Begini Kondisi Kesehatan Penyebab Seseorang Batal Menerima Vaksin Covid-19

BerandaCovid-19Begini Kondisi Kesehatan Penyebab Seseorang Batal Menerima Vaksin Covid-19

JAKARTA – Ada sejumlah gejala yang mengharuskan seseorang, termasuk yang dalam kategori lanjut usia, ditunda atau bahkan tidak jadi alias batal mendapatkan vaksin COVID-19.

“Orang yang kontak dengan pasien COVID-19, apa ada gejala demam, batuk, pilek, sesak napas. Kalau ada, tunda 14 hari. Apakah pernah terkonfirmasi? Kalau iya, tunda 3 bulan sejak terkonfirmasi,” kata Ketua Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PERGEMI) sekaligus dokter spesialis geriatrik, Siti Setiati, Minggu (7/3).

Orang dengan riwayat penyakit akut dan tidak terkendali, kemudian pasien kanker dengan pengobatan, kecuali ada surat rekomendasi dari dokter yang merawat, juga sebaiknya menunda waktu vaksinasi.

“Orang dengan penyakit autoimun sistemik, menunda (vaksinasi) atau berkonsultasi dulu dengan dokter,” kata Siti.

Khusus lansia, ada syarat tambahan yang perlu dipenuhi sebelum divaksinasi yakni terkait kerentaan dan ini bahkan bisa berdampak pada gagalnya dia mendapatkan vaksin.

Siti mengatakan, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan penting misalnya ada tidaknya kesulitan naik 10 anak tangga, sering merasa lelah, kesulitan berjalan sekitar 100-200 meter, penurunan berat badan yang bermakna dalam setahun terakhir.

Pertanyaan lainnya, terkait apakah memiliki paling sedikit lima dari penyakit yakni: hipertensi, diabetes, kanker, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke, dan penyakit ginjal.

“Kalau ada tiga atau lebih jawaban ‘ya’, maka sebaiknya memang vaksinasi tidak diberikan. Atau punya lima penyakit ditambah dua masalah lain maka tidak disarankan untuk divaksinasi,” kata dia.

Untuk memudahkan, PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia) sudah membagikan kuesioner yang bisa diisi mencakup RAPUH yang merupakan akronim dari Resistensi, Aktivitas, Penyakit lebih dari 4, Usaha berjalan dan Hilangnya berat badan.

Pada kategori Resistensi, pertanyaan yang harus dijawab: “Dengan sendiri atau tanpa bantuan alat, apakah Anda mengalami kesulitan untuk naik 10 anak tangga tanpa istirahat di antaranya”. Beri skor 1 untuk jawaban “ya” dan 0 untuk “tidak”.

Untuk kategori Aktivitas, pertanyaannya “Seberapa sering dalam empat minggu Anda merasa kelelahan?”. 1: Sepanjang waktu; 2: Sebagian besar waktu; 3: Kadang-kadang; 4: Jarang. Jawaban 1 atau 2 mendapatkan skor 1 dan selain itu skornya 0.

Pada kategori Penyakit lebih dari 4, partisipan ditanya apakah dokter pernah mengatakan tentang penyakit Anda (seperti contoh penyakit di atas)?. Bila jawaban jumlah total penyakit skor yang tercatat 0-4 penyakit beri skor 0 dan 5-11 penyakit berilah skor 1.

Kemudian untuk kategori Usaha berjalan, pertanyaan yang diajukan “Dengan diri sendiri dan tanpa bantuan, apakah Anda mengalami kesulitan berjalan kira-kira 100-200 meter?” Beri skor 1 apabila “ya” dan 0 bila “tidak”.

Terakhir, kategori Hilangnya berat badan yang biasanya dihitung menggunakan data bobot tubuh tahun dan sekarang. Persamaan yang digunakan [(bobot tahun lalu-bobot sekarang): berat bada satu tahun] dikali 100 persen.

Apabila hasil lebih dari 5 persen atau artinya mewakili kehilangan berat badan 5 persen maka beri skor 1.

Interpretasi kuesioner yakni: skor total 1-2 prarapuh dan skor lebih dari 2 rapuh atau renta.

Menurut Siti, lansia sebaiknya menjalani penyaringan (screening) kerentaan minimal tiga hari jadwal vaksinasi agar apabila ada penyakit bisa mendapatkan pengobatan dan mengetahui layak atau tidaknya dia divaksin. Screening bisa dilakukan mandiri di rumah atau fasilitas kesehatan semisal puskesmas atau rumah sakit.

Dia menekankan persiapan agar vaksinasi bisa bekerja optimal, mempertimbangkan disfungsi imunitas karena usia. Hal ini berhubungan dengan respon terhadap vaksin yang kurang maksimal.

“Karena immunosenescence biasanya sudah terjadi inflamasi kronis lebih rendah akibat kombinasi penurunan imunitas tubuh, paparan terhadap antigen terus menerus, peningkatan produksi sitokin proinflamasi dari senescent T cells dan makrofag,” kata Siti. (ant/fin)

Baca Juga

Berita Terbaru

spot_img