spot_img
29, September, 2021

Tidak Hadiri Acara Pengukuhan Guru Besar Tapi Bertemu Ganjar, Jokowi Dinilai Lecehkan Megawati

JAKARTA- Presiden Joko Widodo atau Jokowi tidak hadir dalam acara pengukuhan gelar Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai Profesor Kehormatan yang dilaksanakan di kampus Universitas Pertahanan (Unhan) RI, di Sentul, Jawa Barat, Jumat (11/6) lalu.

Padahal, sejumlah pejabat penting ikut hadir dalam pengukuhan tersebut. Namun, pada hari yang sama, Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Jawa Tengah guna memantau jalanya vaksinasi. Jokowi didampingi langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Presiden Jokowi sebagai kader PDIP, seharusnya mengutamakan kehadirannya di acara Megawati. Sebab acara tersebut merupakan momen penting bagi sejarah hidup Megawati. Sikap Jokowi ini dianggap tidak sopan terhadap ketua umum PDIP yang cukup berjasa baginya.

“Presiden tidak sopan, walaupun kita tahu bahwa politik Indonesia ahir-ahir ini diwarnai ketegangan antara Jokowi sebagai Presiden dan Megawati sebagai Ketua Partai. Jadi menghindar dari Ibu Mega yang sedang menggambarkan lembar baru dalam hidupnya menjadi Guru besar itu tidak sopan,” kata Pengamat politik, Rocky Gerung, Senin (14/6).

Presiden Jokowi dinilai lebih mementingkan Ganjar Pranowo daripada Megawati. Padahal, Megawati cukup berjasa untuk Jokowi menjadi orang nomor satu di Republik ini.

“Kalau soal vaksinasi kan setiap hari juga bisa kan. Kelihatannya Pak Jokowi ini lebih mementingkan biografi Ganjar Pranowo dari pada biografi Ibu Mega,” papar Rocky Gerung.

“Ibu Mega itu satu peristiwa yang betul-betul sekali dalam seumur hidup. Ganjar Pranowo bisa bikin vaksinasi berkali-kalo dan Pak Jokowi bisa bilang nggak deh karena ada yang lebih penting,” sambungnya.

“Jadi tidak terlihat penghormatan presiden kepada orang yang berjasa kepada nya,” tuturnya.

Rocky mengakui, Megawati memang di-bully karena gelar akademisnya. Tetapi soal etika, Jokowi telah melecehkannya.

“Orang memang mem-bully Megawati dalam soal akademis. Tetapi bagai mana pun itu biografi hidup Ibu Megawati. Jadi sangat tidak etis Presiden itu kader PDIP. Presiden bagian dari rezim Soekarno,” ulasnya.

“Jadi itu apakah kesombongan atau semata-mata signal bahwa dia ingin lepas dari Megawati. Kalau itu soal Politik, nanti lah. Tetapi saya anggap bahwa ketidak hadiran presiden itu satu sikap yang tidak dewasa,”.

“Dengan cara ini, agak curang itu. Bahwa mengambil kesempatan untuk melecehkan Ibu Mega. Kan ini sebetulnya melecehkan Ibu Mega,” sambung Rocky Gerung.

Rocky menilai, Jokowi telah memberi signal bahwa dirinya tengah menghindari dari Megawati.

“Nah kalau menghindar bukan dengan cara ini. Tapi menghindar dengan cara yang elegan. Bukan menghindar lalu ke orang yang sedang dimusuhi oleh Ibu Megawati,” katanya.

“Say memang mengkritik Ibu Mega. Tapi soal ini lebih buruk adalah mereka yang melecehkan Ibu Mega. Dengan seolah mengirim sinyal bahwa Ibu Mega tidak punya masa depan lagi. Oleh karena itu masa depan ada di Semarang,” pungkas dosen Filsafat ini. (dal/fin). 

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer