Tim Pendamping Beberkan Profil Pelapor Dua Penyidik KPK ke Dewas, Ternyata….

HomeHukum dan KriminalTim Pendamping Beberkan Profil Pelapor Dua Penyidik KPK ke Dewas, Ternyata....

JAKARTA – Tim pendamping membeberkan profil pelapor yang mengadukan dua penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke Dewan Pengawas KPK atas dugaan pelanggaran etik.

Dua penyidik itu antara lain Praswad Nugraha dan Muhammad Nur Yoga. Keduanya tengah melakukan penyidikan kasus dugaan suap pengadaan bantuan sosial (bansos). Praswad dan Yoga dilaporkan oleh saksi kasus dugaan suap bansos Agustri Yogaswara alias Yogas terkait dugaan intimidasi terhadapnya.

“Kami merasa publik perlu tahu profil pelapor, yakni Agustri Yogaswara,” kata Tim Pendamping Sidang Kode Etik Dewan Pengawas KPK atas para Penyidik Bansos Covid-19 March Falentino di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (11/6).

March mengungkapkan, Yogas diduga memiliki jatah pengadaan 400 ribu paket bansos termin 1 hingga 12 berdasarkan fakta persidangan kasus dugaan suap pengadaan bansos pada 2 Juni 2021 lalu.

Paket itu, sambung March, diduga dimiliki bersama-sama dengan mantan Wakil Ketua Komisi VIII DPR dari Fraksi PDIP Ihsan Yunus, serta Muhamad Rakyan Ikram alian Iman Ikram, adik Ihsan Yunus.

“Agustri Yogaswara juga diduga menerima dua buah sepeda mewah dan uang dari vendor bansos,” ungkap March.

Ia mengatakan, dalam persidangan yang sama, Hakim ketua Muhammad Damis sampai perlu mengultimatum akan langsung menahan atau memasukkan Yogas ke penjara yang hadir sebagai saksi.

“Ultimatum dilakukan karena keterangan Agustri yang berbelit-belit dan dinilai melindungi pihak tertentu,” tutur March.

Dikatakan March, sikap yang sama juga ditunjukkan Yogas dalam proses pemeriksaan penyidikan. Menurut penuturan March, Yogas malah bepergian ke luar negeri setelah menerima surat panggilan pemeriksaan dari KPK.

“Selain itu, dalam proses pemeriksaan, yang bersangkutan tidak kooperatif dalam memberi keterangan,” katanya.

Sehingga, kata March, penyidik perlu melakukan strategi dan teknik penyidikan dalam memeriksa Yogas. Strategi dan teknik penyidikan itu, dipastikan March, selalu sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Seluruh penyidik KPK, termasuk terperiksa, dilarang bertindak sewenang-wenang. Seluruh penyidikan yang berlangsung di KPK selalu memastikan terpenuhinya hak-hak saksi,” tandasnya.

Lebih lanjut, kata March, proses penyidikan bukan untuk menyenangkan saksi atau pihak manapun. Melainkan, lanjutnya, guna menegakkan keadilan terutama untuk rakyat selaku korban tindak pidana korupsi.

“Terlebih lagi, korupsi Bansos dilakukan di tengah Pandemi Covid-19,” tegasnya.

March menyatakan, Praswad dan Yoga merupakan dua penyidik yang mengungkap perkara dugaan suap bansos dengan anggaran Rp6,4 triliun.

Maka dari itu, dirinya menegaskan perkara tersebut perlu diungkap demi keadilan untuk masyarakat.

Diketahui, Majelis etik Dewan Pengawas KPK tengah menyidang dua penyidik KPK Praswad dan Yoga atas dugaan pelanggaran kode etik. Keduanya merupakan penyidik yang menangani kasus dugaan suap bantuan sosial (bansos) Covid-19.

Persidangan dugaan pelanggaran kode etik tersebut merupakan tindak lanjut dari laporan saksi kasus suap bansos Agustri Yogasmara. (riz/fin)

Baca Juga

Berita Terbaru