Penggunaan Naik Tiga Kali Lipat Akibat Pandemi, Krisis Air Mengancam

fin.co.id - 22/03/2021, 19:17 WIB

Penggunaan Naik Tiga Kali Lipat Akibat Pandemi, Krisis Air Mengancam

Pesawat milik maskapai Citilink terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Ruang di Bandara Sam Ratuangi, Manado, Sulawesi Utara

  JAKARTA - Penggunaan air bersih meningkat hingga tiga kali lipat selama masa pandemi virus Corona berlangsung. Hal itu didorong oleh peningkatan kebutuhan mandi dan mencuci tangan yang meningkat dalam upaya mencegah penularan Covid-19. Hal itu terungkap dari hasil kajian Indonesia Water Institute (IWI) yang dipaparkan oleh Ketua IWI, Firdaus Ali dalam peringatan World Water Day 2021, Senin (22/3). Menurut Firdaus, penting sekali untuk memutakhirkan infrastruktur air bersih di Indonesia agar terhindar dari krisis air bersih yang lebih dalam lagi. "Saat ini kita mengalami kondisi krisis, kelebihan pada saat musim hujan dan kekurangan pada saat tidak musim hujan. Bahkan pada saat musim hujan, karena ketidakmampuan kita mengelola titipan Tuhan, akhirnya menjadi bencana,” ujar Firdaus. Firdaus yang juga Staf Khusus Menteri PUPR Bidang Sumber Daya Air mengungkapkan, dalam penyelesaian isu krisis air bersih, peran dari generasi muda sangatlah diperlukan. Karenanya, berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi terus dijalankan dengan melibatkan generasi muda. Dalam rangkaian kegiatan World Water Day 2021 yang digelar Indonesia Water Institute, berbagai kegiatan yang sepenuhnya melibatkan anak muda juga banyak digelar. Tujuannya untuk mengingatkan dan memicu pemikiran kritis dari para generasi muda agar memahami persoalan lingkungan yang dihadapi, khususnya dalam manajemen sumber daya air. Menurutnya, menumbuhkan kesadaran bersama itu penting untuk dilakukan, terlebih masih banyak warga yang tidak menghargai dan mengelola air dengan baik, sehingga memunculkan pencemaran air dan bencana. “Membangun kesadaran bersama adalah satu kebutuhan. Kita perlu menyadarkan generasi muda bahwa mulai dari saat ini mereka harus kolaborasi untuk menata masa depan dan menghadapi tantangan ke depan,” tuturnya. Sementara itu, Direktur Bina Teknik Sumber Daya Daya Air Kementerian PUPR, Eko Winar Irianto mengungkapkan, dalam upaya mengatasi krisis air selama pandemi covid-19 dan mengantisipasi bencana yang kerap terjadi, pihaknya menargetkan untuk menyelesaikan pembangunan 13 bendungan. Melalui penyelesaian pembangunan 13 bendungan tersebut, volume tampungan akan meningkat jadi 728,87 juta/m3, irigasi yang dilayani bisa bertambah menjadi 134.799 hektar, dan air baku akan meningkat menjadi 5,83 m3 per detik. “13 bendungan diharapkan selesai pada 2021, sehingga kapasitas tampung akan meningkat menjadi sekitar 730 juta/m3,” jelas Eko. Adapun 13 bendungan yang ditargetkan selesai tahun ini yaitu, bendungan kuningan, ciawi, sukamahi, pidekso, bendo, gongseng dan tugu yang ada di Pulau Jawa. Lalu bendungan margatiga dan way sekampung di pulau Sumatera. Kemudian di pulau Sulawesi disebut ada tuga bendungan yang, diselesaikan yaitu bendungan ladongi, paselloreng, dan karalloe. Kemudian di Nusa Tenggara Barat yaitu bendungan bintang bano. Selain pembangunan bendungan, secara umum upaya yang dilakukan Kementeeian PUPR untuk mengatasi krisis air antara lain membangun jaringan irigasi padi dan non padi, rehabilitasi jaringan irigasi dan rawa, penyediaan air baku, revitalisasi 15 danau prioritas, penanganan situ-situ, pengendalian banjir, hingga membangun pengamanan pantai. (git/fin)  

Admin
Admin
Penulis

Penulis FIN.CO.ID