Setelah UU SSW

Beranda Disway Setelah UU SSW

Oleh: Dahlan Iskan

 

DENGAN redanya demo anti UU Cipta Kerja dua-tiga hari belakangan ini sekali lagi menunjukkan bahwa pemerintah benar-benar kuat—secara politik.

Tapi itu tidak akan ada artinya kalau Jokowi belum pernah bisa menunjukkan kekuatannya di sektor satu ini: ekonomi.

Kekuatannya di politik ini bisa jadi hanya menyimpan bara yang panas di bawah permukaan.

Memang, bara itu bisa dipadamkan. Atau jangan-jangan tidak. Tapi bara di bawah permukaan  itu hanya bisa padam oleh dua siaraman.

Pertama,  kesungguhan dalam mempermudah semua jenis usaha —termasuk UMKM.

UU Cipta Kerja ini bisa jadi hanya monumen mati jika pelaksanaan di lapangannya jauh panggang dari api. Kita sudah biasa melihat banyaknya peraturan yang  baik —tapi tidak begitu praktiknya.

Kedua, bila pertumbuhan ekonomi benar-benar meroket. Kalau ekonomi ternyata biasa-biasa saja, bara itu akan kian panas.

Untuk yang pertama itu pemerintah akan menghadapi dirinya sendiri: birokrasi yang sebesar kapal Titanic ini. Bisakah nakhoda kapal besar itu membelokkannya. Secara tiba-tiba. Tanpa oleng. Apalagi tenggelam.

Kecepatan membuat UU ini  mengagumkan. Cara meredam penentang UU ini juga menunjukkan nyali yang tinggi.

Tapi semua itu hanya akan menjadi cela kalau ternyata tidak bisa menundukkan birokrasinya  sendiri.

Birokrasi yang akan bisa membuat UU ini seperti masakan Padang —enak dipandang sekaligus enak dirasakan.

Dari ikut diskusi di TV One kemarin malam, saya jadi tahu bahwa peraturan pelaksanaan UU ini ternyata tidak banyak. Hanya 43 peraturan —38 peraturan pemerintah dan 5 peraturan presiden.

Itu berarti pembuatannya juga bisa cepat. Tidak memerlukan persetujuan siapa-siapa. Tinggal presiden sendiri yang perlu tanda tangan.

Berarti akhir tahun ini pun UU itu bisa dijalankan —lengkap dengan aturan pelaksanaannya.

Begitu cepat.

Sekali lagi, tinggal satu masalah ini: sudah siapkah kapal besar kita melakukan manuver sesuai dengan kehendak nakhoda?

Kalau itu berhasil kita masih harus sukses melakukan siraman kedua. Agar bara itu padam. Siraman kedua ini adalah: pertumbuhan ekonomi. Ini menyangkut eksternal. Yang tidak mudah dikendalikan.

Kalau kita tidak berhasil membuat pertumbuhan ekonomi tinggi maka kelelahan membuat UU ini tidak terbayarkan.

Maka sebenarnya kita ingin tahu: dengan senjata baru UU Cipta Kerja ini berapa persenkah pertumbuhan ekonomi yang bisa dihasilkan? Yakni yang bisa menciptakan kerja seperti dimaksudkan di judul UU itu?

Ternyata, UU inikah yang diandalkan ketika pemerintah merencanakan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 sebesar 4 sampai 5 persen?

Angka pertumbuhan itu disampaikan di dalam pidato presiden di DPR 16 Agustus lalu. Waktu itu saya terkejut —dan agak meragukan. Terutama karena beratnya pandemi ini. Kok begitu beraninya merencanakan pertumbuhan yang begitu tinggi.

Waktu itu saya tidak menghitung bahwa UU Cipta Kerja ini bisa dikebut secara SSW —set-set wuet.

Namun biar pun sudah ada UU SSW mungkinkah angka 5 persen itu tercapai?

Pun setelah ada UU SSW, saya masih sulit menebak dari mana investasi sebesar 3 persen dari PDB itu bisa didapat. Padahal tanpa investasi yang besarnya 3 persen dari PDB itu target pertumbuhan tersebut sulit dicapai.

