News

Jalur Cepat SMK-D2

fin.co.id - 17/12/2020, 11:35 WIB

Pesawat milik maskapai Citilink terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Ruang di Bandara Sam Ratuangi, Manado, Sulawesi Utara

JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) meluncurkan program Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)–Diploma Dua (D2) Jalur Cepat.

Program Jalur Cepat SMK-D2 merupakan realisasi skema sambung-suai dunia pendidikan dan DUDI yang melibatkan tiga pihak yaitu SMK, Pendidikan Tinggi Vokasi (PTV), dan DUDI.

BACA JUGA:  Hamil 4 Bulan, Audi Marissa Merasa Calon Bayinya Sedang TikTokan

PTV yang dimaksud bisa berupa politeknik, akademi komunitas, universitas/institut, dan sekolah tinggi yang memiliki program diploma dua (D-2).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengatakan, program tersebut merupakan terobosan baru yang tidak hanya menambah daya tarik pendidikan vokasi, melainkan juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memilih yang terbaik untuk dirinya.

BACA JUGA:  Komitmen Pacu Ekspor, Bea Cukai Sediakan Fasilitas Kepabeanan ke Pelaku Usaha

"Melalui program ini, siswa bebas memilih lulus di akhir tahun ketiga atau melanjutkan ke Diploma Dua jalur cepat. Peserta didik berkesempatan menambah satu tahun untuk mendapatkan keterampilan yang lebih dalam sehingga berpeluang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik," kata Nadiem di Jakarta, Rabu (16/12).

Nadiem menjelaskan, tujuan dari program ini adalah agar peserta didik mendapat kesempatan sebanyak mungkin pengalaman dari DUDI. Sehingga, kesempatan lulusan vokasi mendapatkan pekerjaan yang layak semakin besar karena sudah selaras dengan kebutuhan DUDI.

BACA JUGA:  Satgas: Libur Panjang Berefek pada Peningkatan Kematian Akibat Covid-19

"Program ini merupakan dua dari sekian banyak program Merdeka Vokasi yang berorientasi pada sambung-suai pendidikan vokasi dengan DUDI, yang secara berkala akan diluncurkan ke depannya," terangnya.

Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi), Wikan Sakarinto menjelaskan, melalui program tersebut, ketika siswa lulus nanti tidak hanya akan mengantongi ijazah SMK saja, namun juga ijazah D2 sekaligus.

BACA JUGA:  Tersisa 2 Minggu, Gus Menteri Minta Penggunaan Dana Desa 2020 Dipercepat

"Untuk bisa mengikuti program siswa SMK diharuskan menempuh tambahan masa studi hingga tiga semester untuk dapat mengikuti program SMK-D2 Jalur Cepat," kata Wikan.

Wikan menambahkan, bahwa selama tiga semester, siswa SMK dititikberatkan pada aktivitas kuliah di Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) ditambah magang di Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI).

BACA JUGA:  Kementerian PUPR Dorong Persaingan Usaha Sehat Dan Adil di Bidang Jasa Konstruksi

"Skemanya, siswa menempuh enam semester di SMK dan tiga semester menjadi mahasiswa di level pendidikan tinggi. Jadi, pengalaman bekerja di industri akan lebih banyak," ujarnya.

Bersamaan keluarnya program SMK-D2 Jalur Cepat tersebut, Kemendikbud juga memiliki program Peningkatan Prodi Diploma Tiga (D3) menjadi Sarjana Terapan (Diploma Empat-D4).

BACA JUGA:  Jokowi Pastikan Vaksin Diberikan Gartis ke Masyarakat

Program tersebut sama-sama memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bisa mendapatkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan memberikan peluang untuk bisa mengisi posisi supervisor produksi serta pelaksana lapangan andal yang dibutuhkan oleh DUDI.

Terkait program ini, kata Wikan, PTV dapat mengajukan peningkatan prodi dengan syarat sudah memiliki atau melibatkan rekanan DUDI pada program D4 tersebut.

BACA JUGA:  Pendamping Desa Jadi Kunci Keberhasilan Performa Kemendes PDTT

"Jadi, kalau PTV ingin Prodi D3 ditingkatkan menjadi sarjana terapan, syaratnya adalah memiliki rekam jejak sudah berhasil link and super-matc’ dengan beberapa DUDI yang bereputasi, serta harus memiliki visi pengembangan prodi yang kuat dan visioner, jauh ke depan, termasuk dalam hal pengembangan kerja sama luar negeri dan pengembangan kewirausahaan yang tangguh," terangnya.

Selain diprioritaskan bagi prodi-prodi yang sudah mengembangkan dan melaksanakan program kolaborasi dengan kampus luar negeri yang bereputasi, kata Wikan, PTV juga harus memiliki peta jalan pengembangan prodi hingga 15 tahun ke depan serta strategi promosi prodi sarjana terapan ke masyarakat dan DUDI.

BACA JUGA:  Komnas HAM: Transparansi Petugas Pilkada 2020 yang Positif Covid-19 Kurang

"Meski demikian, bagi PTV yang masih menginginkan prodinya tetap pada jenjang D3, maka dipersilakan untuk tidak memilih opsi upgrade atau meningkatkan menjadi sarjana terapan/D4," imbuhnya.

Dari kedua program tersebut, lanjut Wikan, baik program SMK-D2 Jalur Cepat maupun Peningkatan Prodi D3 menjadi sarjana terapan harus mengimplementasikan konsep kurikulum Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka.

BACA JUGA:  Kementerian PUPR Dorong Persaingan Usaha Sehat Dan Adil di Bidang Jasa Konstruksi

Terlebih, kurikulum ini juga harus disusun bersama pihak industri dan calon pengguna lulusan, dengan penerapan minimal magang di DUDI selama minimal satu semester dan skema pembelajaran berbasis praktik kerja (project based learning).

"Praktik kerja bisa berasal dari industri maupun masyarakat. Hasil pembelajarannya harus bermanfaat nyata bagi industri dan masyarakat," tuturnya.

BACA JUGA:  Pemkot Bogor Larang Kegiatan Perayaan Malam Tahun Baru 2021

Prinsip dasar program ini berbasis kebutuhan nyata dari DUDI. Yakni lulusan dengan kompetensi hard skills dan soft skills tinggi serta bermental siap kerja.

"Pada pelaksanaan tahap awal, tercatat 20 PTV, lebih dari 80 SMK, dan 35 DUDI yang siap berkomitmen untuk menjadi pionir dalam mewujudkan program ini," pungkasnya. (der/fin)

Admin
Penulis
-->