28, October, 2021

Data Uji Klinik Ivermectin Ternyata…

JAKARTA – Ivermectin belakangan ini ramai dibicarakan publik. Kabarnya, obat cacing tersebut ampuh untuk terapi pasien COVID-19. Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan belum ada data hasil uji klinik penggunaan Ivermectin untuk pengobatan COVID-19.

Sehingga Ivermectin belum dapat disetujui digunakan untuk keperluan tersebut. Khasiat Ivermectin masih perlu dibuktikan melalui uji klinis.

BPOM menegaskan penggunaan Ivermectin untuk pencegahan dan pengobatan COVID-19 harus persetujuan dan di bawah pengawasan dokter.

“Jika masyarakat memperoleh obat ini bukan atas petunjuk dokter, diimbau berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter sebelum menggunakannya,” tulis BPOM dalam siaran informasi di laman resminya, Rabu (23/6).

Menurutnya, penggunaan Ivermectin tanpa indikasi medis dan tanpa resep dokter dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan efek samping. Seperti nyeri otot/sendi, ruam kulit, demam, pusing, sembelit, diare, mengantuk, dan Sindrom Stevens-Johnson.

“Masyarakat jangan membeli Ivermectin tanpa resep dokter. Selain itu, jika mendapat resep dokter, membelinya harus di fasilitas pelayanan kefarmasian resmi. Seperti apotek dan rumah sakit,” lanjutnya.

Seperti diketahui, Ivermectin kaplet 12 mg terdaftar di Indonesia untuk indikasi infeksi kecacingan (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis). Obat itu diberikan dalam dosis tunggal 150-200 mcg/kg berat badan dengan pemakaian satu tahun sekali.

Karena penggunaan Ivermectin untuk pengobatan pada manusia di Indonesia masih baru, BPOM memberikan batas waktu kedaluwarsa enam bulan untuk obat tersebut. Masyarakat diminta tidak menggunakan obat tersebut lebih dari enam bulan dari tanggal produksi yang tertera.(rh/fin)

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer