Ahli Mikrobiologi dan Dosen Farmasi UEU: Waspada Varian Covid-19 Terus Meningkat

HomeRagamAhli Mikrobiologi dan Dosen Farmasi UEU: Waspada Varian Covid-19 Terus Meningkat

JAKARTA – Lonjakan kasus COVID-19 di beberapa daerah pasca lebaran Idul Fitri akhir-akhir ini, termasuk di Kabupaten Bangkalan Madura dikaitkan dengan temuan varian baru Covid-19 oleh Institute of Tropical Disease (ITD). Menurut temuan IDT tersebut bukan dari spesimen warga Bangkalan baru-baru ini melainkan berasal dari spesimen yang diambil pada bulan Mei yang lalu, Berdasarkan hasil whole genome sequencing (WGS), ITD mengidentifikasi adanya salah satu varian virus SRS-COV-2 yaitu varian Alpha (B.117) yang disolasi dari spesimen Pekerja Migran Indonesia.

Dalam kesempatan yang lain Wakil Menteri Kesehatan Dr. Dante Saksono, mengungkapkan bahwa beberapa varian virus penyebab COVID-19 yang termasuk dalam kategori berbahaya atau variant of concern telah menyebar secara lokal di beberapa daerah di Indonesia. Artinya bahwa sudah ada transmisi lokal dari beberapa varian SARS-COV-2 di Indonesia.

Pertanyaannya, seberapa jauh varian-varian SARS-COV-2 ini menjadi penyebab melonjaknya kasus COVID-19 di beberapa daerah di Indonesia.

Guru Besar bidang Mikrobiologi dan Bioteknologi dari Prodi Farmasi Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul Jakarta, Prof. Dr. Maksum Radji, M.Biomed., Apt., berpendapat bahwa kaitan merebaknya kasus COVID-19 di Indonesia akhir-akhir ini, termasuk di pulau Madura, kemungkinan besar tidak terlepas dari adanya transmisi lokal beberapa varian SAR-COV-2.

“Sebetulnya sejak Januari 2021, Kemenkes RI telah menyatakan bahwa ada 3 varian yang termasuk dalam katagori Variant of Concern diantaranya adalah varian Alpha, varian Beta dan varian Delta telah terdeteksi di beberapa daerah di Indonesia. Jadi apa yang ditemukan oleh ITD merupakan konfirmasi dari pernyataan Kemenkes RI, agar kita perlu terus waspada dan hati-hati,” ucapnya.

Maksum menegaskan bahwa ketiga varian tersebut, baik varian Alpha maupun varian Beta dan varian Delta, telah terbukti dapat menyebabkan peningkatan penularan, penyakit, meningkatkan keparahan penyakit, dapat mempengaruhi efektivitas vaksin, dan penurunan efektivitas pengobatan, serta berdampak pada sensitivitas deteksi.

Terhadap ketiga varian yang termasuk dalam katagori variant of concern ini, lanjut Maksum diperlukan tindakan yang tepat, untuk pengendalian penyebarannya, dengan cara meningkatan 3T (testing, tracing, treatment), dan genomic surveillance.

“Penyekatan mobilitas penduduk dan kegiatan pemeriksaan melalui rapid test antigen virus COVID-19 yang dilakukan di Jembatan Suramadu merupakan langkah yang tepat sebagai upaya untuk mendeteksi dan mengetahui sebaran kasus COVID-19 di Madura, serta meminimalisir penyebarannya di Surabaya dan sekitarnya. ,” ucap Maksum.

Selain itu, Maksum melanjutkan kesadaran masyarakat untuk membatasi mobilitasnya, dan kewajiban untuk terus mematuhi protokol kesehatan, serta bagi mereka yang memiliki gejala COVID-19, perlu segera melaporkan ke institusi Kesehatan setempat.

“Kita juga harus mengapresiasi langkah Kementerian Kesehatan yang telah mengirimkan sebanyak 30 alat ventilator ke RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan dan menugaskan sejumlah tenaga kesehatan untuk membantu penanganan lonjakan kasus COVID-19 di Bangkalan,” terangnya.

Lantas kenapa varian-varian SARS-COV-2 ini sangat berbahaya.

Maksum pun mengatakan dalam situs resmi WHO, WHO telah menetapkan 4 varian yang termasuk dalam variant of concern yaitu: pertama Varian Alfa (B.117), varian yang pertama kali ditemukan di Inggris Raya, September-2020; kedua, Varian Beta (B.1.351), varian yang ditemukan di Afrika selatan, Mei-2020; ketiga, Varian Gamma (P.1) yang pertama kali ditemukan di Brazil, November-2020; dan keempat Varian Delta (B.1.617.2) yang ditemukan di India pada Oktober-2020.

Dirinya melanjutkan yang termasuk dalam variant of interest adalah pertama Varian Epsilon (B.1.427/B.1.429), yang terdeteksi pertama kali di Amerika Serikat pada bulan Maret-2020; dan kedua Varian Zeta (P.2), terdeteksi di Brazil Brazil, April-2020; ketiga Varian Eta (B.1.525), telah terdeteksi di berbagi negara, Desember-2020; keempat Varian Theta (P.3), terdeteksi di Philippines, Januari-2021; kelima Varian Iota (B.1.526) terdeteksi di Amerika Serikat, pada November-2020; keenam Varian Kappa (B.1.617.1), terdeteksi pertama kali di India, pada bulan Oktober-2020.

Varian-varian virus SARS-CoV-2 ini sebagian besar memiliki mutasi pada protein S (spike) nya, yaitu bagian dari virus yang merupakan protein yang dapat mengenali dan berikatan dengan reseptor ACE2 yang terdapat pada sel manusia.

“Ikatan antara protein S (spike) dengan reseptor ini menjadi jalan masuk virus ke dalam sel manusia untuk memulai proses infeksi. Mutasi pada gen S (spike) pengikat reseptor ini, dapat meningkatkan afinitas virus terhadap sel manusia, yang memungkinkannya berkembang biak lebih cepat,” terangnya.

Dirinya pun menerangkan Salah satu mutasi yang paling mengkhawatirkan di gen S (spike) ini dikenal sebagai E484K, di mana asam amino glutamat digantikan oleh asam amino lisin pada posisi 484 pada protein S. Mutasi ini telah ditemukan dalam beberapa varian, antara lain pada varian Eta (B.1.525), varian Gamma (P.1), varian Beta (B.1.351), dan varian Alpha (B.117). Mutasi ini juga dapat membantu virus menghindari sistem kekebalan.

“Itulah sebabnya varian dengan mutasi ini lebih mungkin menginfeksi kembali orang yang sudah pernah tertular COVID-19 atau yang telah mendapatkan vaksinasi. Demikian pula, mutasi N501Y dalam domain pengikatan reseptor juga telah diidentifikasi dalam varian Gamma (P.1), varian Alpha (B.117), dan varian Beta (B.1.351),” ucapnya.

Maksum juga mengatakan Mutasi N501Y juga dapat meningkatkan penularan virus. Ada juga mutasi di luar domain pengikat reseptor yang dapat mengubah keseluruhan bentuk protein S (spike) sehingga lebih efisien dalam menyerang sel dan mengikat sel target yang lebih kuat, serta mengelabui kerja dari sistem kekebalan. Namun demikian, para peneliti masih terus bekerja untuk memastikan bagaimana mekanisme varian-varian ini menjadi lebih virulen.

Apa yang menyebabkan terjadinya lonjakan kasus baru COVID-19 di beberapa daerah di Indonesia belakangan ini?

Sebetulnya, lanjut Maksum kemungkinan adanya lonjakan kasus COVID-19 pasca liburan Idul Fitri di beberapa daerah di tanah air ini sudah diprediksi beberapa waktu yang lalu. Fenomena kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia pasca lebaran ini mulai terlihat signifikan, terlebih di sejumlah kota dan kabupaten.

“Dalam data Satgas COVID-19, saat tercatat sedikitnya 25 kabupaten dan kota di 5 provinsi menunjukkan penambahan kasus COVID-19 tertinggi di Indonesia, termasuk di pulau Madura, Lonjkan kasus baru COVID-19 dalam beberapa hari terkhir ini erat kaitannya dengan tingkat kepatuhan masyarakat dalam mentaati protokol kesehtan yang masih rendah, terangnya.

Maksum juga mengatakan hambatan lainnya seperti kemampuan testing dan tracing yang masih rendah, membuat jumlah kasus terkonfirmasi positif yang dilaporkan seolah-olah rendah padahal data tersebut bisa saja semu.

“Longgarnya pembatasan pertemuan publik, tingginya kerumunan massal, dan cakupan vaksinasi Covid-19 yang masih rendah, juga menjadi faktor sulitnya mengendalikan penyebaran virus penyebab COVID-19 di Indonesia. Sangat dikhawatirkan bahwa kasus penularan di beberapa daerah ini menjadi episentrun baru penularan COVID-19 bagi daerah sekitarnya,” terangnya.

Dirinya melanjutkan Faktor lainnya yang juga berperan adalah kemungkinan adanya transmisi lokal varian-varian SARS-COV-2, termasuk varian Delta (B.1.617.2). Varian Delta yang pertama kali dideteksi di India ini, mengandung dua mutasi utama pada gen S (spike), yang dapat meningkatkan kecepatan penularan dan mengurangi efektivitas antibodi yang dimiliki oleh beberapa orang telah mendapatkan vaksinasi atau telah terinfeksi oleh virus SARS-COV-2 sebelumnya. Selain itu, juga perlu diwaspadai adanya varian Alpha (B.117) dan varian Beta (1.351) yang juga telah ditemukan di Indonesia.

Maksum menyarankan, langkah-langkah penting saat ini untuk mencegah penularan virus penyebab COVID-19, selain percepatan program vaksinasi massal guna mencapai herd immunity atau kekebalan komunitas, adalah dengan cara meningkatkan kepatuhan masyarakat untuk melaksanakan anjuran protokol Kesehatan.

“Termasuk sering mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari tempat-tempat ramai atau tempat tertutup, serta meningkatkan 3T (testing, tracing, treatment) guna mencegah penyebaran virus SARS-COV-2, dan untuk menghindari munculnya varian-varian baru”, tutupnya. (nrm/rls/fin)

Baca Juga

Berita Terbaru