Isu Basi Taliban di KPK Mirip Isu Radikal, Kontra dengan Pemerintah Auto Dicap Kadrun

HomeHukum dan KriminalIsu Basi Taliban di KPK Mirip Isu Radikal, Kontra dengan Pemerintah Auto...

JAKARTA- Kabar 75 anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang tidak lolos tes seleksi aparatur sipil negara (ASN) kembali dikaitkan dengan isu Taliban. Isu ini memang telah lama selalu dikaitkan dengan beberapa anggota KPK. Bukan saja taliban, namun juga radikal.

Mantan juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, isu taliban di komisi antirasuah itu, punya kemiripan dengan isu radikal dan kadrun. Dua istilah itu selalu dialamatkan kepada mereka yang kerap kritik pemerintah.

“Isu basi Taliban mirip istilah radikal dan kadrun.. Banyak pihak yang kritik pemerintah, atau yang bersebrangan dengan sesembahan para buzzer jadi auto kadrun,” kata Febri dikutip Twitter-nya, Sabtu (8/5).

Isu taliban dan radikal ini jadi terdengar lucu. Sebab, beberapa orang di KPK non-muslim pun dicap dengan isu Taliban.

“Bahkan bang Cristian, Penyidik KPK juga pernah dicap Taliban. Polanya sama, istilahnya sama. Akun-akun-nya juga sama,” kata Febri.

“Awalnya isu basi Taliban dibangun sedemikian rupa sebelum Revisi UU KPK. Sekarang digunakan untuk menyingkirkan pegawai-pegawai KPK yang sebagian sedang menangani kasus korupsi besar. Kelihatan ga benang merahnya? Kelihatan juga ga siapa yang pakai isu ini?” kata Febri lagi.

Sementara itu, Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas mengatakan, 75 anggota KPK yang tidak lolos seleksi ASN dalam tes wawasan kebangsaan, bukan saja berasal dari kalangan Islam. Tetapi juga non-muslim.

“Saya ingin menyampaikan menurut berita-berita yang bisa kita baca dari media, dari 75 pegawai yang dinyatakan tidak lulus itu ada 8 pegawai KPK yang itu beragama Nasrani dan beragama Budha,” kata Busyro dalam diskusi virtual, Jumat (7/5).

Busyro mengatakan, 8 orang non-muslim yang tidak lolos itu, sekaligus membantah isu radikal dan Taliban di KPK.

“Fakta ini menunjukkan bahwa isu radikal, isu ‘Taliban’, sama sekali memang tidak pernah ada. Justru itu membuktikan adanya radikalisme politik, radikalisme yang dilakukan oleh imperium-imperium buzzer yang selalu mengotori perjalanan nilai-nilai keutamaan bangsa ini,” ucapnya. (dal/fin). 

Baca Juga

Berita Terbaru