Maka satu-satunya sumber yang saya lihat hanya ini: Tiongkok. Negara itulah yang secara nyata punya dana lebih. Apalagi kalau Tiongkok akan terus mengurangi tabungannya di Amerika. Untuk dialihkan ke negara lain.

Tentu Arab Saudi juga punya uang. Berlimpah. Tapi di mana logika ekonominya? Agar  petrodolar itu bisa mengalir ke Indonesia?

Saya tidak menemukan jalurnya yang logis. Saudi akan tetap lebih tertarik untuk menanamkan uangnya di Amerika —bodyguard-nya itu. Indonesia bisa dianggap tidak penting di mata Saudi —meski pun kita menganggap Saudi itu penting.

Rencana investasi Saudi di kilang pun dengan mudahnya  batal!

Lalu di mana logikanya Tiongkok mau menanamkan investasinya di Indonesia?

Salah satu yang bisa masuk logika adalah di neraca perdagangan. Tiongkok selalu surplus ketika berdagang dengan Indonesia.

Angka surplus itu yang bisa kita harapkan sebagai sumber investasi Tiongkok di Indonesia. Seperti juga selama ini: Tiongkok selalu menginvestasikan surplus neraca perdagangannya dengan Amerika untuk membeli obligasi di sana.

Itu berarti hubungan Indonesia-Tiongkok adalah suatu keniscayaan. Kecuali ketika Prabowo yang ke Amerika minggu ini bisa pulang dengan tiba-tiba membawa Donald Trump ke Indonesia.(*)

Baca Juga

Dapil Khianat

Oleh: Dahlan Iskan "SAYA menyesal mendukungnya dulu," ujar Presiden Donald Trump. Ia kecewa ketika Gubernur Georgia –yang justru dari Partai Republik– mengumumkan kemenangan Joe Biden...

Retribusi 0 Persen

Oleh: Dahlan Iskan HARI-hari ini medsos ramai soal retribusi batu bara 0 persen. Kecurigaan terhadap UU Omnibus Law pun muncul:  juragan besar batu bara yang...

APBN Proyek

Oleh: Dahlan Iskan ADA yang lebih menarik di balik pembentukan Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia itu (Disway, 26 November). Yakni akan hilangnya pos biaya proyek...

Pengampunan Kalkun

Oleh: Dahlan Iskan HARI raya kalkun kali ini begitu banyak diwarnai persoalan politik. Maka meja-meja makan pun dipenuhi pembicaraan politik. Tidak lagi seperti tahun-tahun lalu:...

Rekomendasi Lainnya

Presiden Ingatkan Jakarta dan Jateng

JAKARTA - Presiden Joko Widodo memperingatkan dua provinsi yang mengalami peningkatan drastis kasus positif COVID-19. Yaitu Jawa Tengah dan DKI Jakarta. "Saya ingin ingatkan ada...

Ada Lonjakan Covid, Masyarakat Harus Waspada

JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir meminta masyarakat terus waspada agar tidak ada lonjakan kasus baru COVID-19. Pemerintah sedang berupaya menghadirkan vaksin yang aman,...

Indonesia Hati-hati Tangani Pandemi

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menegaskan Indonesia terus berhati-hati dalam menangani COVID-19. Terlebih, saat ini kasusnya mengalami peningkatan cukup signifikan. Hal...

Manfaat Vaksinasi Lebih Banyak

JAKARTA - Vaksinolog dan dokter spesialis penyakit dalam Dirga Sakti Rambe MSc SpPD mengatakan manfaat vaksinasi lebih banyak dibandingkan efek sampingnya. "Namanya produk medis pasti...

Dimas Ramadhan Punya Banyak Harta Karun...

JAKARTA - Presenter Billy Syahputra merasa terkejut saat mengetahui tempat Dimas Ramadhan menyimpan uang. Usut punya usut, 'kembaran' Raffi Ahmad itu hingga saat ini...

Polda Metro Pastikan Bakal Swab Test...

JAKARTA - Polda Metro Jaya memastikan bakal melakukan tes usap (swab test) terhadap Imam Besar FPI Habib Rizeq Shihab jika yang bersangkutan menghadiri pemeriksaan...

