News

Minyak Dunia Relatif Stabil, Meski Terbebani Lockdown di Eropa

Minyak Dunia Relatif Stabil, Meski Terbebani Lockdown di Erop

JAKARTA - Harga minyak dunia relatif stabil, Senin, terimbas harapan kenaikan permintaan tahun ini yang membantu menahan aksi jual yang luas pekan lalu. Meski demikian harga tetap di bawah tekanan karena penguncian akibat virus corona di Eropa yang membuat pemulihan semakin lama.

Dikutip dari laporan Reuters di New York, minyak mentah berjangka Brent patokan internasional, mengakhiri sesi dengan kenaikan 9 sen atau 0,1 persen menjadi USD64,62 per barel. Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman April, ditutup turun 13 sen, atau 0,2 persen, menjadi USD61,55 per barel ketika  expired.

Minyak mentah WTI yang lebih aktif untuk kontrak pengiriman Mei naik 12 sen atau 0,2 persen menjadi menetap di USD61,56 per barel, demikian dikutip dari laporan Reuters, Senin (22/3) atau Selasa (23/3) pagi WIB.

Kedua kontrak minyak itu anjlok lebih dari 6 persen pekan lalu setelah membukukan kenaikan yang stabil selama berbulan-bulan, didukung pemotongan produksi dan ekspektasi pemulihan permintaan.
"Minyak (mengalami) pekan terburuk tahun ini karena meningkatnya kekhawatiran atas kasus Covid-19 yang melonjak di seluruh Eropa," demikian pernyataan bank asal Belanda, ING, dalam sebuah catatan. "Ini terjadi pada saat ada tanda-tanda yang jelas dari pelemahan di pasar fisik minyak."
Pasar fisik berada di bawah tekanan karena penyulingan di seluruh dunia, termasuk China dan Amerika Serikat, memulai aktivitas pemeliharaan.
Musim pemeliharaan di China akan mencapai puncaknya pada Mei, dan mulai berkurang pada Juni.
Hampir sepertiga rakyat Prancis memasuki fase lockdown selama sebulan pada Sabtu, sementara Jerman berencana untuk memperpanjang lockdown menjadi bulan kelima, menurut draft  proposal.
Senin, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memperingatkan bahwa gelombang ketiga infeksi Covid-19 yang menghantam seluruh Eropa bisa menuju Inggris.
"Kampanye vaksinasi belum secepat yang diharapkan pasar dan akibatnya hal ini akan berdampak pada pemulihan permintaan minyak, yang pada gilirannya menekan harga," kata Louise Dickson, analis Rystad Energy.
Kendati pemulihan ekonomi yang luas masih sulit dipahami, CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, optimistis dengan prospek jangka panjang bagi eksportir minyak terbesar dunia itu.
Pada Minggu, Nasser mengatakan permintaan minyak global berada di jalur yang tepat untuk mencapai 99 juta barel per hari (bph) pada akhir 2021.
"Walau saya pikir permintaan akan meningkat lebih lanjut karena lebih banyak negara melonggarkan pembatasan perjalanan dalam beberapa bulan mendatang, dampak dari hal ini akan diimbangi dengan peningkatan pasokan minyak," ujar Fawad Razaqzada, analis ThinkMarkets.
"OPEC Plus akan melonggarkan pembatasan pasokan secara perlahan, sementara produksi  shale-oil  Amerika kemungkinan akan meningkat karena harga minyak yang atraktif kembali. Secara keseluruhan, saya tidak melihat harga minyak naik lebih jauh secara signifikan."
"Saya pikir Brent akan berjuang untuk bertahan di atas USD70 dan memperkirakan WTI akan mencapai rata-rata sekitar USD60 per barel pada 2021."
Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) dan sekutunya, bersama-sama dikenal sebagai OPEC Plus, melakukan pemotongan produksi yang belum pernah terjadi sebelumnya, untuk menyeimbangkan pasar global setelah permintaan anjlok selama pandemi Covid-19.
Sementara itu, pengebor Amerika mulai memanfaatkan lonjakan harga baru-baru ini, menambahkan  rig  paling banyak sejak Januari dalam pekan yang berakhir hingga Jumat lalu. (git/fin)

Berita Terkait