17, October, 2021

3 Tersangka Penembak Wartawan, 1 Oknum TNI

JAKARTA – Aparat kepolisian berhasil mengungkap kasus penembakan yang mengakibatkan Mara Salem Harahap (42) meninggal dunia, di Simalungun, Sumatera Utara (Sumut). Korban merupakan Pemimpin Redaksi lassernewstoday.

Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak dalam keterangannya mengatakan pihaknya telah menetapkan tiga orang tersangka kasus penembakan Mara Salem Harahap, yang ditemukan tewas di dekat rumahnya, pada Sabtu (19/6). Salah satunya adalah oknum anggota TNI.

“Ketiga tersangka berinisial YFP (31) dan S (57) warga Kota Pematangsiantar. Kemudian A, seorang oknum TNI selaku eksekutor penembakan,” katanya didampingi Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Hassanudin dikutip, Jumat (25/6).

Panca mengemukakan pengungkapan berawal dari penangkapan dua tersangka, yakni YFP, humas atau manager Ferrari Bar and Resto. YFP tercatat sebagai warga Jalan Melati Perum Senayan, Tanjung Tonga, Siantar Martoba, Kota Pematang Siantar. Sedangkan S merupakan pemilik Ferrari Bar and resto, yang bertempat tinggal di Jalan Serong Bawah No 42, Siantar Barat, Pematangsiantar.

“Setelah mengumpulkan alat bukti CCTV dan alat bukti lainnya, kita berhasil mengungkap dan menangkap 2 orang tersangka yaitu YFP dan S ,” katanya.

Dijelaskannya, motif penembakan karena tersangka S merasa sakit hati. Korban disebutkan memberitakan peredaran narkoba di tempat hiburan malam miliknya. Tersangka S kemudian menyuruh orang untuk memberikan pelajaran.

S kemudian mentransfer uang sejumlah Rp 15 juta kepada A untuk dibelikan senjata. Lalu pada 19 Juni 2021, S kembali mentransfer Rp 10 Juta kepada A dan Rp 5 juta kepada Y plus Rp3 juta menyusul.

“Namun, tembakan di paha kiri bagian atas mengenai pembuluh arteri yang menyebabkan pendarahan hebat, sehingga korban kehabisan darah dan akhirnya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersangka, Irjen Panca Putra menyebut, korban diduga memberitakan tempat usaha tersangka S, karena tidak memenuhi permintaan jatah. Korban meminta jatah Rp12 juta per bulan atau dua butir ekstasi per hari seharga Rp200.000 per butir.

Dalam kasus ini, kepolisian menyita barang bukti satu pucuk pistol dengan enam butir peluru aktif yang sempat ditanam salah seorang tersangka di areal pemakaman untuk menghilangkan barang bukti, satu senjata air sofgun, mobil korban dan satu unit sepedamotor, dan parang.

“Berdasarkan uji balistik peluru yang mengenai paha kiri korban cocok dengan proyektil yang ditemukan polisi serta pistol yang digunakan menembak korban,” ungkapnya.

Menurut Panca, dalam mengungkap kasus tersebut pihaknya bekerja sama dengan Kodam Bukit Barisan dan setelah penyidik melakukan pemeriksaan terhadap 57 saksi mata dan petunjuk lainnya.

“Para tersangka, kata jendral polisi bintang dua itu, dijerat Pasal 340 sub 338 yo 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman seumur hidup atau hukuman mati,” katanya.(gw/fin)

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer