Jika Membayangkan Cikeusik, Hati Saya Perih

Beranda Feature Jika Membayangkan Cikeusik, Hati Saya Perih

KISAH RELOKASI PAHIT AHMADIYAH CIKEUSIK


Sudah sembilan tahun lamanya, Nayati (44) dirundung kesedihan. Wanita yang menjadi saksi mata prahara penyerangan Ahmadiyah Cikeusik, Pandeglang tidak hanya kehilangan keluarga dan saudaranya, namun juga ribuan meter lahan pertanian dan pekarangan ikut menjadi jarahan orang. Hasil lahan pertanian mereka dikeruk orang tidak bertanggung jawab, sementara Nayati harus membayar pajaknya yang setiap tahun ditanggungnya.

TOGAR HARAHAP- Banten Selatan

Rumah Nayati berada di halaman Masjid Mahmudda. Lebarnya tidak terlalu luas, hanya 6×5 meter. Meski mini, keluarga Nayati merasa aman di Kompleks Jemaat Ahmadiyah Tangerang tersebut. Tidak ada lagi mimpi buruk dalam tidurnya saat diterima Jamaah Ahmadiyah untuk tinggal di sana, sembilan tahun silam.

”Seminggu saat di sini, saya masih bermimpi dikejar lima orang pakai Bedog (golok-bahasa Sunda). Tapi sekarang Alhamdulillah, nggak ada lagi,” katanya memulai pembicaraannya bersama wartawan, Senin (3/8).

Rumah Nayati dan komplek Ahmadiyah di Kelurahan Kenanga, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten tersebut hanya berbatas tembok. Di komplek padat penduduk itulah, Nayati menggantungkan harapan hidupnya. Setiap harinya, dengan sepeda motor matic, Nayati berkeliling berjualan sayur mayur.

Saat ditemui wartawan, keranjang sayur lengkap dengan isinya masih teronggok di ruang tamu. Dari hasil berjualan itulah, ia dan keluarganya bisa bertahan. Nayati tinggal bersama Rafiuddin (38). Udin begitu Rafiuddin disapa, adalah suami ketiga Nayati.

Dari tiga suami tersebut, Nayati dikaruniai empat anak. Sementara dari Udin, Nayati melahirkan seorang putri yang lahir pada medio 2015 silam. ”Dia (sang putri) lahir di Tangerang, kami jarang atau malah tak pernah bicara kejadian (pembantaian) Cikeusik sama dia, biarlah dia hidup aman di sini,” ujar Nayati.

BERTAHAN HIDUP: Setelah terusir pasca penyerangan Cikeusik, Nayati harus berjualan sayur mayur untuk menghidupi keluarganya. Dengan menggunakan sepeda motor, ia berkeliling berjualan di Kelurahan Kenanga, Cipondoh, Kota Tangerang. (FOTO: Togar Harahap/FIN)

Nayati masih menahan getir saat menceritakan babak kelam hidupnya tersebut. Penyerangan ribuan warga anti Ahmadiyah kepada mereka tidak hanya meninggalkan luka yang dalam pada dirinya, tapi juga bagi keluarganya. Seruan takbir dan kilatan golok masih terekam jelas dalam benak ibu lima anak tersebut. ”Saya masih ingat ada yang teriak bahwa darah kami halal ditebas,” katanya.

Ya,  Peristiwa 6 Februari 2011 itu terjadi tepat dua hari setelah Nayati melangsungkan pernikahan dengan Rafiuddin. Pengantin baru itu harus dirundung dua musibah sekaligus. Terusir dari kampung halamannya dan merelakan tanah yang menjadi modal mereka hidup.

Nayati mendapati dirinya tak bisa pulang dengan bebas setelah sekitar 1,500 orang menyerang, menghancurkan rumah, dan membunuh tiga Ahmadi: Roni Pasaroni, Warsono dan Tubagus Chandra. Rumah Ismail Suparman, mubaligh Ahmadiyah Cikeusik, pusat kegiatan 25 Ahmadi di desa Umbulan, jadi sasaran kemarahan dan kebencian.

Suparman merupakan kakak kandung pertama Nayati. Para penyerang menyasar 20 Ahmadi, termasuk Nayati yang hanya bisa berteriak mempertahankan rumah tersebut. Nayati dan anggota jamaah Ahmadiyah lainnya lantas melarikan diri masuk ke rumah bapaknya. Untung, warga yang sedang marah tidak melanjutkan aksinya ke rumah itu. ”Ada takbir dalam kejadian itu, saya hanya mengelus dada, bagaimana asma Allah disebut saat kekejaman dilakukan,” ujarnya.

Sejak pembantaian berdarah itu, Nayati tidak bisa mengontak sang kakak. Ia juga kehilangan suaminya sementara. Beruntung, Rafiuddin akhirnya bisa selamat dan  menemuinya setelah seminggu bersembunyi di hutan.  Semua anggota keluarga Nayati langsung mengungsi dari tanah kelahirannya, malam setelah kejadian.

Dua bulan kemudian, ia lalu mengetahui bahwa sang kakak selamat dan sudah berada di Filipina Selatan, tempat Haina Toang Aquino, istri Suparman tinggal dan menetap di sana. ”Kami masih berkomunikasi dengan dia (Suparman) lewat Facebook, dia nggak mau ke sini, saya tahu itu dan ancaman bakal disembelih masih saya terima jika abang saya berani ke Cikeusik,” ujarnya.

