampingan dengan COVID-19. Maka dari itu pemerintah akan berupaya mencari cara agar virus bisa dikendalikan, meskipun tidak bisa dihilangkan.

Selain itu, Pemerintah terus memantau perkembangan vaksinasi baik di Jawa-Bali maupun di luar di luar Jawa-Bali yang Covid-19 nya masih tinggi dan pemerintah sudah mempersiapkan 200 juta vaksin untuk masyarakat sampai akhir tahun sehingga dengan vaksinasi yang merata diharapkan pembukaan PPKM sesuai dengan program yang sudah ditentukan.

"Saat ini, pemerintah telah menurunkan level PPKM Jabodetabek, Bandung Raya, Surabaya Raya dari level 4 menjadi level 3, seiring kasus COVID-19 yang kian menurun.Ini membuktikan bahwa pemerintah dan masyarakat bahu-membahu bekerja sama untuk menanggulangi bencana covid-19," tuturnya. (git/fin)

Berita Terkait