Sandiaga Uno: Kontribusi Industri Kreatif pada PDB Capai Rp1.134 Triliun
JAKARTA- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mendorong industri mainan dalam negeri untuk siap dan mampu bersaing dengan mainan impor yang saat ini mendominasi pasar mainan di Tanah Air. Untuk itu, Sandi sangat mengapresiasi atas peluncuran produk mainan action figure BIMA-S oleh salah satu perusahaan mainan dalam negeri yakni PT Royal Kreasi Cermerlang (RKC). Menurutnya, pengembangan dari animasi menjadi action figure sangat sejalan dengan program pengembangan ekosistem ekonomi digital yang tengah dijalankan. "Action figure BIMA-S dapat menjadi inspirasi bagi pelaku industri mainan lainnya untuk mulai berani mengembangkan intellektual property (IP) asli Indonesia," kata Sandi Selasa (22/6). Menurut Sandi, industri kreatif Tanah Air sejauh ini turut memberikan kontribusi yang signifikan bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Berdasarkan data pihaknya, pada tahun 2020 ekonomi kreatif Indonesia berada di urutan tiga dunia. Pada urutan pertama ditempati Amerika dengan Hollywood-nya, kedua Korea Selatan dengan K-Pop. "Indonesia sekarang sudah urutan ke-3 dunia, dan sekitar Rp1.134 triliun yang dikontribusikan terhadap PDB kita," ujarnya Sementara itu, data Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI) mencatat, saat ini industri mainan dalam negeri sedang merangkak naik, setelah sebelumnya, di tahun 2020, mengalami penurunan penjualan yang signifikan hingga sekitar 20%. Disisi lain, berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai impor mainan di masa pandemi tahun 2020 mengalami penurunan hingga 21,62 persen. Padahal sejak tahun 2016, nilai impor mainan terus mengalami kenaikan dengan capaian tertinggi di tahun 2019 sebesar lebih dari 400 juta USD. Pada Januari-Maret 2021, angka impor mainan mulai kembali naik sebesar 16,53 persen apabila dibandingkan tahun sebelumnya di periode yang sama. "Akhir tahun lalu utilisasi industri mainan mulai mengalami peningkatan sekitar 5 persen," kata CEO RKC, Stephen Sutijadi. Menurut Stephen, meningkatnya kembali utilisasi industri mainan merupakan kabar baik bagi para pelaku industri. RKC sendiri terus melakukan penelitian dan pengembangan untuk mempersiapkan persaingan yang akan semakin ketat seiring meningkatnya kembali permintaan pasar. "Action figure BIMA-S yang mengusung IP lokal merupakan salah satu hasil dari inovasi dan pengembangan terbaru kami untuk menyambut pasar industri mainan yang mulai tumbuh dan mempersiapkan persaingan dengan mainan impor yang semakin ketat," paparnya. Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih menambahkan, produk mainan BIMA-S yang diproduksi oleh produsen dalam negeri diharapkan menjadi mainan yang dapat bersaing dipasaran seiring dengan pertumbuhan industri mainan yang mulai tumbuh kembali. "Saya meyakini, kemampuan industri mainan anak di dalam negeri tidak kalah. Melihat ekspor naik terus dari tahun 2017 hingga tahun 2019 dan sedikit menurun pada tahun 2020 karena adanya pandemi," pungkasnya. (der/git/fin)