Sebagian harapan Nayati untuk sudah terwujud, sebab putra sulungnya kini bekerja di Jepang setelah menamatkan pendidikan tahun 2017. Ia juga sudah mempunyai rumah di Gondrong, Tangerang, yang ia tempati sekarang dari kiriman sang anak.Pembangunannya juga dibantu dari hasil keringat Raffiudin yang bekerja serabutan sebagai tukang bangunan.

BAGI MEREKA, HARTA AHMADIYAH HALAL DIJARAH

Setelah kejadiaan nahas tersebut, semua keluarga Nayati yang berjumlah 13 orang diboyong ke Cipondoh. Sayang, relokasi hanya kepada pengungsi, sementara harta dan lahan tidak. Mereka membiarkan belasan hektar lahannya dibiarkan begitu saja.

Lahan tersebut merupakan hasil jerih payah mereka dan pemberian Matori (82) ayah Nayati. Pria ringkih itu juga ikut tinggal bersama mereka di Cipondoh. Ada pula Mulyadi (adik bungsu Nayati) dan dua saudara perempuannya, Maryamah (kakak perempuan) dan Nurhayati (adik perempuan) juga tinggal disana. Sementara Sutarno, kakak lelaki kedua mereka yang ikut dikejar oleh para penyerang juga hidup aman di Kemang, Bogor. ”Tarno hidupnya bertani di sana, sudah aman,” ujarnya.

Baik Nayati, dua saudaranya juga sama ikut berdagang. Mulyadi, Nurhayati dan  Maryamah berjualan mainan dan kelontong, lokasi usahanya hanya  berjarak 50 meter dari kediaman Nayati. Kehidupan bertani yang sudah mereka kecap dari belia harus ditinggalkan begitu saja.  Tentu bagi orang kebanyakan, keuntungan Rp50 ribu sehari dari hasil jual sayur mayur sangat minim untuk ukuran Kota Tangerang yang ber-UMR Rp3,7 juta tersebut.

Namun, bagi Nayati, uang tersebut sudah dianggap cukup baginya. Betapapun, Nayati juga mengidam-idamkan dapat hidup kembali dengan tenang dan aman di desanya. Namun, jika mengingat hal tersebut, Nayati lagi-lagi mengelus dada. ”Ada ancaman pembunuhan bagi keluarga saya kalau ke sana,” terang Nayati.

Keluarga Matori bukanlah keluarga miskin. Datang dari Kabupaten Cirebon Jawa Barat , pria sepuh ini dikenal petani yang ulet. Hasil padi yang berlimpah dan tabungan berdagang yang disimpan istrinya membuat Matori menjadi pemilik lahan persawahan yang luas di Kampung Pandeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikuesik, Pandeglang, Banten tersebut. ”Luas lahan saya hampir 5 hektar,” ujar Matori.

Kepada Nayati, Matori memberinya lahan seluas 8.000 meter persegi. Semua berupa ladang dan sawah. Nayati juga diberikan lahan 600 meter persegi untuk membangun rumahnya.  Sementara, dua pertiga hektar lahan milik Matori digarap ke kakak dan adik Nayati.

Namun pasca kejadian, rumahnya kosong. Semua benda baik di dalam rumah dan ternak hilang begitu saja. Semua dijarah orang tak dikenal. Perabot rumah tangga hilang, kusen-kusen dipreteli. ”Termasuk kusen sampai pintu rumah saya ikut dijarah. Kayaknya bagi mereka (penjarah) harta (warga) Ahmadiyah halal dijarah,” lirih Matori.

Matori merinci kerugiannya mencapai sekitar Rp1 miliar. Tidak hanya kusen yang dijarah, melainkan sejumlah alat pertanian. Ada dua pompa air diesel seharga Rp40 juta yang hilang direbut penjarah. Itu belum termasuk hewan ternaknya ikut digondol pencuri berkedok agama tersebut.

NASI PECEL SEPAHIT PAJAK YANG DITANGGUNG

Penjarahan itu sebenarnya telah didengar dua bulan pasca kerusuhan. Saat ingin ke Cikeusik, sejumlah kerabatnya melarang karena faktor keselamatan. Keinginan melindungi aset keluarga jadi pendorong kuat bagi Nayati untuk segera pulang. Ia juga mendengar ladang dan sawahnya dikatakan diolah oleh beberapa oknum tanpa imbalan yang memadai.

Setahun pasca penyerangan, barulah  ia memberanikan pulang. Hingga kini, setiap lebaran menjenguk kerabat dan handai tolannya di sana. Namun terkadang bukan peluk cium yang diharapkannya, perjalanan 132 Km dari Tangerang ke Cikeusik harus dibayar dengan  caci maki.

Perlakuan tak enak ia dapat pada lebaran tahun lalu. Saat tengah sarapan di warung pecel tak jauh dari rumahnya. Saat itu sang pemilik yang merupakan tetangga Nayati merasa jijik atas kehadirannya. Sang pemilik juga mengatakan, Desa Cikeusik sudah tak sudi menerima para Ahmadi.

Sikap tersebut membuat Nayati terpaksa angkat kaki dari warung tersebut.Ia tahu itu hanya hasutan yang dikirimkan orang yang tak ingin Keluarga Nayati hidup tenang.  ”Nasi pecelnya terasa pahit di tenggorokan saya, saya menangis denger itu,” katanya.

Hidup Nayati memang terberai dari sanak keluarga. Mereka sudah tak bisa pulang. Setiap upaya pulang selalu diganjar penyerangan oleh kelompok anti-Ahmadiyah. Pemerintah abai. Jika pulang, Nayati mengaku harus tidur di rumah kerabatnya, Kampung Kolecer yang berada 1 Km sebelah selatan Kampung Peundey.

Bukan hanya hasil lahan yang raib, Nayati pun wajib membayar pajak bumi dan bangunan yang ditanggungnya. Dari selembar bukti pajak yang diperlihatkannya, Nayati harus  menanggung beban pajak sebesar Rp7.840 pertahun. Jumlah tersebut memang kecil, namun baginya arti lembaran pajak membuktikan bahwa ia masih punya hak penuh atas lahan tersebut.

BUKTI SAH: Nayati menunjukkan lembar bukti pajak atas lahannya seluas hampir 8.000 meter persegi di Blok Harendong, Kampung Kolecer, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten. (FOTO: Togar Harahap/FIN)

Dari 2011 hingga 2018, tak satu rupiah pun hasil panen dari para penggarap lahannya menetes ke rekening Nayati. Baru di tahun 2019, ia baru mendapatkan jatah tahunannya yakni Rp12 juta. Jumlah itu adalah akumulasi penjualan padi dari lahan milik Nayati dan keluarganya seluas 5 hektar. Hasil yang sangat minim dari ratusan ton padi yang dihasilkan persawahan miliknya.”Nilainya sangat kecil bagi kami tapi apa daya kami terima saja,” ujar Nayati kembali.

Bagi Matori, uang Rp12 juta jauh dari kata layak. Padahal lahannya yang berada di Blok Harendong terbilang subur. Setiap tahun, ia mendapat 25 ton dari satu hektar  sawahnya. Jika dirinci, ia sebenarnya bisa mendapat Rp80 juta-Rp90 juta perhektar untuk sekali panen (harga gabah kering : Rp4.200/Kg). ”Kalau sehektar saja segitu, kalau lima hektar bagaimana, dan saya kudu sabar kang,” ujarnya.

TIGA RUMAH TAK BERTUAN

Perjalanan dari Jakarta menuju Kampung Pandeuy, Desa Umbulan, Cikeusik, Pandeglang memakan waktu lebih dari enam jam. Setelah dua jam melalui hiruk pikuk kemacetan Kawasan Industri Tangerang, kita langsung dihadapkan suasana perkampungan yang asri. Sawah dan lahan karet-sawit milik PT Perhutani menebas perbukitan Kawasan Banten Selatan tersebut. Semua menghijau sejauh mata memandang. Kita juga akan menemui dermaga Muara Binuangeun, tempat bersandarnya kapal nelayan yang mencari ikan di Laut Selatan Jawa hingga Perbatasan Australia.

WISATA BAHARI: Ribuan kapal nelayan memadati Dermaga Muara Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, Lebak, Banten. Kawasan wisata yang hanya berjarak 1 Km dari Cikeusik. (FOTO: Togar Harahap/FIN)

Sesampainya di Kampung Pandeuy, terlihat kebersihan lingkungan kampung yang masih terjaga. Kamis 30 Juli 2020,tepat dua pekan warga melakukan panen raya. Semua hasil padi dijemur di halaman rumah.Jika tak muat Jalan Raya Nasional yang membelah kampung itu menjadi tempat berjemur sementara.

Hampir setengah badan jalan tertutup oleh terpal jemuran. Meski berada 60 Kilometer dari Ibukota Kabupaten Pandeglang, kemajuan teknologi sudah menerpa  kampung tersebut. Sinyal provider dengan layanan data tercepat pun sudah hinggap di ponsel pintar kita sesaat sampai di desa. Keramik dan antena parabola lumrah digunakan. Hanya beberapa rumah yang masih berlantai semen dan antenna TV biasa.

Bangunan rumah pun banyak yang telah permanen, pun yang berlantai dua. Sepeda motor dan mobil keluaran terbaru  juga bukan hal baru bagi warga desa. Televisi berlayar datar pun jamak menghiasi ruang tamu. Kendati demikian, prahara pembantaian tiga warga Ahmadi seakan menjadi duri dalam daging warga di sini. Kemajuan teknologi nyatanya tak membuat semuanya tenang.

Hanya berjarak 500 meter dari Kantor Kepala Desa Umbulan, saksi bisu kerusuhan itu masih berdiri. Tiga rumah milik Keluarga Nayati yang dahulunya mapan kini seperti rumah tak bertuan. Tak ada atap, kusen pintu pun menghilang. Bekas jelaga hitam masih menyelimuti sebagian rumah.

Di tembok rumah, tanaman merambat tumbuh subur. Menjalar ke atas seperti berbentuk atap sementara. Rumah Matori terbilang yang paling besar dari tiga rumah tersebut. Halamannya yang dahulu ditanami banyak pohon, kini berubah menjadi kebun pisang.

Dari tiga rumah yang didatangi hanya rumah Maryamah yang masih tampak lengkap. Rumah dengan latar hijau kuning masih terkunci rapat. Kendati demikian, sebagian besar catnya sudah mengelupas dan kayu bangunan mulai lapuk. Sementara rumah anak pertama Matori, Ismail Suparman sudah tinggal temboknya  saja.Padahal lahannya terbilang luas hampir 600 meter. Tepat di tengah halaman rumah itu,  pembantaian tiga warga Ahmadi terjadi. Sebuah rumah permanen sudah dibangun di belakang rumah Suparman.

MASIH LENGKAP: Di antara rumah Ahmadi Cikeusik, hanya milik Maryamah, kakak kandung Nayati yang masih lengkap. Namun, keluarga tersebut masih enggan menjenguk harta dan asetnya karena faktor keselamatan. (FOTO: Togar Harahap/FIN)

”Banyak yang mau beli rumah itu, tapi mereka (Nayati dan keluarga) nggak mau menjualnya. Mereka juga masih takut ke sini,” ujar Cadram (82), tetangga Matori sembari menunjuk rumah Suparman dan Maryamah.

Cadram bukanlah warga Pandeuy, ia tinggal di desa sebelah, Ranca Seneng . Namun, pria bertubuh besar ini mengaku kenal dekat dengan keluarga Matori sejak mereka pindah dari Cirebon, medio 70-an. Saat ditemui, pria yang sejak tahun 1976 telah menjadi penduduk di sana,  tengah menjemur hasil panennya. Ada 10 karung lebih padi yang ia jemur tepat di belakang Rumah Maryamah.

Pria asal Kecamatan Ajantan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat,  tak banyak bicara mengenal ihwal dari asset Matori dan keluarga yang telah ditinggalkan. Namun ia mengakui bahwa keluarga tersebut terbilang ulet bekerja sehingga mampu membeli lahan 5 hektar luasnya. ”Pak Matori itu pekerja keras, sawahnya besar,  lebih dari 50 puluh petak. Saya dan dia sama-sama dari Pantura jadi wajar kerjanya mangkul pacul,” jelasnya.

Namun setelah penyerangan itu, sambung Cadram, banyak harta mereka yang ditinggalkan. Saat itu warga Pandeuy bingung mau diapakan barang-barang milik Keluarga Nayati.Mereka pun serba salah. Satu sisi, niat mereka mengamankan barang tersebut akan dicap sebagai penolong oleh para kelompok penyerang.

SAKSI BISU: Sisa-sisa bangunan rumah milik mubaligh Ahmadiyah Ismail Suparman di Kampung Pandeuy, Cikeusik, Pandeglang. Selain perabotannya hilang, para penjarah juga menggondol habis kusen dan hewan ternak miliknya. Bangunan ini menjadi saksi bisu tewasnya tiga warga Ahmadi, sembilan tahun silam. (FOTO: Togar Harahap/FIN)

Warga pun terpaksa membiarkan perabotan yang ada dibiarkan begitu saja. Hingga kemudian setelah garis kuning Polisi dilepas, barang-barang milik Matori dan keluarga raib. ”Bukan warga sini yang mengambil, sumpah !. Kami mah nggak tahu,” ujar Cadram.

Jika barang saja bisa hilang, bagaimana dengan nyawa. Hingga kini warga Pandeuy belum mau memberikan jaminan keselamatan Nayati jika ingin menengok asetnya . Tokoh pemuda Pandeuy yang juga tetangga Nayati, Ibrahim mengaku sempat kewalahan saat Nayati atau salah satu saudaranya datang ke kampung menanyakan perihal harta mereka.

”Mereka datang hanya semalam, biasanya mengambil duit dari para penggarap lahan.Tapi saya nggak paham berapa bagian bagi hasilnya. Kadang ada, kadang tidak ada,” ujar pria yang juga menjadi Ketua RT tersebut.

Ibrahim pun bungkam saat disinggung siapa nama penggarap lahan tersebut, namun dari penuturannya setiap tahun ada saja hasil lahan yang dikirim. ”Saya memang masih berhubungan sama keluarga mereka, itu kalau ada yang menanyakan (harga) rumah mau dijual atau tidak, kalau nggak ada perlu apa-apa, saya juga ogah meneleponnya,” tuturnya secara terbersit tak mau lagi berurusan dengan warga Ahmadi.

Apakah mungkin Nayati dan keluarganya kembali hidup berdampingan bersama warga lainnya di Kampung Peundeuy, tanah kelahiran mereka?. Ibrahim mengatakan, para tetua kampung dan ulama sejatinya sudah memberikan tempat bagi mereka asal dengan syarat, taubat.

“”Nayati dan Pak Matori sekeluarga silahkan datang, kami tidak keberatan asalkan bertaubat. Taubatnya yang beneran mengikuti ajaran yang benar. Bukan tobat sambel (palsu),” katanya.

”Mungkin bisa saja penganut Ahmadiyah kembali ke sini, tapi para ulama yang ada di Kecamatan Cikeusik tidak menerima begitu saja,” tambahnya.

Dengan syarat pertama itu, tampaknya sulit menemukan titik demarkasi atas kejadian sembilan tahun silam Pasalnya, jemaah Ahmadiyah yakin mereka menganut ajaran Islam sebagaimana diajarkan dalam kitab suci Alquran.

HIJAU: Perkebunan dan pepohonan yang masih rimbun menjadi pemandangan yang biasa ditemui menuju Banten Selatan. (FOTO: Togar Harahap/FIN)

BERIKAN HAK YANG SAMA BAGI AHMADIYAH CIKEUSIK

Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur menyayangkan soal kepemilikan lahan milik kaum minoritas Ahmadiyah yang terusir. Padahal, secara penuh lahan tersebut merupakan milik perseorangan, yang setiap tahunnya masih dibayarkan pajak ke negara.

Pemerintah baik kabupaten/kota, provinsi maupun pusat seharusnya ikut bertanggung jawab kepada korban sembilan tahun silam. Soal rehabilitasi misalnya. Jangan hanya merelokasi mereka yang sebagai korban. Tetapi harus diperhatikan betul soal hak-hak sebagai warga negara.

“Hak-hak setiap warga negara harus tetap dipenuhi. Aset apalagi. Menurut saya seharusnya masalah ini sudah selesai. Bukan menjadi masalah yang berkepanjangan. Kepemilikan lahan seharusnya bisa dikembalikan sepenuhnya,” ujar Isnur.

Jika tidak segera diselesaikan, masalah ini justru seperti perampasan lahan. Di mana, lahan atau tanah yang pajaknya masih dibayarkan setiap tahunnya, justru pemilik tanah tidak mendapat keuntungan yang jelas atas kepemilikannya.

Selain rehabilitasi, rekonsiliasi juga seharusnya sudah bisa dicapai. Peristiwa tersebut dinilai sudah cukup lama terjadi. Pemerintah harus memberikan pengertian kepada masyarakat dimana korban sebelumnya tinggal. “ini jadi tugas pemerintah. Bagaimana mengedukasi masyarakat. Agar korban bisa kembali ke rumah atau bergabung bersama masyarakat di mana sebelumnya mereka tinggal,” ucapnya.

Hukum di Indonesia tidak mampu melindungi kelompok minoritas yang menjadi korban persekusi dan intoleransi.“Kita mempunyai Undang-undang Dasar yang menjamin kebebasan beragama, tetapi belum ada Undang-undang turunannya yang menjamin kebebasan beragama berlangsung. Ini masalah yang terus berlangsung. Hukum juga bukan melindungi korban tetapi dijadikan alat melanggar hak asasi manusia,” katanya.

Ia melanjutkan, jika berkaca dari lamanya peristiwa tersebut, aspek kebencian seharusnya juga sudah hilang. “Karena sudah lama sekali peritiwanya. Dan pemerintah lagi-lagi atau Komnas HAM dan Ombudsman harus ikut membantu mengembalikkan hak-hak para korban,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan Direktur SETARA Institute Ismail Hasani. Ia menuturkan tanah-tanah pasca konflik selalu dimanfaatkan orang atau oknum tidak bertanggung jawab. Hal inilah yang menjadi pokok permasalahan bagaimana kedudukan penyelesaian status kepemilikan tanah yang ditinggalkan oleh pengungsi.

”Bukan saja lahan milik Ahmadiyah saja, lahan-lahan yang dikelola warga Gafatar di Kalimantan Barat yang jumlahnya puluhan hektar dikelola oknum-oknum aparat. Itu nggak akan balik (dimiliki ) lagi,” katanya.

Disinggung adanya penjarahan harta Ahmadiyah, sambung dia, seharusnya aparat yang berwenang melakukan upaya penindakan. ”Secara status lahan, tentu itu adalah hak keperdataan Ahmadiyah. Tentu harus dikembalikan. Kalau dikerjasamakan harus dilakukan hukum kontrak yang fair. Kalau penjarahan wajib dipidanakan. Itu pelanggaran hukum,” jelasnya.

Ismail menjelaskan kebencian yang terjadi pasca konflik akibat rekonsiliasi  di tataran grass roots (akar rumput) karena langkah yang diambil pemerintah saat ini pun terbilang masih diskriminasi yakni meminta warga Ahmadiyah atau kaum minoritas untuk mengalah. Salah satunya terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri Tahun 2008 tentang Ahmadiyah.

Surat yang ditandatangani oleh Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Kejaksaan Agung pada 2008, juga telah menjadi legitimasi berbagai keputusan daerah untuk membatasi gerak jemaah Ahmadiyah. Kendati demikian, sambung Ismail, SKB menjadi ikhtiar jalan tengah negara meredam konflik meski dalam tataran praktis terus timbul ketersingungan.

”Jadi memang pemerintah hadir, tapi memaksa warga Ahmadiyah untuk mengalah, ya itu sama saja bohong. Ini jelas melanggar prinsip-prinsip dasar bernegara kita,” ujarnya.

Solusinya saat ini, sambung dia, tentu kita wajib meyakinkan pemerintah untuk mematuhi prinsip konstitusi untuk menjaga semua warga negara termasuk Ahmadiyah. Mereka tetap bebas dan mendapat haknya sebagai warganegara pada umumnya.

”Jadi harus ada satu resolusi konflik yang adil. Prinsip keadilan yang pertama adalah menjamin hak-hak masyarakat. Lalu bagaimana jika ada poin yang tidak disepakati, baru kita bicara konsep teori konflik, tapi kalau bicara konstitusi, maka apapun agamanya dia harus tetap hidup. Jadi nyaris negara tidak ada formula  resolusi konflik,” terangnya.

