26, October, 2021

Habib Abubakar Menilai NU Saat Ini Disusupi Pemahaman Menyimpang, Liberalis dan Syiah

JAKARTA- Habib Abubakar Assegaf memberikan kritikan terhadap Nahdatul Ulama (NU) terkait narasi yang bersifat fanatik buta alias Ta’assub.

“Kita sering mendengar ungkapan dari tokoh-tokoh NU bahwa: Aqidah Ahlussunnah waljamaah (Aswaja) tidak akan kokoh jika tidak diwadahi dalam jam’iyyah/ormas. Tentunya yang dimaksud disini adalah NU,” kata Habib Assegaf di Twitter-nya Sabtu (5/6).

Dia mengatakan, narasi tersebut di atas akan menimbulkan fanatik buta. Artinya, ‘selain NU semuanya salah’.

“Saya tidak dalam posisi menyalahkan para pembuat penyataan ini, namun sayangnya narasi-narasi seperti ini justru menimbulkan ta’assub (fanatisme berlebihan) yang tidak semestinya, hingga keluar kalimat: Kalau ga NU salah semua,” ungkap Habib Abubakar Assegaf.

Padahal, lanjut Habib, ta’assub semacam ini justru ditentang atau dilarang oleh pendiri NU sendiri yakni Hadrotusyyekh KH Hasyim Asy’ari Rahimahullah dalam risalah-nya.

“Yang menggelitik hati saya, benarkah tanpa NU Ahlussunah waljamaah akan runtuh? dengan memberi contoh apa yang terjadi di timur tengah,” kata Habib Assegaf.

“Lalu saya kembali bertanya, apa yang kita rasakan saat ini ? Apa kita merasakan kehadiran NU sebagai penyelamat Aqidah ummat ? Sebagai pemersatu untuk izzul Islam walmuslimin sebagaimana cita-cita para pendirinya?” imbuhnya.

Dia menilai, banyak yang menjadikan NU sebagai alat politik duniawi sehingga saat ini NU tidak seperti yang dicita-citakan para pendirinya.

“(Maaf) yang saya rasakan saat ini jam’iyyah yang didirikan para ulama yang mahfudzin itu kini telah sering dikeluarkan dari khittohnya karena ulah para oknum yang menjadi penumpang gelap dan menjadikannya hanya sebagai alat kepentingan duniawi semata,” paparnya.

“Setidaknya semoga saja NU masih bersih dari oknum-oknum yang menyusupkan pemahaman-pemahaman menyimpang, seperti liberalisme, syiah, dan seterusnya,” imbuh Habib.

Lebih lanjut, Habib Abubakar mengatakan, salah satu ulama besar yang menolak bergabung dengan NU karena merasa diri tidak pantas disebut ulama.

“Salah seorang ulama besar kH Achmad Qusyairi bin Siddiq, mertua KH Abdul Hamid (Mbah Hamid) Pasuruan Rahimahullah , ternyata salah satu ulama yang menolak bergabung di NU

“Aku meminta maaf kepada orang-orang yang disebut ulama di sebuah perkumpulan yang disebut ‘Nahdhatul Ulama’. Karena aku bukan termasuk mereka, demi Allah, bahkan aku bukan orang yang pantas disebut ulama,” demikian bait syair KH Achmad Qusyairi bin Siddiq.

Menurut Habib Assegaf, sejatinya ulama adalah khusus orang-orang seperti yang mempunyai sifat sifat khosyyah dan taqwa, dengan kata ‘innama’ (hanya).

“Mungkinkah disitu ada mukasyafah tentang kondisi pengurus NU sekarang? Wallahu A’lam. Semoga tidak ada yang salah faham dengan Thread saya ini, tapi justru menjadikannya sebagai bahan renungan bersama untuk reposisi NU ke Khittohnya kembali sebagai rumah besar Ahlussunah waljamaah,” tutup Habib Abubakar Assegaf. (dal/fin). 

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer