Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan pihaknya langsung bergerak cepat menjalankan instruksi Kapolri Jenderal Listyo Sigit terkait premanisme. Sebanyak 49 orang yang kerap melakukan pungli di kawasan Tanjungpriok, Jakarta Utara (Jakut) ditangkap.
"Yang kami amankan ada 49 orang dengan perannya masing-masing dengan kelompok dan pos masing-masing diamankan. Dari ruang lingkup Polres Jakut mengamankan 42 orang dan Polres Pelabuhan Tanjungpriok 7 orang," ujarnya, Jumat (11/6).
Dikatakannya, para pelaku pungli ini tersebar di beberapa titik atau dikenal dengan pos yang berada di sepanjang jalan menuju pelabuhan. Mereka masing-masing meminta uang dari para sopir truk kontainer yang lewat.
"Saya ambil contoh ada 5 pos ya. Di pos 1 fortun saja di pintu masuk sekuriti harus bayar Rp2.000. Kemudian pos 2 masuk, biayanya masuk lagi Rp2.000. Masuk ke pos 3, itu harus bayar Rp2.000-5.000. Ini saya ambil kecilnya karena kalau siang itu beda dengan malam, pengawasan siang lebih ketat," ujarnya.
"Pengawasan bayar minimal Rp5.000, terakhir keluar dipo harus bayar lagi Rp2.000. Jadi total di Fortune ini sekitar Rp15.000. Sehari bisa 300 kendaraan kontainer loh. Coba dikalikan. Sekitar Rp6 juta yang dikeluarkan oleh sopir-sopir. Kemudian perusahaan DKM, ada 4 pos. Total semua per 1 kontainer ada Rp11.000. Sehari bisa Rp350-500 ribu untuk kendaraan per 1 kontainer, belum lagi preman-preman yang di luar itu sengaja buat macet, kemudian ketok kaca minta uang," lanjutnya.
Kabid Humas mengatakan pihaknya sudah membentuk tim untuk mengusut para pelaku pungli. Dia menyebut tidak menutup kemungkinan para pelaku ini ada kerja sama dengan para karyawan di pelabuhan.
"Saya katakan ini baru dipermukaan, perintah Pak Kapolda Metro Jaya bentuk tim kemarin usai adanya keluhan sopir truk. Kami amankan pelaku-pelaku ini. Karena minta Pak Kapolda bentuk tim, susul. Kita ungkap semua. Makanya tim ini bergerak dan kami lakukan rapat koordinasi karena ini rata-rata karyawan. Kita akan rapat dengan stakeholder terkait, apa yang jadi pokok masalah di sini kenapa terjadi macet," tuturnya.
Sebelumnya, Presiden Jokowi menelepon Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, setelah mendapat keluhan dari para sopir truk soal maraknya pungutan liar (pungli) dan preman di Tanjungpriok. Setelah ada telepon Jokowi, 24 preman langsung ditangkap di dua lokasi, yakni PT Dwipa Kharisma Mitra Jakarta KBN Marunda dan Depo PT Greating Fortune Container (GFC).
"Pak Kapolri, pagi, nggak... ini saya di Tanjung Priok banyak keluhan dari para driver kontainer yang berkaitan dengan pungutan liar, pungli, di Fortune, di NBC PT, kemudian di Depo Dipa. Pertama itu. Yang kedua, juga kalau pas macet itu, banyak driver yang dipalak sama preman-preman. Ini keluhan ini, tolong bisa diselesaikan, itu aja Pak Kapolri," kata Jokowi seperti dalam video yang disiarkan YouTube Setpres, Kamis (10/6).
"Siap laksanakan, Bapak," jawab Kapolri.
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, M.Si. kemudian merespons cepat instruksi Presiden Jokowi. Dia meminta jajarannya menuntaskan praktik pungli dan preman yang adi di Tanjungpriok.
(gw/fin)