Makin Hari Makin Cemas Menunggu Vaksin

Beranda Headline Makin Hari Makin Cemas Menunggu Vaksin

JAKARTA – Satgas Penanganan Covid-19 sudah memastikan gelombang pertama penyebaran Covid-19 dengan rata-rata pertambahan kasus mingguan 8,4 persen belum usai. Kondisi ini hampir setengah tahun lebih terjadi di Indonesia.

Sementara di dunia wabah Covid-19 dengan kasus infeksi virus corona yang mengena pada sedikitnya 32 juta orang, termasuk sekitar 985 ribu meninggal, yang dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sementara Indonesia mengumumkan 3.874 kasus baru Covid-19 pada Minggu (27/9) sehingga total kasus yang telah dikonfirmasi mencapai 275.213 orang.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kasus sembuh di Indonesia bertambah 3.611 orang dalam 24 jam terakhir. Dengan tambahan ini, jumlah pasien sembuh menjadi 203.014 orang. Indonesia juga melaporkan 78 kasus kematian akibat infeksi virus korona ini dalam 24 jam terakhir. Total hingga saat ini pasien meninggal menjadi 10.386 orang.

BACA JUGA: Puji Anies Baswedan, Tengku Zul: Enak ya Mampu Bahasa Inggris, Kaum Seberang Pluto jadi Iri

Berbagai perusahaan dan lembaga pengembang vaksin di seluruh negara berlomba-lomba dan bekerja sama dalam upaya untuk menemukan vaksin yang akan dapat mengakhiri pandemi global Covid-19. Upaya itu dijalankan oleh antara lain sembilan pengembang vaksin terkemuka di Amerika Serikat dan Eropa Pfizer, GlaxoSmithKline, AstraZeneca, Johnson and Johnson, Merck and Co, Moderna, Novavax, Sanofi, dan BioNTech.

Nah, berdasarkan catatan WHO, lebih dari 150 calon vaksin Covid-19 di seluruh dunia sedang dikembangkan dan diujicobakan. Sedangkan 38 di antaranya sudah berada dalam tahap uji klinis pada manusia. Selain menemukan vaksin yang manjur, langkah yang tidak kalah penting untuk diupayakan adalah distribusi vaksin secara merata, yang sangat ditentukan oleh akses yang adil bagi semua orang untuk mendapatkannya.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus sejak Juni telah mengatakan bahwa pemulihan kondisi negara-negara di seluruh dunia bisa terjadi lebih cepat jika vaksin Covid-19 tersedia untuk semua orang.

”Vaksin untuk virus corona harus tersedia sebagai barang publik global untuk memastikan semua orang mendapat akses yang sama atas produk penyelamat nyawa yang sedang dikembangkan itu. Banyak pemimpin yang mempromosikan gagasan pembuatan vaksin apa pun sebagai barang publik global, tetapi itu harus terus dipromosikan,” katanya.

BACA JUGA: Timnas U-19 Indonesia Vs Dinamo Zagreb: Bukan Perkara Kalah-Menang

Tedros menyerukan agar lebih banyak pemimpin bergabung dalam upaya bersama untuk penyediaan vaksin Covid-19 bagi semua. Sejak tahap awal pandemi, memang sudah jelas bahwa untuk mengakhiri krisis global ini, tidak hanya vaksin yang dibutuhkan, tetapi juga pengadaannya secara merata.

Di Indonesia tersendiri, wabah sebaran makin menggia. Di Jakarta saja kasus baru terbanyak pada hari ini, yakni 1.217 orang dalam sehari sehingga total kasusnya menjadi 70.441 orang. Sementara itu, data yang sama juga menunjukkan adanya 129.553 orang yang berstatus sebagai suspek. Untuk diketahui kasus Covid-19 di Indonesia tersebar di 497 kabupaten/kota di 34 provinsi yang terdampak.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan tidak perlu menunggu sampai adanya gelombang kedua Covid-19 apabila kasus bisa ditahan tanpa perlu sampai ke puncak penyebaran. ”Bagusnya kasus bisa ditekan melalui perubahan perilaku masyarakat yang sampai saat ini masih belum baik sehingga kasus terus naik,” ujar Wiku.

BACA JUGA: UAS Dikawal TNI Saat Ceramah, Dewi Tanjung: Ustad Kadrun Ketakutan, Lebay!

