Beranda Ekonomi Jumlah Orang Miskin Bertambah Jadi 9,78 Persen

Jumlah Orang Miskin Bertambah Jadi 9,78 Persen

JAKARTA – Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir tujuh bulan di Indonesia telah menyebabkan jumlah kemiskinan dan pengangguran di Tanah Air terus bertambah.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, jumlah kemiskinan di Indonesia saat ini terendah dalam sejarah Indonesia berdiri yang mencapai di angka 9,4 persen.

“Angka kemiskinan kita sudah meningkat yang tadinya 9,4 persen itu adalah persen ya dari sejarah Indonesia itu mungkin angka kemiskinan terendah dan sekarang sudah kembali kepada situasi 9,78 persen,” ujarnya dalam video daring, kemarin (16/9).

BACA JUGA: Anies Baswedan Kenang Sekda Saefullan, Sosok Saleh dan Pekerja Keras

- Advertisement -

Bendahara negara ini mengungkapkan, bahwa pemerintah tidak hanya mengedepankan masalah kesehatan saja, namun juga menyangkut dengan masalah dimensi sosial ekonomi untuk hajat hidup orang banyak.

Untuk itu, lanjut dia, pemerintah melakukan langkah-langkah untuk melindungi atau melakukan penanganan. Salah satunya, sosial protection atau jaring pengaman sosial untuk masyarakat yang terdampak Covid-19. Terkait ini, pemerintah telah mengucurkan lebih dari Rp200 triliun untuk program bantuan sosial (bansos).

Diketahui, realisasi anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) hingga 2 September 2020, sebesar Rp237 triliun. Realisasi ini sudah mencapai 34,09 persen dari total pagu yang dianggarkan sebesar Rp695,2 triliun dalam APBN 2020. Realisasi anggaran untuk bansos sebesar Rp128,05 triliun atau 62,8 persen dari pagu sebesar Rp203,91 triliun.

BACA JUGA: Warga Papua Kembalikan Beasiswa Veronica Koman dan Bendera Merah Putih ke Mahfud MD

Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, angka kemiskinan akan terus naik hingga September 2020, di mana pada Maret 2020 angka kemiskinan telah meningkat menjadi 26,42 persen akibat dampak pandemi Covid-19.

“Dari data BPS penduduk miskin memang mengalami kenaikan, dampak terakhir itu basisnya bulan Maret 26,42 persen, kenaikan kemiskinannya masih relatif sedikit itu masih di awal pandemi, tapi tentunya kita harus waspada data penduduk miskin di keluarkan lagi pada bulan September,” ujar dia.

Berdasarkan data tersebut, dia memproyeksikan angka kemiskinan di Indonesia akan mengalami kenaikan. Indikator ini tercermin dari gini rasio Maret 2020 sebesar 0,381 persen atau lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi Gini rasio September 2019 sebesar 0,380 persen.

“Bulan September nanti kita bisa melihat dampak yang paling nyata dari terjadinya pandemi ini terhadap ekonomi kita. Angka kemiskinan sudah pasti naik dan yang kita khawatir kan kenaikannya mungkin cukup besar dibandingkan kenaikan yang terjadi di bulan Maret tersebut,” ucapnya.

BACA JUGA: Rizal Rami Sarankan Jokowi Angkat Ahok jadi Dubes: Dari Pada Bikin Rugi Pertamina

Bila dibandingkan dengan Gini rasio pada krisis tahun 1998 dan 2008, meskipun perekonomian Indonesia terkoreksi sebagai akibat dari kondisi regional dan global, ketika kemiskinan naik biasanya ketimpangannya justru membaik.

“Karena waktu itu memang semua orang income-nya turun, sehingga masalah ketimpangan antar kelompok pendapatan ini menurun, yaitu data yang sebelumnya pernah terjadi,” katanya.

Sementara Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menilai bahwa ketimpangan angka kemiskinan di Indonesia masih besar. Hal tersebut tergambar dari angka kemiskinan di pedesaan yang mencapai 12,5 persen dan di kota 6,56 persen.

“Angka kemiskinan menurut pulau mengkhawatirkan, hanya Jawa 8,29 persen dan Kalimantan 5,18 persen yang memiliki angka kemiskinan dibawah nasional,” ujar Anggota Fraksi PKS, Rofik Hananto.

Kemiskinan di pedesaan cukup tinggi, misalnya Maluku dan Papua mencapai 28,28 persen. Sedangkan di Bali dan Nusa Tenggara mencapai 17,5 persen. “Fraksi PKS mendesak pemerintah untuk fokus pada penurunan kemiskinan di 16 provinsi yang merupakan kantong-kantong kemiskinan di Indonesia,” tuturnya.

