spot_img
29, September, 2021

Megawati: Masa Saya dan Jokowi Dituduh PKI, Nalarnya di Mana

JAKARTA- Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengatakan, PDI-P sebagai partai Nasionalis menjadikan Pancasila sebagai pijakan untuk politik. Untuk itu, dia merasa aneh ketika ada orang yang menudingnya sebagai bagian dari PKI.

“Kita ini partai nasionalis. Semua inspirasinya datang dari proklamator kita yang orang boleh saja tak senang, malah Bung Karno pernah sementara waktu dibilang komunis, saya anaknya dibilang komunis, saya kalem saja. Lho aneh kan?, ujar Megawati dalam pidatonya di pembukaan Sekolah Calon Kepala Daerah PDIP Gelombang II, yang dilaksanakan secara daring, Rabu (26/8).

Megawati mengatakan, dia sudah 15 tahun menjadi anggota DPR. Kemudian dilanjutkan dengan wapres hingga kemudian jadi presiden. Sehingga dia menilai tidak masuk akal ketika orang masih menganggap dia sebagai bagian dari PKI.

” Saya pertama kali jadi (anggota DPR) itu jaman Pak Harto. Jadi, saya kena screening tentara. Kenapa saya bisa lewat (lolos)? Jadi entengnya yang screening saya itu dong yang PKI kalau saya PKI, karena dia yang meloloskan, bukan saya minta. Kedua, kok saya bisa jadi wapres? Setelah jadi wapres, kok saya bisa jadi presiden?” ujar Megawati.

Megawati mengatakan, bukan saja dia dengan Bung Karno yang dituding sebagai PKI. Presiden Jokowi juga alami hal yang sama.

“Tapi orang yang nggak senang selalu bilang saya ini PKI. Pak Jokowi dibilang PKI. Nalarnya itu kemana?” katanya.

Megawati mengatakan. dia juga punya tanda bintang sebagai mantan Presiden.

“Ada satu bintang yang sering dipakai Pak Jokowi. Itu satu bintang tingginya menyatukan bintang-bintang yang banyak itu. Saya punya, tapi saya enggak mau pakai. Alah orang tahu saya ini presiden ke-5,” ucapnya.

“Jadi ngomong itu hati-hati. Mulut itu pikiran anda. Bayangkan. Pak Jokowi dipaksa harus mundur. Loh saya sampai mikir, siapa yang milih dia (Jokowi) terus ada orang bilang suruh mundur. Padahal mekanismenya sangat jelas, presiden itu dipilih oleh rakyat. Itu gambaran pelajaran politik,” tandasnya. (dal/fin).

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer