SDGs: Upaya Mencapai Target dalam Situasi Pasca Pandemi Covid-19

Oleh: Fahmi Prayoga

 SAMPAI detik ini, kita masih menghadapi pandemi yang telah mempengaruhi seluruh lini kehidupan penduduk di muka bumi. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang sudah diluncurkan pada Sidang Umum PBB pada September 2015 pun tak luput dari efek Covid-19 ini. Profesor dari New York University, William Esterly membuat statement sindiran dengan menyebut SDGs sebagai “senseless, dreamy, garbled”. Yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih bermakna bahwa SDGs adalah sebuah angan-angan belaka, tidak masuk akal, dan kacau.

Komitmen terhadap pencapaian SDGs sudah sepatutnya menjadi perhatian bersama. Sebuah studi Bank Dunia (2019) menunjukkan bahwa 31 persen dari “knowledge products” yang juga termasuk untuk rencana aksi SDG, tidak pernah diunduh, dan 87 persen tidak pernah dikutip. Di Indonesia, masih belum semua provinsi memiliki rencana aksi daerah untuk memenuhi SDGs, apalagi mengintegrasikannya dengan rencana pembangunan jangka menengah dan panjang daerah. Di tingkat nasional pun, beberapa target juga belum ditetapkan.

Hadirnya pandemi saat ini akan memperlambat upaya negara-negara di dunia untuk meraih capaian target SDG-nya. Hampir semua tujuan akan terpengaruh, baik langsung maupun tidak langsung. Mengingat bahwa setiap tujuan tidak berdiri sendiri, namun saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

Covid-19 berdampak pada kesehatan, ekonomi, pendidikan, pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, lingkungan, perubahan iklim, dan masalah lain yang akan ditangani di bawah agenda SDG. Simulasi cepat oleh Andi Sumner et al. (2020) di 138 negara berkembang dan 26 negara maju menunjukkan bahwa bahkan dalam skenario sedang, Covid-19 telah menambah populasi miskin sebanyak 85 juta orang. Sedangkan SMERU Research Institute menemukan sekitar 8,5 juta orang Indonesia akan jatuh miskin akibat pandemi tersebut.

Namun, pandemi bukanlah alasan untuk menghentikan upaya pencapaian target SDGs pada tahun 2030. Covid-19 justru menawarkan peluang bagi kita untuk berbuat lebih banyak guna memenuhi tujuan tersebut. Pertama, krisis kesehatan telah mengajari kita bagaimana menjalani hidup sehat, merawat dan berbagi dengan orang lain – pola pikir baru yang paling kita perlukan untuk mencapai target SDG.

Bangkitnya kerja sama global dan penguatan pengambilan keputusan berbasis sains merupakan dampak lain yang timbul dari Covid-19, yang keduanya memberikan peluang ideal bagi negara untuk mencapai target SDGs mereka. Selain itu, pandemi juga membuktikan bahwa setiap orang setara. Covid-19 menyerang muda dan tua, kaya dan miskin, pria dan wanita; pandemi telah menempatkan kita semua pada posisi yang sama.

Pertanyaannya adalah: Bagaimana nasib SDGs pasca pandemi ini? Perlu kiranya dilakukan identifikasi kebijakan dan perencanaan yang tepat untuk dapat mencapai target SDGs. Pemerintah baik pusat maupun daerah dapat memberikan prioritas pada target-target tertentu berdasarkan tingkat urgensinya. Selain itu kita semua juga perlu untuk mengembangkan pengetahuan, kapasitas, dan inovasi untuk dapat mengimplementasikan pembangunan yang berkelanjutan. (*)

 

Tentang Penulis:

Analis Kebijakan Publik

Peneliti di SmartID, Institute for Development and Governance Studies