Rupiah Ditutup Melemah, Isu The Fed dan Kasus Covid Jadi Penyebab

HomeEkonomiRupiah Ditutup Melemah, Isu The Fed dan Kasus Covid Jadi Penyebab

 

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah ditutup melemah 30 poin di level Rp14.432 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp14.402 per USD. Beberapa faktor menjadi penyebab melemahnya mata uang Garuda, baik dari faktor eksternal maupun internal.

Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, indeks dollar melemah terhadap mata uang lainnya, setelah pesan meyakinkan Ketua Federal Reserve AS (The Fed), Jerome Powell bahwa suku bunga tidak akan naik terlalu cepat hanya berdasarkan ketakutan akan inflasi yang akan datang. Namun, penguatan dolar menahan kenaikan untuk logam kuning (Emas).

Powell bersaksi di depan Subkomite Pemilihan DPR pada hari Selasa, di mana ia mengulangi tujuan bank sentral untuk pemulihan pasar kerja yang “luas dan inklusif”.

Dia juga menambahkan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga sebelum pemulihan ini, dengan benchmark imbal hasil Treasury 10-tahun beringsut lebih rendah sebagai tanggapan.

Pejabat Fed telah menyatakan pandangan yang berbeda tentang kapan mungkin tepat untuk memperketat kebijakan moneter karena inflasi meningkat. Bank sentral AS mungkin berada dalam posisi untuk mulai mengurangi dukungan luar biasa terhadap ekonomi AS pada akhir tahun ini atau awal tahun depan, kata Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly, Selasa.

Pejabat Fed akan terus mengawasi data ekonomi untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk mulai menyesuaikan kebijakan moneter dan setiap pembicaraan tentang kapan harus menyesuaikan suku bunga masih jauh, kata Presiden Bank Fed New York John Williams.

Kemudian dari sisi internal, lonjakan penularan Covid-19 di Indonesia bukan karena kesalahan masyarakat semata, namun permasalahan kebijakan pemerintah yang tidak konsisten dalam mengatasi pandemi juga menjadi faktor penyebab, karena khawatir ekonomi akan melambat dan padahal sudah otomatis ekonomi melambat.

“Baik pemerintah maupun masyarakat tidak mau belajar dan tidak mau mendengar pendapat para ahli wabah dan kesehatan masyarakat. Di awal program vaksinasi, misalnya, pemerintah hanya fokus untuk memberikan kepada para tenaga kesehatan dan petugas di pelayanan publik, serta masyarakat yang secara langsung berkontribusi terhadap perekonomian. Para ahli wabah atau dokter kemudian menyarankan agar para lansia yang sangat rentan terinfeksi masuk target prioritas,” ujar Ibrahim dalam press rilisnya, Rabu (23/6).

Selain itu, sekitar 20 persen usia 60 tahun ke atas, jika terinfeksi mereka akan masuk rumah sakit dan 50 persen di antaranya akan meninggal dunia. Tapi bila mereka sudah divaksinasi, andai terjadi lonjakan mereka tak perlu sampai dirawat di rumah sakit sehingga penanganan bisa lebih rileks.

“Dari sisi masyarakat juga bebal/tidak mau karena ada sebagian yang menolak divaksin dan tidak menjalankan protokol kesehatan. Orang-orang tersebut merasa sehat dan kebal namun padahal tidak,” tuturnya.

Menurut Ibrahim, andai saja pemerintah dan masyarakat mau belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa setiap ada libur panjang akan terjadi lonjakan, larangan mudik lebaran kemarin seharusnya lebih tegas. Apalagi diketahui di banyak negara sudah bermunculan virus corona varian baru yang lebih dahsyat.

“Anehnya, ketika terjadi lonjakan kasus pasca lebaran di Kudus dan Bangkalan pun responsnya masih biasa, tidak buru-buru dilakukan penyekatan di daerah-daerah sekitar,” tegasnya.

Kemudian untuk perdagangan besok, Kamis (25/6), Ibrahim memprediksi rupiah masih akan mengalami tekanan. Rupiah kemungkinan besar akan kembali melemah di akhir perdagangan.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp14.410 – Rp.14.470 per USD,” pungkasnya. (git/fin)

Baca Juga

Berita Terbaru