DBD Serang Anak-anak, Tujuh Orang Meninggal Dunia

HomeNusantaraDBD Serang Anak-anak, Tujuh Orang Meninggal Dunia

TASIK – Demam berdarah dengue (DBD) kembali menghantui Kota Tasikmalaya. Setelah di tahun lalu hingga September 2020 menembus angka 1.214 kasus. Kini hingga Selasa (8/6/2021) sudah tercatat 252 kasus  dengan empat balita dan tiga anak-anak meninggal dunia.

Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya, H Ivan Dicksan memaparkan data sebaran kasus DBD yang paling tinggi terjadi di Kecamatan Cipedes dengan jumlah 44 kasus. Disusul Kecamatan Tawang 40 kasus, Cihideung 34 kasus, Purbaratu 31 kasus dan Kecamatan Cibeureum 25 kasus.

“Kemudian Kecamatan Indihiang tercatat 21 kasus dari awal tahun sampai hari ini. Kawalu 19 kasus, Mangkubumi 17 kasus, Bungursari 12 kasus dan Tamansari 9 kasus,” kata dia kepada Radar, usai menghadiri halal bihalal Forum Puskesmas di Hotel Grand Metro, Selasa (8/6/2021).

BACA JUGA: Mau Nonton Euro 2020 di Stadion Wembley, Siapkan Bukti Vaksin Covid-19

Berdasarkan data, kata Ivan, dari 69 kelurahan se-Kota Tasikmalaya terdapat 53 kelurahan ditemukan kasus DBD. Sebanyak 10 kelurahan tertinggi, diantaranya 15 kasus di Panglayungan, 15 kasus di Kahuripan, Purbaratu 12 Kasus, Sukamanah 12 kasus dan Cilembang 9 kasus. “Sisanya ada di Kelurahan Cipedes 9 kasus, Kersanagara 8 kasus, Kersamenak 8 kasus, Nagarawangi dan Tawangsari masing-masing 7 kasus,” tuturnya seperti dikutip dari Radar Tasikmalaya (Fajar Indonesia Network Grup).

Sementara korban meninggal dunia akibat DBD, terdiri dari 7 kasus, yakni terjadi di Kelurahan Tugujaya wilayah kerja Puskesmas Cihideung 1 balita berusia 3 tahun dan Kelurahan Tugujaya 1 orang berusai 6 tahun. Kelurahan Kahuripan 1 balita berusia 4 tahun, Kelurahan Purbaratu 2 orang, balita 4 tahun dan anak usia 10 tahun. “Kemudian di Cilembang satu orang balita 3 tahun dan Kelurahan Sukamanah yang berdomisili di Cipedes berusia 11 tahun,” rinci Ivan.

BACA JUGA: Pengoperasian LRT Jabodebek Harus Dipersiapkan Secara Matang

Dia berharap masyarakat bisa mewaspadai kondisi cuaca yang masih dalam keadaan penghujan. Tidak hanya memenuhi protokol kesehatan Covid-19 dalam aktivitas sehari-hari, tetapi mewaspadai kesehatan lingkungan yang menyebabkan jentik nyamuk tumbuh.

“Maka kita juga arahkan tadi agar rekan-rekan puskesmas bisa turun ke publik edukasi warga langsung dan gerakan kembali pemberantasan sarang nyamuk,” harap dia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dr Uus Supangat mengakui adanya kenaikan kasus di awal Juni 2021 ini. Meski sampai triwulan kedua ini, kondisi kasus DBD tidak se-ekstrem tahun lalu, ia meminta semua pihak mulai waspada. “Kondisinya cukup memprihatinkan meski tak separah tahun lalu, tapi kasus DBD saat ini sudah diatas 150 kasus,” keluhnya.

BACA JUGA: Habib Abubakar Minta MUI Tindak Gisella Soal Nama Kuda Aisyah: Ini Penistaan, Menyakiti Hati Kami

Ia menyiapkan sejumlah strategi dalam menekan kenaikan kasus DBD, berkaca dari pengalaman tahun lalu. Salah satunya, menerjunkan tim di setiap puskesmas secara masif untuk mengingatkan kembali masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan dan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).  “Apa yang sudah bisa kita lakukan tahun lalu, bahwa kalau semua mau ternyata serentak bersama kita bisa turunkan kasus DBD secara drastis,” harap Uus.

Mantan Kepala Puskesmas Purbaratu ini meminta masyarakat disiplin dan bisa melakukan antisipasi mandiri dengan cara-cara sederhana. Kemudian tidak mengandalkan fogging atau pengasapan dalam mengantisipasi munculnya nyamuk demam berdarah.

BACA JUGA: Marco Kusumawijaya: Baru Ketahuan Sekarang, Ternyata Jokowi tak Punya Wawasan

“Fogging bukan pilihan utama, hasil kajian penelitian dari universitas dan kementerian di tahun lalu, khusus Kota Tasikmalaya fogging efektivitasnya tidak bisa jadi pilihan utama,” jelas dia.

“Ada karakter nyamuk yang dikhawatirkan resisten oleh pengasapan, maka pilihan utama jaga kesehatan lingkungan dan berantas sarang nyamuk,” sambung Uus.

Dia menambahkan suatu wilayah apabila terlalu sering dilakukan fogging pun akan membuat lingkungan tercemar dan ekosistem yang rusak. Ia menginstruksikan puskesmas masif turun ke masyarakat untuk mengedukasi hal tersebut, agar warga bisa antisipasi dini dalam merespons mulai menyebarnya DBD di Kota Tasikmalaya. “Kami juga insya Allah siapkan screening test DBD dengan Nonstruktural Protein 1 (NS1), mengantisipasi kasus-kasus kematian yang terjadi seperti di tahun lalu,” ucapnya. (igi)

Baca Juga

Berita Terbaru