Iklan
Iklan
News

Impor Melesat, Surplus Perdagangan RI Diperkirakan Menyempit

  JAKARTA - Jelang rilis perdagangan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis (15/4) mendatang, jejak pendapat Reuters mengungkap surplus neraca perdagangan Indonesia diperkirakan menyempit pada Maret. Hal itu seiring dengan peningkatan tensi impor menjelang bulan puasa. Jejak pendapat itu bahkan menyebut meski ekspor diuntungkan dari kenaikan komoditas, hal itu belum mampu menahan gerak surplus untuk tidak menyempit. Proyeksi rata-rata dari 14 ekonom dalam jajak pendapat itu, Indonesia--ekonomi terbesar di Asia Tenggara--diperkirakan mencatat surplus perdagangan USD1,64 miliar pada Maret, menyusut dari USD2,01 miliar di bulan sebelumnya, demikian dikutip dari laporan Reuters, di Jakarta, Selasa (13/4). Indonesia sendiri melaporkan terjadinya surplus perdagangan bulanan dalam 10 bulan hingga Februari, karena ekspor pulih lebih cepat ketimbang impor dari dampak pandemi virus corona. Jajak pendapat tersebut juga memperkirakan ekspor Maret tumbuh pada laju tahunan yang lebih cepat sebesar 11,74 persen, dibandingkan 8,56 persen pada bulan sebelumnya. Impor terlihat naik 6 persen, melambat dari 14,86 persen di Februari. Namun secara bulanan, pertumbuhan impor diperkirakan lebih kuat dari peningkatan ekspor. Ekonom Bank Permata Tbk, Josua Pardede mengatakan permintaan bahan baku impor melonjak seiring peningkatan produksi industri manufaktur domestik. "Selain itu, pemerintah juga membuka keran impor sejumlah komoditas pangan seperti bawang putih, daging sapi, dan gula untuk mengantisipasi permintaan menjelang Ramadhan," ungkap Josua. (git/fin)

Berita Terkait