Iklan
Iklan
News

Ini Penyebab Meningkatnya Kematian di 20 Daerah

JAKARTA - Peningkatan kasus kematian akibat COVID-19 di 20 kabupaten/kota di Pulau Jawa disebabkan pasien yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi berat atau kritis.

"Ada perbedaan dibandingkan dengan yang sebelumnya. Kematian itu terjadi kalau sebelumnya rata-rata itu delapan hari dirawat. Sekarang rata-rata empat sampai delapan hari sudah wafat. sekarang ini lebih cepat," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Senin (2/8).

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, sebanyak 50 persen kasus kematian akibat COVID-19 dilaporkan berasal dari 20 kabupaten/kota di pulau Jawa.

Kasus kematian secara kumulatif pada kurun 19 hingga 25 Juli 2021 dilaporkan mencapai 2.873 kasus. Jumlah ini dari total 616 Puskesmas di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Dulu angka kematian di IGD itu hampir tidak ada. Dulu paling banyak meninggal di ICU atau kamar isolasi. Tapi dalam dalam tiga bulan terakhir di IGD justru kenaikannya meningkat," jelasnya.

Kondisi tersebut terjadi karena pasien yang datang ke ruang IGD sudah dalam kondisi saturasi oksigen yang rendah. Yakni berkisar di bawah 90. "Seharusnya angka saturasi di bawah 94 saja sudah harus dikirim ke rumah sakit," tukasnya.

Karena itu, disimpulkan banyak pasien yang terlambat mendapat intervensi medis. "Kita tanya ke banyak orang. Mereka merasa malu mengakui kalau sakit COVID-19. Jadi mereka lebih baik diam dan dirawat keluarganya saja di rumah," terangnya.

Selama saturasi oksigen pasien terkonfirmasi positif COVID-19 berada di angka 94 persen, maka dianjurkan menjalani isolasi mandiri di rumah. Namun tetap menjaga pola hidup yang sehat.

"Penting untuk mengukur saturasi oksigen. Yang penting jangan sesak napas. Kalau napasnya di bawah 20 kali per menit itu belum sesak. Tapi kalau sudah lebih dari 20 kali itu sudah sesak. Karena itu perlu mendapat perawatan lebih lanjut," pungkasnya. (rh/fin)

Berita Terkait