Duh, Perpanjangan PPKM Jawa-Bali Bikin Rupiah "Menangis"
JAKARTA - Perpanjangan Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 Jawa-Bali hingga 16 Agustus mendatang, memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan mata uang Rupiah.
Kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 14.397. Rupiah melemah 0,13 persen dibandingkan posisi hari sebelumnya. Rupiah juga melemah 0,14 persen ke level Rp 14.380 di pasar spot.
Direktur PT. TFRX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu penyebab rupiah melemah yaitu mata uang Dolar AS yang menguat disebabkan rilis pembukaan pekerjaan bulanan dan survei perputaran tenaga kerja Departemen Tenaga Kerja AS pada hari Senin, yang menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan meningkat sebesar 590.000, menuju ke rekor tertinggi 10,1 juta pada hari terakhir Juni 2021.
"ini mengikuti dari laporan pekerjaan resmi AS hari Jumat, di mana nonfarm payrolls naik 943.000 pada Juli, lebih dari yang diharapkan, sementara angka untuk Mei dan Juni juga direvisi naik," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (10/8).
Kekuatan pasar tenaga kerja ini, kata Ibrahim, telah mendorong pasar untuk menilai kembali kapan Federal Reserve (The Fed) akan mulai mengendalikan program pembelian aset senilai USD120 miliar, yang berpotensi mulai menurun tahun ini dengan suku bunga yang lebih tinggi menyusul segera setelah tahun 2022.
"Pembuat kebijakan Federal Reserve juga mulai memandu pasar menuju penurunan awal. Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic menyatakan Senin bahwa dia mengincar kuartal keempat, jika tidak lebih awal, untuk memulai pengurangan pembelian obligasi, sementara rekannya dari Boston, Eric Rosengren, menyarankan September untuk pengumuman pengurangan USD120 miliar dalam pembelian bulanan obligasi Treasury dan hipotik di musim gugur," ungkapnya.
Risiko peristiwa besar berikutnya untuk pasar valuta asing adalah rilis data inflasi konsumen A.S pada hari Rabu, terutama karena pertanyaan apakah penurunan bertahap dan ditandai dengan baik masih dapat mengganggu pasar aset. Laporan ini telah meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral akan segera mengumumkan pengurangan lagi dalam rasio persyaratan cadangan untuk bank setelah pemotongan mendadak Juli.
Kemudian dari dalam negeri, sesuai prediksi, Pemerintah kembali memperpanjang PPKM Level 4 hingga 16 Agustus 2021, terutama untuk wilayah Jawa dan Bali yang menyumbang 60 persen lebih perekonomian nasional. Walaupun terjadi penurunan kasus harian sebesar 59,6 persen dari puncak kasus di 21 Juli 2021. Sedangkan untuk wilayah di luar Jawa-Bali, beberapa daerah diberlakukan PPKM Level 4 hingga 23 Agustus.
Selain itu, paska pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Kuartal Kedua 2021 sebesar 7,07 persen,ekonomi Indonesia tumbuh cukup melesat dibanding kuartal I-2021 yang minus 0,74 persen. Angka tersebut cukup mengejutkan banyak pihak dan jauh dari perkiraan kebanyakan ekonom dan pelaku keuangan yang saat itu memprediksikan sekitar 3-5 persen.
"Informasi ini kurang di respon pasar, walaupun ekonomi membaik namun sangat rapuh dan bersifat semu, karena angka 7,07 persen diperoleh dari basis Produk Domestik Bruto (PDB) yang anjlok drastis pada tahun lalu yaitu ekonomi hanya tumbuh minus 5,32 persen pada Kuartal Kedua 2020. Dan Ini memberikan basis perhitungan PDB yang rendah," jelasnya.
"Pertumbuhan saat ini diakui memang cukup baik, namun yang perlu digaris bawahi adalah pelonggaran saat itu yang membuat kasus Covid-19 melonjak tajam. Dan yang lebih tidak dimengerti keganjilan dari tingkat konsumsi yang tumbuh lebih tinggi dari biasanya sebesar 5,93 persen. Sedangkan kalau di lihat dari data beberapa tahun terakhir konsumsi biasanya tumbuh sedikit di atas atau di bawah 5 persen," tuturnya.
Dari uraian di atas, selisih antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan konsumsi kali ini cukup besar. Kondisi tersebut dinilai Ibrahim di luar kebiasaan.
"Oleh karena itu, saya masih harus melihat tren ke depan untuk mengetahui apakah hal ini hanya lonjakan sesaat atau awal perubahan yang lebih mendasar. Jika yang terjadi adalah lonjakan sesaat dari komponen pengeluaran yang lain, ini menandakan lebih tingginya tingkat kerapuhan dari pertumbuhan ekonomi. Karena, konsumsi sebagai soko gurunya cenderung menurun di Kuartal Ketiga 2021," pungkasnya. (git/fin)