Isu Soal Tapering AS Jadi Momok Para Investor, Rupiah Melemah
JAKARTA - Investor mulai mewaspadai potensi terjadinya pengurangan nilai pembelian aset (quantitative easing/QE) atau yang dikenal dengan istilah "tapering" oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed). Isu taperinh itu memicu sentimen negatif dan menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Mengutip data Bloomberg, Kamis (3/6) pukul 15.00 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah tipis 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.285 per dolar AS. Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah terjadi karena indeks dolar AS menguat di hari Kamis. "Dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya karena investor mencerna data layanan Caixin China, sambil menunggu data ekonomi AS, terutama terkait prospek ekonomi dan keputusan kebijakan The Federal Reserve AS," ujar Ibrahim dalam keterangan hasil risetnya, Kamis (3/6). Tak hanya itu, kata Ibrahim, jika dilihat dari data ekonomi AS yang baik, investor memprediksi bahwa kondisi ini akan berdampak terhadap kebijakan-kebijakan Pemerintah dan Bank Sentral AS yang mulai membuka wacana soal pengetatan. "Dan bisa saja di tahun 2022 The Fed akan mengurangi pembelian obligasi (tapering) dan menaikkan suku bunga acuan," tuturnya. Tanda-tanda tersebut sudah terlihat dari inflasi yang tinggi setelah Pemerintah AS melakukan stimulus jumbo yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Maka ini merupakan ancaman yang sangat nyata. Indonesia tidak boleh lengah, harus selalu waspada," tambah Ibrahim. Guna untuk menghindari ancaman tapering tersebut, Pemerintah dan Bank Indonesia menurutnya harus mempersiapkan strategi kebijakan/ bauran ekonomi yang bisa menangkal dampak buruk apabila The Fed memang benar-benar melakukan tapering. Pemerintah sudah mempersiapkan beberapa instrumen untk mengantisipasi kemungkinan tersebut. Menurut Ibrahim, perlu diingat bahwa tapering tantrum pernah terjadi di tahun 2013, dimana ekspektasi normalisasi kebijakan moneter AS, memicu pembalikan arus modal dari negara-negara berkembang sehingga nilai tukar rupiah merosot tajam. Hal ini menjadi pelajaran berharga dan perhatian Pemerintah dan Bank Indonesia, dan apabila benar-benar terjadi maka Pemerintah dan Bank Indonesia seharusnya sudah siap untuk menangkalnya. Investor sekarang menunggu data ekonomi utama AS termasuk klaim pengangguran awal, yang akan dirilis hari ini, untuk mengetahui lebih lanjut tentang prospek ekonomi AS. "Data lebih lanjut termasuk penggajian non-pertanian atau Non Farm Payrolls, dirilis pada hari Jumat, yang diperkirakan lebih lemah dari capaian pada bulan April," ujar Ibrahim. Untuk perdagangan besok, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah masih akan berfluktuatif dan cenderung melemah pada akhir perdagangan. "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.265 - Rp14.310 pernah dolar AS," pungkasnya. (git/fin)