17, September, 2021

Gas Melon Kembali Langka

CIREBON – Kebutuhan gas subisidi elpiji 3 kg (gas melon) kian meningkat sejak wabah pandemi Covid-19. Apalagi, saat ini sedang mrema (ramai) pesta hajatan. Bila gas melondatang dari agen, pangkalan maupun pengecer langsung diserbu warga.

Salah satu ibu rumah tangga, Yuliyanti, mengaku sudah lama gas 3 kg mengalami kelangkaan. “Tidak hanya langka (kosong), kalau pun ada juga, harganya mahal. Yang biasanya normal Rp20 ribu, jadi Rp23 ribu, bahkan sampai Rp25 ribu, itu pun belinya rebutan,” keluhnya, kemarin.

Sementara itu, Area Manager Pertamina Cirebon, Perdana Juniarsyah mengatakan, sejauh ini, pasokan gas 3 kg tidak ada kendala. “Untuk pasokan, masih sama, tidak ada kendala. Namun, kemungkinan, banyak masyarakat yang menggelar hajatan, sehingga mengalami kelangkaan,” kata Perdana seperti dikutip dari Radar Tegal (Fajar Indonesia Network Grup).

BACA JUGA: Sinopsis The Last Days on Mars, Misi Rumit Sekelompok Astronot di Planet Mars

Sementara itu, Korda Hiswana Migas Cirebon, Gunawan Kalita menyampaikan, pasokan dan alokasi gas 3 kg untuk wilayah III Cirebon dalam keadaan normal. Bahkan ada penambahan. “Untuk alokasi tetap normal, tidak tersendat, dan bahkan ditambah dari biasanya. Apalagi ini sedang mrema hajatan,” katanya.

Diakuinya, penggunaan gas melon untuk orang miskin hingga saat ini masih belum tepat sasaran. “Gas 3 kg untuk warga tak mampu. Untuk pengawasan pun susah. Solusinya, masyarakat harus sadar diri. Masyarakat mampu ya pakai 12 kg. Karena, yang 3 kg jelas alokasinya untuk warga miskin. Dan untuk alokasi, tidak kami kurangi, bahkan ditambah,” katanya.

Memang, banyak warga mampu yang seharusnya menggunakan gas 12 kg beralih ke bright gas bahkan gas melon. “Ya itu, kesadarannya kurang. Kami akui, sejak pandemi Covid-19, libur panjang, mrema hajatan, konsumsi gas 3 kg naik tajam,” ujarnya.

Sebelumnya, Hiswana Migas Cirebon menetapkan syarat melampirkan fotokopi e-KTP bagi warga yang mengaku tidak mampu saat membeli gas elpiji 3 kg. Fotokopi e-KTP ini diklaim Hiswana Migas sebagai data master pendistribusian agar alokasi gas bersubsidi 3 kg tepat sasaran. Fotokopi e-KTP hanya dilakukan satu kali saat konsumen melakukan transaksi pembelian. “Ini hanya untuk pendataan alokasi, tidak ada unsur apa-apa. Arahnya agar tepat sasaran,” tukasnya. (via)

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer