Penguatan Dolar Imbangi Pelemahan Yield Amerika, Emas Berkilau
JAKARTA - Emas bergerak menguat, Kamis, terimbas koreksi pada pasar saham dan imbal hasil obligasi (Yield) Amerika melemah untuk mengimbangi penguatan dolar dan mengembalikan daya tarik emas sebagai aset safe-haven. Harga emas di pasar spot naik 0,1 persen menjadi USD1.804,45 per ounce pada pukul 24.33 WIB, demikian dikutip dari laporan Reuters, Kamis (22/7) atau Jumat (23/7) dini hari WIB. Emas berjangka Amerika Serikat ditutup menguat 0,1 persenmenjadi USD1.805,40 per ounce. Imbal hasil US Treasury 10-tahun mundur setelah mencapai level tertinggi hampir satu pekan dan saham memangkas kenaikan di awal sesi karena sentimen risiko dibatasi oleh data yang menunjukkan klaim pengangguran Amerika melesat ke level tertinggi dua bulan, menyalurkan beberapa capital inflow menuju emas.
"Suku bunga riil sangat negatif, yang menunjukkan inflasi sedang memanas, dan tidak ada kemungkinan Federal Reserve dapat membuat suku bunga riil positif dalam jangka pendek, sehingga kita mendapati banyak kalangan yang menyadari bahwa kita perlu memiliki emas," kata Michael Matousek, Kepala Trader di US Global Investors.
"Baik The Fed dan ECB cukup sinkron dalam memberikan lingkungan suku bunga yang lebih rendah lebih lama, dan itu akan positif bagi emas dalam jangka panjang," kata Edward Moya, analis OANDA.
"Harga emas dunia malam ini sudah kembali menguat, penyebab utama Covid-19 Delta yang sudah menyebar ke berbagai belahan dunia, mengakibatkan negara-negara melakukan pengetatan/Locdown yang mengakibatkan Bank sentral global akan kembali menggelontorkan stimulus tak terbatas. Di samping itu, inflasi yang tinggi dan suku bunga bank sentral AS yang masih tetap dovish juga menjadi penyebab," ungkap Ibrahim. (git/fin)