Luhut Binsar Minta Aparat dan Pemda...

JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan meminta agar aparat maupun pemerintah daerah tak lagi mengizinkan masyarakat berkumpul...

Taiwan Tutup Sementara Penerimaan TKI Selama...

JAKARTA - Pemerintah Taiwan menangguhkan sementara penerimaan pekerja migran asal Indonesia atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) selama dua pekan. Keputusan tersebut diambil usai terjadi lonjakan...

Baca Juga

Dapil Khianat

Oleh: Dahlan Iskan "SAYA menyesal mendukungnya dulu," ujar Presiden Donald Trump. Ia kecewa ketika Gubernur Georgia –yang justru dari Partai Republik– mengumumkan kemenangan Joe Biden...

Retribusi 0 Persen

Oleh: Dahlan Iskan HARI-hari ini medsos ramai soal retribusi batu bara 0 persen. Kecurigaan terhadap UU Omnibus Law pun muncul:  juragan besar batu bara yang...

APBN Proyek

Oleh: Dahlan Iskan ADA yang lebih menarik di balik pembentukan Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia itu (Disway, 26 November). Yakni akan hilangnya pos biaya proyek...

Pengampunan Kalkun

Oleh: Dahlan Iskan HARI raya kalkun kali ini begitu banyak diwarnai persoalan politik. Maka meja-meja makan pun dipenuhi pembicaraan politik. Tidak lagi seperti tahun-tahun lalu:...

Vaksin

Oleh: Dahlan Iskan KEKHAWATIRAN saya ternyata berlebihan. "Sekarang ini vaksin sudah masuk," ujar Menko Kemaritiman dan Investasi Jenderal Luhut Panjaitan. Yang dimaksud sekarang adalah hari Rabu...

Berita Terbaru

Kematian Maradona Diusut

JAKARTA - Polisi mengusut kematian legenda sepakbola Diego Armando Maradona. Diduga kematian sang bintang karena malapraktik dokter pribadinya. Sekitar 30 polisi di Buenos Aires menggeledah...

Pasca Kecelakaan, Grosjean: Halo Sang Penyelamat

SHAKIR - Pebalap Formula 1 (F1) Romain Grosjean lolos dari maut akibat kecelakaan horor di Sirkuit Shakir, Bahrain, Minggu (29/11). Pebalap dari tim Haas-Ferrari...

Dapil Khianat

Oleh: Dahlan Iskan "SAYA menyesal mendukungnya dulu," ujar Presiden Donald Trump. Ia kecewa ketika Gubernur Georgia –yang justru dari Partai Republik– mengumumkan kemenangan Joe Biden...

Masyarakat Jangan Ragukan Vaksin

JAKARTA - Vaksinolog Dirga Sakti Rambe mengatakan masyarakat tidak perlu ragu menjalani vaksinasi. Sebab, akan mendapat izin edar dari BPOM dan dapat dipastikan efektivitasnya. Pembuatan...

Jangan Sampai Tertular dan Menulari

JAKARTA - Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI Mayjen TNI Tugas Ratmono mengingatkan masyarakat selalu disiplin menjalankan protokol kesehatan. Tujuannya agar pandemi COVID-19 dapat segera...

Foto-Foto

News

Kasus Covid-19 Melonjak di Sejumlah Negara, Kurs Rupiah Ditutup Melemah

JAKARTA - Nilai tukar (kurs) Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (30/11) ditutup melemah seiring kenaikan jumlah kasus Covid-19. Rupiah ditutup melemah 30...

Luqman Hakim: Ciri Pemimpin Gadungan Itu Suka Obral Takbir, Na’udzubillahi

JAKARTA- Ketua bidang politik dan pemerintahan PP GP Ansor, Luqman Hakim menilai, pemimpin harus berikana keteladanan yang baik kepada ummatnya. Apalagi pemimpin itu seorang...

Video Viral Azan Panggilan Jihad, Muannas Alaidid Minta Polisi Bertindak

JAKARTA- Sebuah potongan video beredar di media sosial. Video itu memperlihatkan sekelompok remaja memegang poster Habib Rizieq Shihab sambil mengumandangkan panggilan jihad. Dalam video itu,...