Disinggung ancaman pembunuhan warga Ahmadi jika kembali ke Cikeusik, Ismail melihat itu menjadi persoalan baru bagi pemerintah.Seharusnya, pemerintah pro aktif menanggapi hal ini bisa melalui jerat pidana pasal pengancaman. ”Kalau lewat formula hukum semua ada caranya (jalan keluar-red). Kalau sudah ada ancaman artinya  negara tidak menjamin rasa aman warganya.  Cuma masalahya ini unwilling dan unable ( ketidakhadiran dan keengganan) pemerintah dalam keselamatan mereka,” bebernya.

Bagi Ismail, permintaan taubat yang disampaikan masyarakat Cikeusik kepada para Ahmadi hanyalah modus untuk memaksa kayekinan mereka. Namun, hal ini bukan solusi yang mapan karena menyangkut hak warga negara untuk memeluk keyakinannya masing-masing.

”Formula Tobat sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh warga Ahmadiyah Kuningan saat memperoleh KTP. Mereka akhirnya bisa mendapatkan KTP setelah bersaksi beragama Islam, dan mereka (Ahmadiyah) kan Islam, percaya kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul,” paparnya.

Terpisah, Kepala Pusat Litbang Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Muhammad Adlin Sila mengatakan dari analisa mereka bahwa rekonsiliasi perdamaian masih terbentur pada konsep teologi. Banyak di antara masyarakat yang menganggap prasyarat tauhid adalah jalan keluar.

”Problemnya yang menjadi penghalang saat ini adalah urusan teologis yang belum terselesaikan. Faktor teologis ini menjadi faktor dominan. Hingga kini belum ada titik temu, bagaimana mungkin Ahmadiyah diminta menolak Mirza Ghulam Ahmad sebagai pewaris nabi selanjutnya, ataupun Syiah diminta untuk tidak percaya 12 imam setelah Nabi Muhammad SAW, tentu tidak ada titik temunya, ” paparnya.

Adlin juga membantah SKB Tiga Menteri Tahun 2008 tentang Ahmadiyah ikut ambil bagian dalam menekan kebebasan Ahmadi dalam beribadah. Justru baginya, SKB dibuat pemerintah agar keselamatan warga Ahmadiyah terjamin.

”Dalam 12 poin SKB,tertulis bahwa  tidak mengakui dan tidak melarang kelompok Ahmadiyah. Mereka dilarang menyebarkan dan mengajarkan ke agama lain untuk ke Ahmadiyah, dan masyarakat juga dilarang untuk menyerang Ahmadiyah. Jadi baru sebatas itu,” ujarnya.

Namun, Adlin mengakui, pelaksanaan SKB di lapangan terjadi miskomunikasi. Menurutnya ada penafsiran berbeda dari masyarakat sekitar yang melihat ibadah internal jamaah Ahmadiyah melanggar SKB tiga menteri tersebut dan anggapan sebagai upaya menyebarkan pahamnya ke warga lain. ”Nah masalah ini belum selesai, dan kita masih mencari wacana resolusi damainya,” ujarnya.

Di sisi lain, Adlin menilai banyak masyarakat maupun ormas yang salah kaprah atas poin SKB Ahmadiyah. Masalah lain pun terjadi dalam tataran regulasi seperti Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) Nomor 9 Tahun 2006 mengenai Pendirian Rumah Ibadat.

Di situ memberikan wewenang pendirian rumah ibadah kepada pemerintah daerah untuk meciptakan kerukunan melalui rekomendasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) tingkat provinsi. ”Sayangnya, fokus FKUB saat ini masih pada  rumah ibadah antar umat beragama dan internal, belum menangani rumah ibadah kelompok sempalan (merujuk Ahmadiyah), padahal tugas itu ke sana,” bebernya.

Akibat salah konsep ini, sambung dia, banyak diantara warga yang melakukan pengrusakan rumah ibadah Ahmadiyah hingga berujung pada pengusiran dan kerusuhan. ”Jadi masalah ini ada di daerah, padahal lewat PBM dua menteri Nomor 9 Tahun 2006 mengenai Pendirian Rumah Ibadat, sudah jelas problem rumah ibadah diserahkan kepada daerah. Jadi sampai sekarang masalah itu belum selesai tidak ada titik “klik” nya,” paparnya.

PENDONOR MATA TERBANYAK SEINDONESIA

Mereka yang terpinggirkan, justru bisa dibilang saat ini lebih aktif di bidang kemanusiaan. Contohnya anggota Jamaah Ahmadiyah Iman Nurjaman yang saat ini bergelut di Komunitas Donor Mata Indonesa (KDMI). Mulai aktif sejak 2005 lalu, sejumlah pengalaman menarik pernah dialaminya.

Sebagai pengambil kornea mata, Iman harus siaga 24 jam ketika ada pendonor yang siap diambil kornea matanya. Meski tinggal di Kota Tangerang, bukan berarti wilayah kerjanya cuma di satu kota. Antar kota jadi santapan Iman ketika pihak keluarga pendonor ada yang menghubunginya.

