Beranda Hukum dan Kriminal Berhasil Tangkap Djoko Tjandra, Isu Faksionalisasi Di Tubuh Polri Terbantahkan

Berhasil Tangkap Djoko Tjandra, Isu Faksionalisasi Di Tubuh Polri Terbantahkan

- Advertisement -
- Advertisement -

JAKARTA – Keberhasilan Polri menangkap pelarian terpidana kasus pengalihan hak tagih atau cesie Bank Bali, Djoko Tjandra, dinilai membantah isu yang menyebut ada faksionalisasi di tubuh Korps Bhayangkara.

Komunikolog Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan, keberadaan in group dan out group atau faksi dalam suatu organisasi sosial tak terkecuali di Kepolisian adalah suatu hal yang tak terbantahkan.

Meski demikian, dalam konteks penegakan hukum atas Djoko Tjandra, Emrus justru melihat kekompakan di internal Polri.

“Faksi atau in group dan out group dalam tinjauan sosiologi adalah hal yang tak terbantahkan di organisasi sosial. Hal itu terbentuk berdasarkan kinerja, prestasi, dan kedekatan. Dalam konteks penegakan hukum saya kira mereka harus menyatu mengabaikan ciri-ciri daripada in group out group,” kata Emrus, Jumat (31/7/2020).

Lebih lanjut, Emrus mengatakan,  sebagai lembaga yang bertugas menegakkan hukum dengan motto Promoter (Profesional, Modern dan Terbuka), adanya diksi in group dan out group dalam Kepolisian sudah harus dikesampingkan demi berjalannya penegakan hukum di Indonesia.

“Kepolisian adalah lembaga yang eksis di Undang Undang Dasar. Artinya lembaga ini tidak bisa dibubarkan meski presiden berganti. Oleh karena itu marwah daripada lembaga Kepolisian ini harus kita jaga. Seluruh anggota Polri dari tingkat terendah hingga teratas harus mengesampingkan kelompok in group atau out group,” kata Emrus.

Sebelumnya, Polri berhasil menangkap Djoko Tjandra di Malayasia pada Kamis (30/7/2020). Kabareskrim Polri Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo mengatakan, penangkapan Djoko Tjandra merupakan instruksi langsung Presiden Joko Widodo kepada Kapolri Jenderal Idham Azis.

Atas instruksi tersebut, Kapolri membentuk Tim Khusus Bareskrim untuk mencari keberadaan Djoko Tjandra yang berdasarkan penyelidikan berada di Malaysia.

Emrus menilai, keberhasilan ini tidak terlepas dari sinergitas antara Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam melacak keberadaan Djoko Tjandra. Menurutnya, dalam proses memburu pelarian terpidana suatu kasus, Polri tentu menggunakan berbagai informasi dari berbagai pihak termasuk informasi intelijen.

“Telah terjadi suatu kerjasama yang baik antara Polri dan intelijen. Polri berhasil menyimpan dan mengolah informasi yang bersifat rahasia itu sehingga bisa menangkap Djoko Tjandra,” kata Emrus. (dal/fin).

- Advertisement -

Terbaru

[300x250]