Beranda Nusantara Karaoke Bisa Bergaya, Sekolah Tidak Berdaya

Karaoke Bisa Bergaya, Sekolah Tidak Berdaya

- Advertisement -
- Advertisement -

CIHIDEUNG – Diizinkannya tempat karaoke dibuka kembali menuai reaksi di kalangan masyarakat. Dibukanya sekolah dinilai lebih penting dari tempat hiburan malam tersebut.

Hal itu diungkapkan aktivis islam dari Laskar Mujahidin Tasikmalaya, Ustaz Iri yang menyesalkan pemerintah mengizinkan tempat karaoke dibuka. Karena kontras dengan kebijakan sekolah yang belum boleh dibuka. “Kalau pun uji coba, kenapa yang diuji coba itu bukan sekolah,” ujarnya kepada Radar Tasikmalaya (Fajar Indonesia Netwok Grup), kemarin.

Selain itu, protokol kesehatan pun menurutnya lebih mudah jika dibandingkan dengan tempat karaoke. Pasalnya, anak usia pelajar lebih mudah diarahkan dengan orang dewasa, khususnya pengunjung karaoke. “Kalau pelajar disuruh pakai masker bisa lebih menurut ketimbang orang dewasa,” katanya.

Mengenai ekonomi pun, sekolah memberikan dampak ekonomi yang lebih besar kepada masyarakat kecil. Karena sekolah bukan hanya melibatkan siswa dan guru saja, tetapi ada pedagang jajanan, kantin serta angkutan yang jelas lebih membutuhkan dukungan perekonomian.

“Jangan sampai pilih kasih, ekonomi masyarakat kecil pun harus didukung,” terangnya.

Secara sosial pun, nilai manfaat dari sekolah jauh lebih besar dibandingkan tempat hiburan malam. Maka dari itu, menurutnya kebijakan pemerintah ini terbilang kacau. “Apakah mungkin pengunjung karaoke bisa menjaga jarak?,” terangnya.

Ketua Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Kota Tasikmalaya, Asep Rizal Asyari mengaku kecewa dengan dibukanya tempat karaoke. Karena di sisi lain pemerintah belum memperbolehkan sekolah dibuka. “Jelas kecewa di mana pengusaha karaoke bisa bergaya sementara dunia pendidikan (sekolah, Red) tidak berdaya,” ujarnya.

Ruang hiburan tidak bisa dipungkiri sangat dibutuhkan oleh semua masyarakat. Akan tetapi, banyak sektor hiburan selain tempat karaoke. “Kalau hiburannya mau karaoke, kan bisa di rumah,” ujarnya.

Pembukaan tempat karaoke yang statusnya uji coba itu pun menurutnya sangat konyol. Karena itu menunjukkan pemerintah berani menghadapi ketika muncul klaster tempat karaoke. “Pemerintah sendiri yang bilang Covid-19 bukan ajang coba-coba,” katanya.

Sejurus dengan itu, Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) MI Kota Tasikmalaya, Arip Rifandi juga menyayangkan pemerintah yang sudah membuka tempat karaoke. Karena sekolah lebih harus diperhatikan ketimbang tempat hiburan. “Sekolah seharusnya lebih diprioritaskan karena pendidikan daring tidak efektif dalam mendidik anak,” ujarnya.

Pihaknya bukan tidak setuju dengan kebijakan pemerintah membolehkan tempat hiburan dibuka. Namun harusnya sekolah pun bisa dibuka karena di sekolah pun protokol kesehatan bisa diterapkan. “Harapan kami kebijakannya bisa lebih adil, harusnya sekolah pun dibuka dengan protokol kesehatan,” pungkasnya. (rga)

- Advertisement -

Terbaru

[300x250]