“Saya pernah ke daerah Datar Kupa, Cianjur Selatan. Saya mendapat kabar sudah cukup malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Mau tidak mau, saya harus segera menuju ke Cianjur. Saya berfikir saat itu harus segera sampai di kotanya. Tapi setelah sampai di kotanya, saya diarahkan untuk terus naik ke daerah pegunungan,” kata Iman sambil mengingat-ingat.

Sesampainya di wilayah pegunungan, bukan berarti langsung sampai. Mobil Suzuki APV miliknya harus terparkir di area rerimbunan pohon. Selanjutnya, Iman harus naik motor untuk bisa sampai di rumah pendonor.

Setibanya Iman, pihak keluarga sudah menunggu. Kata Iman, meski dalam kondisi duka, pihak keluarga justru terlihat tabah. “Ini yang saya ingat, jadi saya langsung saja diarahkan oleh keluarga untuk mengambil kornea matanya. Kata keluarga korban, itu adalah amanah yang harus dijalankan,” kata pria paruh baya tersebut.

Pengalamannya bukan cuma itu. Selain jarak tempuh, pihak keluarga ahli waris juga sering menjadi tertundanya pengambilan kornea mata si pendonor. “Mereka ada yang mengira diambil semua bola matanya. Padahal hanya kornea saja. Itupun paling sekitar 30 menit. Ada juga yang pemahaman jika jenazah harus kembali ke pencipta sempurna, tanpa kurang apapun,” terangnya.

Padahal,  kornea yang diterima oleh penerima manfaat (recipient) sangat besar. “Mereka yang sebelumnya tiak bisa melihat, seperti mendapat anugerah baru. Biasanya mereka sangat berterima kasih kepada pendonor. Belum lagi doa-doa yang terus dipanjatkan. Ini akan terus menjadi amalan bagi si pendonor,” tambahnya.

DONOR MATA TERBANYAK: Pendiri Museum Rekor Indonesia, Jaya Suprana menyerahkan plakat plakat penghargaan rekor pendonor mata terbanyak kepada Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Abdul Basith, Senin (24/7/207). (FOTO: DOK JAI)

Sebelumnya, total jumlah calon pendonor ada 9.871 pada awal tahun Januari. Saat ini diprediksi sekitar 10 ribuan pendonor. Iman melanjutkan, sebaiknya, kornea mata yang didonorkan bisa diambil sebelum enam. Setelah pendonor meninggal dunia. Karena cairan yang berada pada mata pendonor belum terlalu kering.

Soal ketahanan kornea mata setelah diambil, tidak perlu diragukan. Ada cairan khusus yang mampu mengawetkan selama dua minggu. Tapi, umumnya kornea mata hanya bertahan beberapa hari di dalam cairan. Karena sudah banyak recipient yang menunggu.

“Dua tiga hari langsung terpakai. Dan dalam proses ini, ada tenaga eksisi yang sudah terlatih oleh bank mata. Umumnya mereka adalah tenaga medis. Oiya, KDMI juga masuk MURI untuk kategori calon donor mata terbanyak. Dan bis dibilang berkesinambungan untuk tingkat internasional,” bebernya.

Selain aksi donor mata, aksi sosial bagi masyarakat juga diberikan Warga Ahmadiyah Tangerang. Seperti penuturan Ketua DKM Masjid Mahmudah Sutisna Fadmadihardja. Pria 50 tahun ini mengatakan, di tengah pagebluk corona, jamaah Ahmadiyah ikut aktif membantu masyarakat yang terdampak. Secara ekonomi. Sejumlah bantuan mulai dari pemberian paket sembako, makanan gratis setiap Jumat, hingga donor darah.

“Kami juga memberikan APD (alat pelindung diri). Mulai masker, face shield, dan hazmat. Ke tenaga medis dan juga tim gugus tugas covid di kelurahan dan kecamatan. Alhamdulillah masih bisa membantu meringankan,” kata Sutisna.

BANTU SESAMA: Kegiatan sosial yang dilakukan komunitas Jamaah Ahmadiyah, Masjid Mahmudah di Kelurahan Kenanga, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten. selama pagebluk corona, komunitas ini juga aktif membantu sesama. (FOTO: DOK AHMADIYAH TANGERANG)

Terakhir, di hari raya Idul Adha. Komunitas jamaah Ahmadiyah juga menyembelih hewan kurban. Ada 31 ekor. Dagingnya, dibagikan merata ke kampung-kampung. Dengan harapan, bisa membantu sesama manusia dan meringankan mereka yang terdampak corona.

“Lumayan, kita distribusikan ke kampung-kampung. Bahkan ke beda kecamatan juga. Ada juga hewan yang kita kirim. Ke daerah-daerah. Papua, NTT. Kebetulan kita bekerja sama juga dengan lembaga kemanusiaan. Jadi untuk distribusi agak lebih mudah,” terangnya.

Di luar Kediaman Nayati, suara anak-anak membuat suasana yang sunyi semakin ramai. Bermain dan berkumpul. Ada juga yang saling mengejar. Tawa riang serta teriakan dan candaan khas mengisi sore itu. Menutup sore hari yang cerah. (fin/tgr)

Baca Juga

Cara Wanita Tangerang Hadapi Krisis Pangan Lewat Kebun Mandiri

TANGERANG - Tetap bertahan di tengah pagebluk korona bukan hal mudah. Bagi mereka para pekerja, banyak yang kena PHK. Bagi yang usaha dagang, sebagian...

