News

Produksi Minyak 1 Juta Barel Per Hari di 2030 Sulit Tercapai

  JAKARTA - Target Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas) untuk mencapai lifting minyak 1 juta barel per hari (BOPD) dan 12 miliar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada tahun 2030, disebut sangat sulit untuk dicapai. Hal itu disampaikan oleh Pengamat Energi yang juga Politisi Partai Hanura, Inas N Zubir, kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Minggu (2/5). Menurut Inas, sah-sah saja SKK Migas memiliki target karena hal itu adalah visi kedepan. Namun demikian, misi atau cara yang dilakukan untuk mencapai target itu yang disebutnya sangat sulit untuk dilakukan. "SKK Migas bisa jadi hanya sekedar menghembuskan angin surga dengan mengatakan bahwa Indonesia masih punya 128 cekungan yang belum di eksplorasi, padahal belum tentu minyak dalam cekungan tersebut ekonomis, padahal biaya unruk ekspolarsi bukanlah sedikit," ujar Inas. Pada tahun 2019 misalnya, Pertamina disebutnya memulai pencarian potensi minyak dan gas bumi (migas) di laut melalui sur‎vei seismik 2D, sepanjang 30.000 Kilometer dari Bangka sampai Papua, dimana eksplorasi ini menjadi survei terbesar se-Asia Pasifik dan Australia. "Lalu adakah progres-nya yang dinilai ekonomis dan bisa di eksploitasi? Lalu apa kabarnya juga dengan proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) nya Chevron? Karena nampaknya Chevron mundur dan ogah meneruskan proyek ini karena cost-nya sangat tinggi," kata Inas. Sedangkan chemical untuk proses Enchanced Oil Reservoir (EOR), yaitu sebuah teknologi untuk mengoptimalkan sumur minyak yang sudah tidak produktif, disebutnya juga sulit diimplementasikan karena berbiaya tinggi. "Misalnya saja untuk blok Rokan, dimana teknologi dan chemical-nya punya Chevron dan mereka minta dengan harga yang sangat mahal," ungkapnya. Maka itu menurutnya, untuk menjawab point-point upaya SKK Migas dalam mencapai target 1 juta BOPD minyak dan 12 BSCFD gas, ia sangat yakin bahwa SKK Migas juga sebenarnya bingung. "Saya yakin SKK Migas juga bingung, karena kerjanya hanya teken kontrak, monitoring dan broker minyak bagian Negara," ujarnya sembari berkelakar. Terakhir, Inas menyarankan kepada pemangku kebijakan untuk bertindak dengan bijaksana dan mengeluarkan kebijakan yang realistis. Ketimbang mengejar minyak, ia lebih menyarankan agar melakukan optimalisasi terhadap potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT). "Oleh karena itu cekungan-cekungan yang ada jangan dieksploitasi habis-habisan, lebih baik ditinggalkan saja untuk diwariskan kepada generasi berikutnya. Lupakan ambisi lifting 1 juta barel (BOPD) dan diharapkan Pemerintah fokus dan serius dalam program EBT dengan memanfaatkan CPO sebagai substitusi Crude Oil," pungkasnya. (git/fin)

Berita Terkait