Iklan
Iklan
News

Kilau Emas Memudar, Imbas Penguatan Imbal Hasil Obligasi AS

  JAKARTA - Emas melemah, Kamis, karena imbal hasil US Treasury (Obligasi AS) bangkit dari posisi terendahnya. Sementara Wall Street juga menutup beberapa kerugian. Namun, depresiasi dolar dan kekhawatiran atas pemulihan pasar tenaga kerja Amerika, membuat emas mendekati level tertinggi tiga pekan. Harga emas di pasar spot turun 0,2 persen menjadi USD1.799,18 per ounce pada pukul 01.12 WIB, demikian laporan Reuters, di Bengaluru, Kamis (8/7) atau Jumat (9/7) dini hari WIB. Emas berjangka Amerika Serikat ditutup 0,1% lebih rendah menjadi USD1.800,20 per ounce. Indeks Dolar (Indeks DXY) turun 0,3 persen dan imbal hasil US Treasury 10-tahun mendekam di dekat tingkat terendah lebih dari empat bulan. Ini mendorong emas ke level tertinggi sejak 17 Juni di USD1.818,10 per ounce pada awal sesi. Imbal hasil yang lebih rendah, mengurangi opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan bunga. Tetapi kemudian imbal hasil bergerak lebih tinggi dari posisi terendah dan saham mengurangi beberapa kerugian, membebani emas, kata Phillip Streible, Chief Market Strategist di Blue Line Futures, Chicago. Tetapi emas bakal tetap didukung sebagai aset safe-haven, terutama mengingat kekhawatiran atas pemulihan pasar tenaga kerja Amerika dan varian Delta virus korona, Streible menambahkan. Klaim pengangguran Amerika naik sedikit pekan lalu menjadi 373.000, di atas perkiraan 350.000 aplikasi dalam jajak pendapat Reuters. Edward Moya, analis OANDA, mengatakan data ekonomi baru-baru ini menunjukkan kemajuan substansial perlu dibuat agar The Fed menaikkan suku bunga, dan itu mendukung emas. Risalah Federal Reserve dari pertemuan 15-16 Juni menunjukkan "berbagai peserta" merasa kondisi untuk mengurangi pembelian aset bank sentral tersebut akan "dipenuhi agak lebih awal dari yang mereka perkirakan." Pergeseran hawkish The Fed yang mengejutkan pada Juni membuat emas anjlok 7 persen. Logam lainnya, platinum turun 0,8 persen menjadi USD1.076,71 per ounce dan paladium anjlok 1,6 persen menjadi USD2.806,95 per ounce. BofA Global Research memperkirakan permintaan platinum akan meningkat seiring lonjakan substitusi dari peran paladium dan platinum dalam ekonomi hidrogen. "Kami melihat kenaikan lebih lanjut dari sini, terutama ketika gangguan baru-baru ini di industri otomotif mereda," katanya dalam sebuah catatan. (git/fin)

Berita Terkait