News

Emas Rebound Setelah Catat Penurunan Mingguan Terbesar Sejak 2020

  JAKARTA - Emas mengalami rebound dsri penurunan persentase mingguan terbesar sejak Maret 2020, Senin, karena jeda dalam reli dolar AS membantu memulihkan daya tarik logam tersebut. Harga emas di pasar spot melonjak 1,1 persen menjadi USD1.782,83 per ounce pada pukul 00.48 WIB, sementara emas berjangka Amerika Serikat ditutup naik 0,8 persen menjadi USD1.782,90 per ounce, demikian dikutip dari laporan Reuters, di Bengaluru, Senin (21/6) atau Selasa (22/6) dini hari WIB. "Banyak orang memanfaatkan koreksi tersebut untuk membeli emas, pada tingkat harga ini, ada nilai untuk menahan posisi emas, terutama untuk jangka panjang," kata Phillip Streible, Kepala Strategi Pasar di Blue Line Futures, Chicago. Harga emas anjlok 6 persen, atau USD113 per ounce, pekan lalu ketika Federal Reserve mengisyaratkan akan segera mulai mengurangi pembelian asetnya dan dapat mulai menaikkan suku bunga pada 2023. Tetapi Indeks Dolar (Indeks DXY) mundur dari level tertinggi dua setengah bulan, mendorong investor untuk beralih ke emas, yang jatuh selama enam sesi berturut-turut sebelum pemantulan Senin. Sementara itu imbal hasil US Treasury 10-tahun juga naik dari level terendah empat bulan, meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan bunga. Bank of America Global Research mengatakan dengan The Fed yang lebih hawkish, risiko kenaikan suku bunga riil akan membuat harga emas tertahan hingga akhir tahun. Streible, bagaimanapun, memperkirakan emas akan melayang di atas USD1.800 per ounce, mengutip dolar yang "overbought", pembelian obligasi lanjutan The Fed dan suku bunga yang tidak akan naik dalam waktu dekat. Selanjutnya, pelaku pasar akan mendengarkan pidato kongres dari sejumlah pejabat bank sentral Amerika, termasuk Chairman The Fed Jerome Powell, yang akan berbicara pada Selasa. Logam mulia lainnya, platinum meroket 2,5 persen menjadi USD1.060,05 per ounce, sementara paladium melambung 4,5 persen menjadi USD2.575,24 per ounce setelah jatuh lebih dari 11 persen minggu lalu. Pasar paladium global mengalami defisit tahun ini karena pulihnya pertumbuhan ekonomi dan standar emisi yang lebih ketat mendorong permintaan dari mobil. Faktor negatif lainnya adalah gangguan pasokan di Nornickel Rusia. Analis di perusahaan perdagangan Heraeus mengatakan, bagaimanapun, gangguan rantai pasokan di sektor otomotif dapat mengurangi pengetatan di pasar paladium. Di tempat lain, perak naik 0,6 persen menjadi USD25,95 per ounce. (git/fin)

Berita Terkait