WHO: Jangan Menyerah

HomeInternasionalWHO: Jangan Menyerah

JAKARTA – Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan negara-negara di dunia agar tidak menyerah melawan pandemi COVID-19, meskipun melelahkan secara fisik dan mental.

Terlebih lagi saat ini, angka kasus COVID-19 melonjak di seluruh dunia, terutama di negara-negara belahan utara bumi seperti Eropa dan Amerika Utara.

“Bekerja dari rumah, anak-anak sekolah jarak jauh, tidak dapat merayakan pencapaian bersama teman dan keluarga, atau tidak berada di sana untuk meratapi orang yang dicintai – itu berat dan kelelahan itu nyata adanya,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Kamis (29/10).

Tedros menyebut, lebih dari 43 juta orang di seluruh dunia dinyatakan positif virus corona, di mana pekan lalu terjadi peningkatan kasus COVID-19 tertinggi sejak pandemi dimulai.

BACA JUGA: Nathalie Holscher Blak-blakan Sebut Bagian Tubuh Sule yang Disukainya

Tercatat lebih dari 1,1 juta orang telah meninggal karena COVID-19. Namun, dia mengimbau agar orang-orang tidak menyerah.

“Para pemimpin harus menyeimbangkan kesulitan hidup dengan kebutuhan untuk melindungi petugas kesehatan dan sistem kesehatan saat perawatan intensif terisi,” ujarnya.

Tedros juga memperingatkan negara-negara agar tidak mempolitisasi pandemi. “Di mana telah terjadi perpecahan politik di tingkat nasional, di mana telah ada rasa tidak hormat yang terang-terangan terhadap para ahli sains dan kesehatan, kebingungan telah menyebar dan kasus serta kematian telah meningkat,” tuturnya.

BACA JUGA: Soal Hukum Mati Bagi Penghina Nabi, Ustad Hilmi Sarankan Abu Janda Baca Sirah Nabawiyah

Menurut Tedros, banyak negara dan kota di dunia banyak negara dan kota telah mengikuti sains, dan mampu menekan Virus Corona COVID-19 dan meminimalkan jumlah kematian.

“Kepemimpinan yang cepat dan terencana dapat membantu menekannya COVID-19,” ujarnya.

Sementara itu, para peneliti telah mempelajari efek polusi pada kematian COVID-19. Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Cardiovascular Research menujukkan bahwa paparan polusi udara jangka panjang mungkin memiliki keterkaitan dengan 15% kematian dari sedikitnya 1,1 juta kematian kasus COVID-19.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Jerman dan Siprus itu mengamati data kesehatan dan penyakit di AS dan Cina terkait polusi udara.

BACA JUGA: Denny Siregar: Kalian Juga Suka Ngejek Agama Lain, Sekali Balik Diejek Langsung Main Penggal

Para peneliti menggabungkannya dengan data satelit tentang paparan global terhadap partikel mikroskopis dan polusi di darat.

Di Asia Timur, penelitian mengatakan bahwa 27% kematian terkait COVID-19 dapat dikaitkan dengan kualitas udara yang buruk.

Sementara di Eropa tercatat sebesar 19%, dan 17% di Amerika Utara.

Tim penulis penelitian tersebut menekankan bahwa tidak berarti polusi udara itu sendiri berkontribusi langsung pada kematian, tetapi bisa menjadi faktor pendamping. rap/gtp (der/fin)

Baca Juga

Berita Terbaru