Tabur Bunga di Makam Eyang, Rahayu Saraswati Tuliskan Puisi

TANGERANG - Pagi tadi, Senin (17/8) bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo melakukan tabur bunga di makam kedua eyangnya di TMP Taruna,...

Dari Kain Tenun Berantai Kaif Nunkolo sampai Busana Teluk Belangga

JAKARTA – Kesederhaanaan namun menawan, begitu tercermin dalam upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2020 di Istana Merdeka, Jakarta pada Senin (17/8). Suasana...

Inilah Wajah-Wajah Tim Sabang, Pasukan Pengibar Bendera

JAKARTA - Tiga anggota Paskibraka Nasional 2020 telah ditugaskan untuk mengibarkan Sang Merah Putih di halaman Istana Merdeka pada Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik...

Di Masjid Mahmuddah, Warga Ahmadiyah Tangerang Berbagi Berkah

TANGERANG- Kumandang azan ashar menggema dari speaker Masjid Mahmuddah. Seruan untuk melaksanakan ibadah. Dari gerbang yang sempit, belasan jamaah mulai memasuki pelataran parkir masjid...

Berita Terbaru

Penerimaan Pajak Bisa Tergerus

MAKASSAR - Banyak insentif diberikan pemerintah melalui UU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Secara otomatis akan ikut menggerus penerimaan pajak. Kepala Bidang P2 Humas Kanwil...

Hujan Sepekan, Muncul Ttitik Longsor di Lima Kecamatan

WONOSOBO - Pemkab wonosobo melalui BPBD akan kembali mengaktifkan tim relawan bencana tingkat kecamatan, menyusul cuaca ekstrim seiring datangnya musim penghujan tahun ini. Pasalnya...

Luqman Hakim: Jika Negara Tempatkan Diri sebagai Musuh Rakyat, Maka Tunggu Janji Allah

JAKARTA- Lembaga Indikator Politik merilis hasil survei terkait pendapat masyarakat soal kebebasan mengeluarkan pendapat di era Presiden Joko Widodo. Hasilnya, mayoritas responden mengaku takut...

Modus Ganjal ATM, Gasak Uang Puluhan Juta Rupiah

METRO - Satreskrim Polres Kota Metro kembali mengamankan satu orang tersangka tindak kejahatan dengan modus mengganjal mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Pelaku berinisial R...

Dayeuhluhur Kembali Diterjang Longsor

DAYEUHLUHUR - Hujan deras masih terus menebar ancaman bagi warga Kecamatan Dayeuhluhur. Setelah awal pekan ada 1 rumah warga rusak ringan dan 1 terancam,...

Nusantara

Hujan Sepekan, Muncul Ttitik Longsor di Lima Kecamatan

WONOSOBO - Pemkab wonosobo melalui BPBD akan kembali mengaktifkan tim relawan bencana tingkat kecamatan, menyusul cuaca ekstrim seiring datangnya musim penghujan tahun ini. Pasalnya...

Dayeuhluhur Kembali Diterjang Longsor

DAYEUHLUHUR - Hujan deras masih terus menebar ancaman bagi warga Kecamatan Dayeuhluhur. Setelah awal pekan ada 1 rumah warga rusak ringan dan 1 terancam,...

News

Luqman Hakim: Jika Negara Tempatkan Diri sebagai Musuh Rakyat, Maka Tunggu Janji Allah

JAKARTA- Lembaga Indikator Politik merilis hasil survei terkait pendapat masyarakat soal kebebasan mengeluarkan pendapat di era Presiden Joko Widodo. Hasilnya, mayoritas responden mengaku takut...

Bupati Hadiri di Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PN Cikarang

BEKASI - Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja menghadiri acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Pengadilan Negeri Cikarang Kelas II pada Jumat (23/10). Acara ini...

DPPA APBD Kabupaten Bekasi Tahun 2020 Resmi Disahkan

BEKASI - Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran (DPPA) APBD Kabupaten Bekasi Tahun 2020 ini, akhirnya disahkan. Dalam prosesi pengesahan itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bekasi,...

Inilah Wajah-Wajah Tim Sabang, Pasukan Pengibar Bendera

JAKARTA - Tiga anggota Paskibraka Nasional 2020 telah ditugaskan untuk mengibarkan Sang Merah Putih di halaman Istana Merdeka pada Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik...

Di Masjid Mahmuddah, Warga Ahmadiyah Tangerang Berbagi Berkah

TANGERANG- Kumandang azan ashar menggema dari speaker Masjid Mahmuddah. Seruan untuk melaksanakan ibadah. Dari gerbang yang sempit, belasan jamaah mulai memasuki pelataran parkir masjid...

Ini Cerita Komika di Tengah Wabah yang Kian Menggeliat

JAKARTA - Pandemi Covid-19 membuat beberapa sektor terdampak sehingga aktivitas serba dibatasi. Segala jenis pembatasan itu tentunya semata-mata bertujuan untuk mencegah penyebaran virus corona...

Pasien Covid-19, Santap Ikan Ambon Manise

JAKARTA - Makanan sehat adalah sebaik-baiknya obat. Di saat vaksin ataupun obat Covid-19 belum lagi ditemukan, maka makan makanan sehat adalah–salah satu— cara terbaik...