Wiku mengatakan penyakit yang disebabkan oleh virus korona ini bisa menyerang dengan menunggu masyarakat lengah dan tidak mematuhi protokol kesehatan. Oleh karena itu, dia mendorong agar masyarakat semakin sadar dalam menerapkan protokol kesehatan dan mengubah perilaku hidup di masa pandemi. ”Kunci menghadapi penyakit ini pada perubahan perilaku yang memang sulit untuk Asia khususnya Indonesia karena berbenturan dengan budaya,” ungkap Wiku.

Menurut dia, masyarakat Indonesia secara budaya sulit untuk menjaga jarak karena selalu ingin dekat dengan keluarga, kerabat, dan teman. Kondisi ini berbeda dengan masyarakat di negara Barat yang biasa hidup individualis sehingga tidak sulit untuk menjaga jarak.

Wiku menambahkan pada kebiasaan memakai masker juga sulit diterapkan secara disiplin oleh sebagian masyarakat Indonesia yang secara budaya juga senang berinteraksi, khususnya pada masyarakat kelompok ekonomi bawah yang masih merasa aneh untuk menggunakan masker. ”Penyakit ini menularnya cepat kalau tidak pakai masker,” tambah dia.

BACA JUGA: Waspada Dinasti Politik Bisa Timbul Penyalahgunaan Wewenang

Oleh karena itu, Wiku menambahkan dalam menangani penyakit ini perlu pendekatan budaya, bukan pendekatan medis, karena sebanyak apa pun fasilitas dan tenaga medis yang disiapkan tidak akan cukup apabila masyarakat tidak mengubah perilakunya di masa pandemi. ”Tidak akan mampu bangsa ini menghadapi penyakit dengan cara kuratif karena mendidik dokter dan bangun fasilitas medis lama sekali,” kata Wiku.

Dia menambahkan walaupun saat ini ada harapan dari pengembangan vaksin dengan jumlah produsen yang banyak, namun ketersediaannya sangat terbatas. Selain itu, masa pengembangan vaksin juga relatif singkat sehingga efektivitas dan keamanannya belum teruji, dengan kekebalan mungkin hanya bertahan 1 tahun dan perlu penyuntikan ulang setelahnya. ”Kita tidak tahu efektivitas dan keamanannya, tapi vaksin ini pilihan untuk mencegah Covid-19,” imbuh Wiku.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo lagi-lagi hanya meminta agar seluruh lapisan masyarakat memahami dan sadar bahwa manusia menjadi perantara utama menularnya virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19.

Dalam hal ini, perantara penularan penyakit Covid-19 berbeda dengan flu burung atau flu babi. Penularan virus corona jenis baru itu terjadi setelah ada kontak langsung dari orang-orang terdekat. ”Covid-19 ini yang menyebarkan bukan seperti flu burung atau flu babi. Flu babi dan flu burung ditularkan oleh hewan, Covid-19 ini ditularkan oleh manusia,” jelas Doni.

Adapun menurut Doni, terjadinya penularan penyakit yang menyerang sistem pernafasan itu justru berasal dari orang-orang yang terdekat dan berada di lingkup sekitar. Dengan kata lain, orang-orang terdekat ini saling mengancam apabila tidak menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak.

”Dan bukan orang yang jauh dari kita. Yang menulari kita adalah orang yang terdekat, siapa orang terdekat, yakni keluarga, saudara, sanak, famili atau teman sekerja. Itulah yang berpotensi. Jadi sebenarnya kita yang terdekat satu sama lain itu adalah saling mengancam kalau tidak hati-hati,” jelas Doni. (fin/ful)

Baca Juga

Rekomendasi Lainnya

43.297 Pasien Wisma Atlet Sembuh

JAKARTA - Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, mencatat jumlah pasien COVID-19 yang sembuh hingga Mingggu (17/1) mencapai 43.297 orang. Jumlah tersebut...

Vaksinasi Tumbuhkan Kekebalan 

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan COVID-19. Vaksinasi adalah upaya menumbuhkan kekebalan tubuh dari virus. Disiplin 3M (Memakai Masker,...

Vaksin COVID Aman, Jangan Ragu Disuntik

JAKARTA - Vaksin COVID-19 yang digunakan pemerintah dalam program vaksinasi nasional aman. Sebab telah melewati fase pengujian keamanan."Kalau ditanya apakah vaksin aman, saya katakan...

Pascagempa Majene, Atlet Sepak Takraw Sulbar PON 2021 Dipulangkan ke Keluarga

MAKASSAR - Atlet tim sepak takraw Sulawesi Barat Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 dipulangkan ke keluarga masing-masing pasca gempa yang mengguncang wilayah Mamuju...

Baca Juga

Berita Terbaru

Foto-Foto

News