Jangan Sampai Terbuai Gawai

Beranda Nusantara Jangan Sampai Terbuai Gawai

PURWOKERTO – Di era sekarang. Penggunaan gawai sudah tidak asing lagi. Akses informasi, diskusi, belanja, transaksi, hingga rekreasi hiburan, bisa dilakukan lewat gawai. Namun, harus tetap sesuai porsi. Jangan sampai jadi adiksi.

Diberitakan sebelumnya. Kala pandemi. Ada remaja yang candu, terhadap gawai. Bukan hanya satu. Tapi ada 20. Bahkan sampai rawat inap, di Instalasi Kesehatan Jiwa Terpadu RSUD Banyumas. Sekarang sudah pulang. Sudah tidak dirawat.

Melihat itu, Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Banyumas Imam Ahfas mengaku prihatin. Ia tidak menampik, gawai seolah jadi kebutuhan. Tapi jika sampai ketergantungan, apalagi kecanduan tentu bisa jadi persoalan.

“Jangan terbuai gawai,” katanya seperti dikutip dari Radar Banyumas (Fajar Indonesia Network Grup).

BACA JUGA: Resmi Mundur dari Demokrat, Ferdinand: Terima Kasih Pak SBY, Maaf Jika Saya Punya Salah

Ia tekankan. Penggunaan gawai cukup seperlunya. Soal kasus kecanduan gawai, menurutnya masih banyak yang belum terendus. Seperti fenomena gunung es.

“Sepertinya jika dicari lagi, akan banyak anak yang kecanduan gawai,” ucapnya.

Ini tidak boleh dibiarkan. Harus jadi perhatian pemangku kebijakan. Pemerintah daerah ia harapkan, segera merespons. Bisa dengan pemberian edukasi, cara penggunaan gawai yang sehat. Sehat disini. Tidak merusak fisik ataupun jiwa.

“Harus ada edukasi. Misalkan maksimal penggunaan gawai berapa lama. Jika terlalu lama dampaknya apa bagi kesehatan, baik fisik seperti mata ataupun mental,” paparnya.

Selanjutnya jelas kontrol dari orang terdekat. Bisa kerabat, atau sahabat dekat. Saling mengingatkan. Apabila dirasa sudah berlebihan menggunakan gawai.

BACA JUGA: Dukung Jokowi dan Omnibus Law, Ferdinand Tertawa Ketika Disebut ‘Penjilat’

“Pendekatan-pendekatan dari orang terdekat dapat dilakukan,” paparnya.

Ia juga menilai, sarana umum saat ini banyak yang sudah ada fasilitas internet atau Wi-Fi. Di kantor kelurahan, balaidesa, atau ruang terbuka. Penggunaannya harus diawasi.

Caranya? Matikan ketika tidak digunakan. Atau, batasi waktu operasionalnya. Ini agar anak-anak tidak larut terlalu lama menggunakan gawai.

“Jika dinyalakan terus 24 jam, anak-anak akan nongkrong seharian bermain gawai,” ujarnya.

Upaya selanjutnya ia punya pemikiran. Bagaimana jika pembelajaran tatap muka dilakukan. Namun secara terbatas. Hanya di daerah yang zona hijau saja. Dilakukan dengan protokol kesehatan ketat.

“Segera sekolah tatap muka di buka kembali terutama di kecamatan-kecamatan zona hijau. Tugas-tugas guru melalui media online juga pasti berpengaruh terhadap kebiasaan anak. Anak yang biasa bermain, karena ada tugas online pasti pada akhirnya anak dipaksa lihat gadget,” paparnya.

Terakhir, pemerintah daerah bisa keluarkan program atau kebijakan. Yang menarik dan kreatif. Yang bisa membuat anak lupa terhadap gawainya. Membuat anak kembali bermain. Mengenal sesama. Bersosialisasi, juga menumbuhkan afeksi.

“Gawai itu hanya alat. Kita jangan diperbudak oleh alat,” pungkasnya. (aam)

Baca Juga

Berita Terbaru