BACA JUGA: Rizal Rami Sarankan Jokowi Angkat Ahok jadi Dubes: Dari Pada Bikin Rugi Pertamina

Sebelumnya, Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, tingkat kemiskinan tahun lalu pada September 2019 mencapai 9,22 persen. Namun sejak Covid-19, angka kemiskinan kembali bertambah. Bila tanpa intervensi, kemiskinan bisa capai 10,63 persen yaitu naik sekitar hampir 4 juta orang dari 24 juta kemiskinan ke 28 juta.

“Dengan intervensi bisa kita tekan jadi 9,7 persen minus 10,2 persen atau kita tekan 2 juta dan mudah-mudahan secara rasio masih bisa satu digit dan di 2021 ditarget 9,2 persen minus 9,7 persen,” ujarnya. (din/fin)

Kategori Terkait

Ada Tiga Faktor Indeks Ketahanan Pangan Turun

JAKARTA - Daya beli yang masih rendah akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan diperkirakan akan berdampak pada penurunan indeks ketahanan pangan pada akhir 2020 nanti. Diketahui,...

UMKM Bisa Ungkit Ekonomi Nasional 4 Persen di 2020

JAKARTA - Kontribusi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengungkit perekonomian nasional di tengah pandemi Covid-19 cukup besar hingga 60 persen. Karenanya, jika...

Lawan Covid-19 di Labuan Bajo, Brantas Abipraya Bagikan Masker Gratis ke Warga

JAKARTA- Hingga saat ini, pandemi COVID-19 masih mewabah di Indonesia. Angka penambahan kasus positif semakin masif tiap harinya, tren penularannya pun cenderung meningkat. Dalam mengantisipasi...

KemenkopUKM Persiapkan Transformasi UMKM Pasca Pandemik

Jakarta – Kesulitan ekonomi yang disebabkan pandemi Covid-19 diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun depan. Oleh sebab itu, pada fase ini saat yang tepat...

BTN Optimistis Penyaluran Kredit Dari Dana Pemerintah akan Lampaui Target

JAKARTA- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk optimistis dapat memenuhi komitmen penyaluran kredit dari dana penempatan pemerintah untuk Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Seperti...

Ratusan Perusahaan Realokasi Investasi ke Indonesia 

JAKARTA - Pemerintah melalui Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartato mengumumkan kabar baik bahwa ada 143 perusahaan yang berencana melakukan realokasi investasi ke Indonesia....

Berita Terbaru

Melahirkan, Foto Bayi Irish Bella-Ammar Zoni Bikin Penasaran

JAKARTA - Pasangan selebriti Ammar Zoni dan Irish Bella tengah berbahagia. Ya, Bella dan Ammar kini resmi menyandang status baru mereka sebagai orang tua. Telah...

Sayangi Pemilih, Kandidat Cukup Sapa Warga Via Telpon dan Manfaatkan Medsos

JAKARTA - Virus corona (Covid-19) terus menyerang. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian berkali-kali meminta kepada calon kepala daerah yang ikut serta dalam Pemilihan...

Panduan Belajaran Masa Covid-19 bagi Orang Tua Diuji Publik

JAKARTA - Panduan Orang Tua dalam Pendampingan Belajar Anak pada Masa Pandemi Covid-19 yang disusun Kementerian Agama (Kemenag) telah memasuki tahap uji publik. Direktur GTK...

Ada Tiga Faktor Indeks Ketahanan Pangan Turun

JAKARTA - Daya beli yang masih rendah akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan diperkirakan akan berdampak pada penurunan indeks ketahanan pangan pada akhir 2020 nanti. Diketahui,...

Wow, Ini Penampakan Celana Dalam Dinar Candy yang Laku Seharga Rp50 Juta

JAKARTA - Dinar Candy membuat heboh publik, Ya, pasalnya wanita yang berprofesi sebagai DJ itu telah menjual celana dalamnya melalui media sosial. Melalui akun Instagram...

Angaran Besar, Tapi 4 Rumah Sakit di Pringsewu Hanya Miliki 2 Ventilator

JAKARTA - Kekurangan ventilator ternyata bukan hal baru. Ini terjadi sejak Maret lalu hingga hari ini. Cermin ketidaksiapan pemerintah pusat dan daerah sangat kentara....

Masih Ada Pengembang Nakal

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan sejumlah pengembang perumahan yang belum memenuhi kewajiban penyerahan Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) atau fasilitas sosial dan...

Ada yang Disembunyikan Kejagung

JAKARTA - Indonesia Corruption Watch (ICW) mempertanyakan keputusan Kejaksaan Agung yang melimpahkan berkas perkara Jaksa Pinangki Sirna Malasari ke penuntutan tahap II. Terutama menyangkut...